Tasawuf

Islam di Mata Anak Priyayi Jawa Tempo Dulu

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Ini cerita apa adanya. Kesan yang mungkin salah tetapi jujur. Saya sendiri tidak tahu atau tidak ingat lagi siapa yang mengajarkan, siapa yang menanam benih prasangka buruk dalam benak saya dan juga benak kawan-kawan sepermainan, anak-anak Jawa Abangan, anak-anak priyayi Jawa. Kalau saya berkisah secara apa adanya, tolong jangan tersinggung. Sebab Islam di mata kami anak-anak Jawa Abangan pada masa itu, identik dengan jorok, kawin cerai, tidak ramah dan tidak kasih terhadap anak kecil, tidak memiliki jati diri bangsanya dan cenderung menyelesaikan masalah dengan pedang dan darah. Astaghfirullahal ‘azhiim.

Masih terbayang, pengalaman saya bermain ke beberapa pesantren pada dasawarsa 1950-an, yaitu lebih dari 4 abad setelah Sunan Bonang wafat (diperkirakan tahun 1525). Pondok-pondok bambu yang sangat sederhana dan kumuh. Fasilitas mandi, cuci dan kakus yang ala kadarnya dengan bau kotoran yang menyengat. Kolam berwudu di masjid yang keruh, tempat para santri berjongkok atau membungkuk, mencelupkan tangannya ke dalam kolam atau bak air, mencuci tangan, berkumur, kecipak-kecipuk dan seterusnya sampai membasuh dan mencuci kaki dengan air yang sama, dari kolam, di dalam kolam, kembali lagi ke kolam yang sama. Waktu itu maaf, merinding jijik bulu kuduk saya.

Empat dasawarsa kemudian, saya pun masih menjumpai hal seperti itu. Pada 1992, misalnya, saya mengurungkan dan menunda salat magrib dalam perjalanan di Sukabumi karena kolam wudunya sekaligus adalah empang, di tempat mana air hujan yang waktu itu jatuh ke tanah, keruh mengalir ke dalamnya. Di rumah Gusti Allah yang amat sangat sederhana, gelap lagi pengap itu, saya bersimpuh. Berbeda dengan masa kanak-kanak, kini saya terhempas sedih menyaksikan kebodohan, keterbelakangan dan kemelaratan saudara-saudara seiman. Saya lakukan sujud syukur tanpa berwudu, kemudian duduk tafakur, merenungkan keadaan. Adapun salat magrib saya jamak di rumah. Saya bersyukur telah dikaruniai iman Islam. Bersyukur dikaruniai kepedulian dengan keterharuan dan rasa sedih sekaligus terhadap keterbelakangan saudara-saudara saya seiman.

Beberapa waktu kemudian, tatkala pengalaman di atas saya ceritakan dalam rapat Yayasan Amanah Umat yang dihadari antara lain K.H.Hasan Basri, Drs.Lukman Harun, Dr.Quraish Shihab dan Kyai Ali Yafie, seperti gayung bersambut, beliau-beliau juga menceritakan hal yang sama. Maka hari itu kami sepakat untuk membuat program percontohan kamar mandi, kamar buang air kecil dan besar serta sarana berwudhu yang bersih sehat di mesjid dan musholla terutama di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Bekas-Tangerang, yang langsung dipimpin oleh Uda Lukman Harun (alm).

Tentang kawin cerai, semenjak kanak-kanak bahkan sampai sekarang masih suka mendengar, kawan-kawan dari agama lain, terutama dari suku bukan Jawa dan bukan Islam, mengolok-olok teman atau saudara wanitanya agar jangan berpacaran apalagi menikah dengan orang Islam. Sebab nanti gampang dimadu atau dicerai.

Di mata priyayi Jawa, pasangan suami istri selalu didambakan hidup rukun sampai tua renta, sampai aki-nini, sampai kakek-kakek nenek-nenek, bagaikan mimi dan mintuna. Mimi dan mintuna adalah sepasang binatang laut sejenis ketam (Limulus molusceanus) tapi sekilas seperti kura-kura kecil yang sering ditemukan dalam keadaan menempel satu sama lain, ke mana-mana senantiasa berenang berpasangan. Hanya kematianlah yang dapat memisahkannya. Sedemikian besar dambaan hidup berumahtangga, sehingga tamsil mimi-mintuna sering disebut dalam nasihat perkawinan.

Memang raja-raja Jawa juga dikenal beristri lebih dari satu, namun itu adalah pengecualian yang tidak boleh ditiru orang lain. Oleh sebab itu jika ada orang yang mudah kawin cerai atau memiliki istri lebih dari satu apalagi sampai empat, sering menjadi bahan olok-olok. Demikian pula suami istri yang sering bertengkar dan rumahtangganya panas, kecuali bagi anak kandungnya sendiri, diusahakan untuk tidak terlibat dalam upacara pernikahan, agar aura dan pengaruh buruknya tidak menular ke pasangan pengantin baru. Naudzubillahi mindzalik .

Penulis : B. Wiwoho

(Dari kumpulan tulisan Orang Jawa Mencari Gusti Allah).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda