Mutiara

Mengatur Dunia

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Aturlah duniamu seperti orang yang mengelola dagangannya agar bisa makan dari hasil yang baik dan halal, mampu bersedekah, bisa bersilaturahim, menjaga diri agar tidak mengemis, dan menjaga kehormatan.

Dari Jabir r.a. Seseorang datang kepada Rasulullah s.a.w., membawa segenggam emas. “Ya, Rasulallah, saya lihat, ini barang tambang,” katanya. “Ambillah sebagai sedekah. Saya tidak punya apa-apa kecuali ini.”

Nabi menolak. Tapi orang itu datang lagi dari samping kanan beliau, dan mengulangi ucapannya. Tetapi ditolak.  Ia lalu datang dari samping kiri. Dan setelah ditolak pula, ia datang dari belakang. Nabi pun mengambil barang itu. “Kalau kena, pasti sakit,’ kata beliau, seraya melemparkannya ke arah orang tadi.

Berikut ini adalah komentar Nabi atas insiden itu. “Seseorang dari kalian datang kepadaku, membawa barang miliknya, dan berkata, ‘Ini sedekah.’ Namun , kemudian duduk bersila dan meminta-minta kepada manusia. Sebaik-baik sedekah adalah harta yang berlebih.” (Hadis riwayat Abu Dawud).

Lain lagi yang dikisahkan Umar ibn Khathhab r.a. “Nabi menganjurkan kami bersedekah,” kata Umar. “Aku pun menyedekahkan yang kumiliki. Aku berkata, dalam hati, hari ini aku melampaui Abu Bakr. Dulu, dia bersedekah lebih banyak dariku, sekarang aku membawa separo dari hartaku.”

“Apa yang kautinggalkan untuk keluargamu?”’ tanya Nabi, seperti ditirukan Umar.

“Sejumlah ini juga, “jawabnya.

Tak berapa lama, Abu Bakr r.a. datang membawa hartanya.

“Apa yang Saudara tinggalkan untuk keluarga?”  tanya Nabi pula.

“Aku tinggalkan mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Atas kejadian itu Umar berkomentar: “Sedikit pun aku tidak bisa melampaui Anda,  Abu Bakr.”

Kasus Abu Bakr tentulah pengecualian. Nabi paham benar kualitas pribadi sahabat yang kelak menjadi khalifah alias penggantinya itu.

Tapi Allah dan Rasul-Nya memang mencela sifat bakhil, selain tamak, yang kedua-duanya merupakan anasir penyakit cinta harta.

Syahdan, Yahya ibn Zakariya a.s. bertemu iblis yang menyaru sebagai manusia.

“Beri tahu aku orang yang paling kamu benci dan yang paling kamu sukai,” kata Yahya.

“Orang yang paling aku sukai mukmin yang bakhil. Sedangkan yang paling kubenci adalah orang fasik yang bermurah hati.”

“Mengapa?” tanya Nabi Yahya.

“Orang yang bakhil, bagi saya, kebakhilannya sudah cukup. Adapun orang fasik yang dermawan, aku masih khawatir kalau-kalau Allah memperlihatkan kedermawanan-Nya dan menerimanya, kemudian mengangkatnya.”

Lalu, katanya, “Sekiranya engkau bukan Yahya, tidak mungkin aku memberitahu kamu.”

Kata Imam Al-Ghazali,  yang mengangkat cerita itu dalam Al-Ihya’: “Sekiranya tahu akan mati besok, boleh  jadi manusia tidak bakhil mengeluarkan hartanya.”

(Dan belanjakanlah sebagian dari yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada siapa saja di ataramu; lalu ia berkata, ‘Ya, Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan 9kemtian)-ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan menjadi orang yang salih?’ Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang bila tiba ajalnya. Q. 63: 10-11).

Al-Ghazali mengatakan, bakhil adalah menahan harta yang wajib dibelanjakan. Sedangkan boros membelanjakan harta yang wajib ditahan.

Bahkan kikir terhadap diri sendiri pun merupakan sikap tercela. Karena itu Nabi melarang gaya hidup yang menyengsarakan diri itu. “Tiga hal yang menyebabkan kehancuran: kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan kebanggaan kepada diri sendiri.” (H.r. Thabrani).

“Kau punya harta?” Nabi pernah bertaanya kepada seseorang yang compang-camping.

“Ya, Rasulullah,” jawab orang itu.

“Dari mana?”

“Dari rezeki Allah.”

“Kalau kamu mendapat rezeki Allah, tampakanlah rezeki itu. Tampakanlah kemuliaan Allah  pada dirimu.”

Tapi ada juga sabda yang menyatakan, “Tidak akan masuk surga orang yang  pada dirinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”

“Manusia senang kalau pakaiannya rapi dan terompahnya bagus,” berkata seseorang mengenai hal itu.

Jawab Nabi:  “Sesungguhnya Allah indah dan senang keindahan. Kesombongan adalah sifat yang menolak kebenaran dan meremehkan oang lain.”Alhasil, orang kudu piawai mengatur dunianya. Dan, menurut Ibn ‘Athaillah as-Sakandari, ada dua macam cara me-manage harta itu. Yakni, mengatur dunia untuk dunia semata, dan mengatur dunia untuk akhirat. Yang pertama adalah merancang cara mengumpulkan dunia dengan rasa bangga dan cinta. Sedangkan yang kedua seperti orang yang mengelola dagangannya agar bisa makan dari hasil yang baik dan halal, mampu bersedekah, bisa bersilaturahim, menjaga diri agar tidak mengemis, dan menjaga kehormatan. “Tidak semua pencari dunia tercela dan mendapat murka. Yangtercela adalah kalau sesorang sibuk  dengan dunia sehingga melupakan akhirat. Akhirnya ia menjadi budak dan pelayan dunia

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda