Cakrawala

Makna Intrinsik dan Instrumental Salat (Bagian 1)

Written by Panji Masyarakat

Salat merupakan “kapsul” keseluruhan ajara dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan.

Salat merupakan kewajiban peribadatan formal yang paling penting dalam sistem keagamaan Islam. Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita menegakkan salat, dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena salatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan.

Sebuah hadis Nabi s.a.w.,  seperti dikutip Muhammad Mahmud ash-Shawwaf  dalam kitabnya Ta’limish Shalah, menegaskn bahwa “yang pertama kali akan diperhitungkan tentang seorang hamba pada hari Kiamat adalah salat; jika baik maka baik pulalah seluruh amalnya, dan jika rusak maka rusak pulalah seluruh amalnya.” Dan sabda beliau lagi, “Pangkal segala perkara adalah al-Islam (sikap pasrah kpada Allah), tulang penyangganya salat, dan puncak tertingginya ialah perjuangan di jalan Allah.”

Karena demikian banyaknya penegasan tentang pentingnya salat yang kita dapatkan dalam sumber-sumber agama, tentu sepatutnya kita memhami makna  salat itu sebaik mungkin. Dari berbagai penegasan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa agaknya salat merupakan “kapsul” keseluruhan ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan.

Dalam salat itu kita mendapat keinsafan akan tujuan akhir hidup kita, yaitu penghambaan diri (‘badah) kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan melalui salat kita memperoleh pendidikan pengikatan pribadi atau komitmen kepada nilai-nilai hidup yang luhur.

Kedua makna itu dilambangkan dengan keseluruhan salat, baik dalam bacaan maupun dalam tingkah lakunya. Secara ilmu fikih, salat dirumuskan sebagai “ibadah kepada Allah dan pengagungannya dengan bacaan-bacaan dan tindakan-tindakan tertentu, yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan taslim, dengan runtutan dan tertib tertentu dan diterapkan oleh agama Islam.”

Takbir pembuka salat itu dinamakan “takbir ihram” (takbiratul ihram), yang mengandung arti  “takbir yang mengharamkan”, yakni mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak ada kaitannya dengan salat sebagai peristiwa menghadap Tuhan. Takbir pembukaan itu seakan suatu pernyataan formal seorang hamba  yang membuka hubungan diri dengan Tuhan (hablum minallah) dan mengharamkan atau memutuskan diri dari semua bentuk hubungan dengan manusia, hablun minan-nas. (Bersambung).  

Penulis Nurcholish Madjid (Sumber: Panjimas, Oktober 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • Hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat