Tasawuf

Kehebatan Sekaligus Kelemahan Syiar Islam

Kaum muslim di pedesaan (foto : Khairul Ma'arif/Pixabay.com)
Ditulis oleh B.Wiwoho

Pak Haji yang tidak ramah, yang tidak akrab dan tidak menaruh kasih sayang terhadap anak-anak, serta citra Islam yang cenderung menyelesaikan masalah dengan pedang dan darah, entah dari mana asal muasalnya, tiba-tiba sudah menjadi cetak biru pandangan dan pemikiran kami anak-anak di tahun 1950an. Apalagi tatkala menerima bentakan keras bapak guru agama Islam yang tidak bersedia pembicaraannya saya sela dengan pertanyaan. Lebih-lebih pula setiap melihat wajah “galak” pak Haji di sebelah rumah saudara sepupu saya.

Sementara itu saya sering iri melihat Romo Pastur dan Suster di sekolah Katholik, pasturan dan susteran, dengan mukanya yang teduh dan ceria, asyik bermain dengan kanak-kanak. Demikian pula pak Pendeta Kristen Protestan yang senang bercerita, bermain dan bernyanyi di Sekolah Minggu di balai pertemuan pabrik gula Trangkil, Pati, yang sering saya lihat dan dengarkan sambil bermain-main sendirian di halaman balai tersebut. Dalam hati saya menuntut, se­harus­­nya pak guru agama Islam di sekolah, pak Kyai dan terutama pak Haji harus pandai, ramah, baik dan menyayangi anak-anak kecil seperti Pastur dan Pendeta tadi.

Di belakang hari saya baru mengetahui bahwa gelar haji ternyata bukanlah jaminan  keikhlasan dan kepandaian berdakwah. Dari gelar haji, kyai dan ustadz tidak serta-merta dapat dituntut bersikap dan berperilaku sebagaimana pastur dan pendeta yang telah melewati jenjang sekolah tinggi dengan berbagai mata pelajaran tentang ilmu pendidikan, psikologi, sosiologi dan komunikasi termasuk cara berdakwah dan berceramah secara santun dan lembut.

Sementara itu gelar panggilan para guru agama kita, para ustadz dan kyai, tidaklah wajib memenuhi syarat pendidikan sekolah tinggi formal yang ketat sebagaimana para pastur dan pendeta. Guru mengaji Al Quran anak-anak di rumah entah apa pendidikannya, sudah bisa kita panggil ustadz atau guru. Kenalan yang fasih baca doa sudah bisa dipanggil Kyai. Beberapa kenalan pegawai negeri yang penghasilan resminya rendah, namun kaya dan sudah menunaikan ibadah haji, dipanggil Pak Haji. Inilah kehebatan tapi sekaligus kelemahan syiar Islam, semuanya diserahkan dan menjadi tanggungjawab individu masing-masing pemeluknya.

Subhaanallaah, maasyaa-Allahu la quwwata illaa billaah.

(Dari kumpulan tulisan ”Orang Jawa Mencari Gusti Allah”)

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda