Mutiara

Nasionalisme ala A.R. Baswedan

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Pejuang kemerdekaan dan nasionalis keturunan Arab ini  sampai akhir hayatnya tidak punya rumah. Mengapa ia akhirnya memilih jalur budaya?

Abdul Rahman Baswedan,  atau  lebih pouler  A.R. Baswedan, adalah nasionalis keturunan Arab-Hadramaut dan  pejuang kemerdekaan. Pendiri Partai Arab Indonesia (PAI) ini juga dikenal sebagai  wartawan dan sastrawan, dan sempat pula aktif di dunia politik setelah masa kemerdekaan. Sebagai orang yang berprofesi wartawan, Soebagio I.N. , dalam buku Jagat Wartawan, memasukkan namanya sebagai salah seorang dari 111 perintis pers nasional yang tangguh dan berdedikasi.

Tahun 1934, melalui tulisannya di Harian Matahari Semarang, A.R. Baswedan menyerukan pada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Ia mengajak keturunan Arab, untuk menganut asas kewarganegaraan ius soli, di mana saya lahir, di situlah tanah airku. Pada 1934 itulah, setelah pemuatan artikel yang menghebohkan, ia mengumpulkan para peranakan Arab di Semarang. Dalam kongres para pemuda perananakan Arab tersebut dikumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang menyatakan Indonesia sebagai tanah air dan akan berjuang untuk mendukung tercapainya kemerdekaan Indonesia. Pada tahun ini pula  ia mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI).  

A.R. Baswedan melawan diskriminasi yang diciptakan pemerintah kolonial, dan karena itu sangat antipenjajahan. Ia  membaur dengan penduduk pribumi, dan tidak membedakan ras ataupun agama. Menurut dia,  konsep nasionalisme tidak dapat dipisahkan dari istilah bangsa. Antara nasionalisme dan bangsa merupakan suatu gejala sosio-politis yang penting. Nasionalisme yang tumbuh dari suatu bangsa merupakan gejala sosial yang pada akhirnya bermuara pada negara nasional, sedangkan bangsa terlahir dari rakyat. Nasionalisme yang dinut A.R. Baswedan, menurut sejarawan Sartono Kartodirdjo, mengandung unsur-unsur kesatuan (unity), kebebasan (liberty), kesamaan (equality), kepribadian (personality), dan perbuatan (performance). Kaitan antara nasionalismenya dengan nasionalisme Indonesia dapat dilihat dalam beberapa hal. Pertama, kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Kedua, kesadaran bersama bangsa Indonesia dalam menghapuskan segala bentuk penjajahan dan penindasan dari bumi Indonesia.

Bersama dengan Agus Salim

Pada masa pendudukan Jepang, A.R. Baswedan memutuskan bergerak di bawah tanah. Ia menggabungkan diri dengan kelompok pemuda di sekitar Sutan Sjahrir. Pekerjaan mereka memantau radio siaran luar negeri, tugas yang beresiko tinggi karena semua radio disegel tentara Jepang. Menjelang kemerdekaan, A.R. Baswedan  menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Setelah Proklamasi ia dipilih menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Pada tahun 1946, ia juga terpilih menjadi Menteri Muda Penerangan, yang ketika itu Menteri Penerangannya adalah Muhammad Natsir (Kabinet Sjahrir). Pada tahun 1950, ia mulai mengenal Natsir dengan baik. Perkenalan ini kemudian membuat Baswedan tertarik masuk Masyumi dikarenakan pribadi Natsir. Pada tahun 1955, ia diangkat menjadi Anggota Konstituante dan pada tahun berikutnya, 1956, ia pun menjadi pimpinan Partai Masyumi.

Ketika Masyumi dibubarkan, Baswedan memilih bergerak di jalur budaya. Ia mendirikan Badan Koordinasi Kebudayaan Islam Yogyakarta dan menjadi pelindung Teater Muslim. Mereka mementaskan drama Iblis tentang kisah Nabi Ibrahim, yang waktu itu tergolong kontroversial. Para seniman  Arifin C. Noer, Abdul Rahman Saleh, Taufiq Effendi,  Chaerul Umam, Anak Baldjun, Syu’bah Asa bergabung bersamanya. Ia ikut membantu Rendra, ketika mementaskan Kasidah Barzanji, terjemahan Syu’bah Asa, yang juga dikenal pegiat teater sebelum jadi wartawan dan penulis tafsir. Ia juga merupakan mentor dan kawan berdiskusi para aktivis  HMI Yogyakarta seperti Djohan Effendi dan Ahmad Wahib, M. Dawam Rahardjo,  yang kelak dikenal sebgai tokoh pembaruan pemikiran Indonesia, di samping Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid.   A.R.  Baswedan termasuk penulis produktif menulis. Selain laporan  jurnalistik ia juga melahirkan karya fiksi.  Bukunya  yang pernah diterbitkan antara lain Debat Sekeliling PAI (1939), Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab (1934), Rumah Tangga Rasulullah (1940), dan Menuju Masyarakat Baru, sebuah cerita tonil dalam lima bagian.

A.R. Baswedan  lahir di Ampel, Surabaya, Jawa Timur,  pada 9 September 1908.  Ia menikah dengan Sjaichun. Pada 1948 Sjaichun meninggal dunia di Surakarta karena serangan malaria .Tahun 1950 A.R. Baswedan menikah lagi dengan Barkah Ganis, seorang tokoh pergerakan perempuan, di rumah K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Mohammad Natsir bertindak sebagai wali dan menikahkan mereka. Ia dikarunia 11 anak dan 45 cucu. Hidup A.R. Baswedan tergolong sangat sederhana. Sampai akhir hayatnya, ia tidak memiliki rumah. Bersama keluarganya ia menempati rumah pinjaman di dalam Kompleks Taman Yuwono di Yogyakarta, sebuah rumah yang dipinjamkan oleh Haji Bilal untuk para pejuang revolusi saat ibukota di RI berada di Yogyakarta. Mobil yang dimilikinya adalah hadiah ulang tahun ke-72 dari sahabatnya Adam Malik , saat menjabat Wakil Presiden. Kakek Gubernur Jakarta Anies Baswedan ini  wafat pada akhir  Februari 1986 dan dikebumikan  di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda