Hamka

Tanggung Jawab Angkatan Muda Islam (Bagian 2)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Sesudah itu dapatlah kita mengikuti jalan sejarah, bagaimana berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di seluruh tanah air kita yang luas ini, baik di Semenanjung Melayu, ataupun di Sumatera, ataupun di Jawa, ataupun Makassar sehingga rencana Alfonso d’Albuquerque yang hendak memutuskan hubungan kita dengan Mekah dan Kairo gagal. Berturut-turut timbul kerajaan Johor pengganti Malaka, Aceh, Demak dan kemudian dilanjutkan dengan Pajang dan Mataram, Banten dan sampai ke Maluku dengan berdirinya empat kerajaan Islam yaitu Ternate, Bacan, Tidore dan Jailolo.

Selama abad ke 17-18, kayalah tanah air kita ini dengan sejarah pahlawan-pahlawan Islam, baik raja-raja ataupun ulama-ulama. Bahkan sampai kepada akhir abad ke-19, masih tetap ada perlawanan menentang penjajahan.

Meskipun mereka telah kalah dari segi materi,  dari segi taktik perang ataupun perlengkapan senjata, mereka masih saja melawan. Kadang diadu ayah dengan anak, sebagai peperangan Sultan ageng Tirtayasa yang hendak menegakkan Banten merdeka, berperang dengan putra kandungnya, Sultan Haji, yang didukung Belanda. Kayalah Indonesia dengan nama-nama pahlawan, sejak dari Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Aceh, Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram yang mencoba merebut kembali Jakarta (Batavia) dari tangan Belanda, meskpun tak berhasil. Sultan Hasanudin Makasar yang bergelar Ayam Jantan dari Timur. Demikian pula pahlawan besar dari Dua Negeri, Raja Haji yang berasal dari Bugis menjadi Raja Muda di Riau, mencoba merebut Malaka dari Belanda, lalu tewas, syahid fi sabilillah di Teluk Ketapang. Lalu juga Sultan Khairun dan Sultan Babullah, Trnojoyo, Kraeng Galesong dan Surapati. Kemudian datangzaman Diponegoro, Tuaku Imam Bonjol, Teuku Umar Johan Pahlawan, Tengku Cik Di Tiro, Panglima Polim dan lain-lain. Malahan dalam perjuangan Sisingamangaraja, berdustalah kita kepada sejarah kalau kita pungkiri betapa besar pengaruh Islam dari Aceh atas kebangkitan beliau. Malahan pahlawan Pattimura di Ambon,berdustalah kita kepada sejarah kalau kita tinggalkan gurunya Said Partintah dari Saparua, seorang ulama keturunan Arab.

Seorang politikus negarawan dan lambang imperalisme yang besar di akhir abad ke-19, Gladstone (1809-1898), pernah mengungkapkan apa yang terasa dalam hati kaum penjajah terhadap kaum muslimin yang di mana-mana masih siap melawan. Beliau pegang sebuah kitab suci Alquran dan berkata, “Selama kitab ini masih saja dibaca oleh orang Islam itu, selama itu pula mereka masih melawan kita.”

Dan kemudian setelah segala bedil dan meriam telah dibungkamkan dan setiap tanah air kita telah dijajah, yang muai bangkit sebagai permulaan dari gerakan teratur secara baru ialah gerakan haji-haji.

Haji Samanhudi yang mendirikan Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905, dan kemudian pimpinan diteruskan lagi pada tahun 1911 oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Dan dilanjutkan pada tahun 1912 oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah.

Di Kamang (Bukittinggi) pada tahun 1908 terjadi pemberontakan melawan Belanda di bawah pimpinan Haji Abdul Manan. Jika dipandang dari segi penjajahan Barat, benarlah apa yang dikatakan Gladstone itu, bahwa selama kitab Alquran ini masih dibaca orang Islam, selama itu pula mereka akan melawan.

Sejarah inilah yang perlu dijaga oleh pemuda-pemuda Islam. Jangan mereka putus dari sejarah itu. Karena di mana-mana di dunia inidi zaman sekarang, terutama setelah beberapa negeri Islam merdeka dari penjajahan, orang bekerja keras, bergiat siang dan malam mengusahakan supaya instruksi (perintah) Gladstone dapat dijalankan terus. Yaitu memutuskan orang Islam dari Alquran. Dan kalau itu sudah putus,  umat Islam sudah tidak ada lagi cepat atau lambat. Sebagaimana tidak adanya kebudayaan Mesir kuno dan Yunani kuno. Diusahakan hilang kepribadiannya supaya mudah jadi satelit (kroni) dari bangsa lain yang esar, tempat berutang uang dan berutang budi. Inilah yang terjadi pada bangsa Indonesia sekarang ini.***

Sumber:  Hamka, Dari Hati Ke Hati, Tentang Agama, Sosial-Budaya, Politik (2002)      

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda