Tasawuf

Zikir Penenteram Kalbu (Bagian 6)

Written by Panji Masyarakat

Biasakan berkhalwat;  secara fisik, dan secara batin. Yang paling mudah adalah khalwat secara fisik. Kita mengumpulkan angoa keluarga atau kerabat dekat, lalu, misalnya, satu malam saja kita mencari tempat yang betul-betul hening dan sunyi dari keramaian.

Jadi ada beberapa langkah untuk menenteramkan batin kita.Yaitu pertama, kita teap menjaga keimanan, tetap kokoh dan tetap kuat. Kalau iman kita sedang menurun, kita memperbarui terus iman kita (jaddidu imanan). Yang kedua,  lakukanlah secara tetap ibadah salat kita dan ibadah-ibadah lain yang pokok;  jangan sampai di hari-hari usia kita sudah lanjut kita tidak bisa melakukannya. Apalagi ditambah salah sunat.

Ketiga, biasakan membaca Alquran dan usahakan kita punya akses terhadap Alquran – tidak hanya di dalam salat, bacalah surah Al-Fatihah, baca surah Al-Ikhlas, di luar itu pun upayakan dengan ikhlas membaca Alquran secara intensif (tartil), atau sering kita sebut dengan tadarusan. Yang berikutnya, ada waktu zikir lisan dengan suara jelas (dzikrul jawarih) dan biasakan membasahi lidah kita dengan ucapan “subhanallah, wal-hamdulillah, allahu akbar”, biasanya setelah salat lima waktu. Setelah itu baca induk Alquran (Al-Fatihah).

Itu usahakan rutin setiap akhir salat. Walaupun sedikit, berulang-ulang dan intensif, dan tanpa ada satu halangan apa pun kita tetap berusaha mengucapkannya. Atau zikir dalam hati (dzikr khafi), tidak perlu suara keras – seperti tradisi tarekat Qadariyah dan Naqshabandiyah (TQN) di Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Semua itu bisa dilakukan seperlukanya.       

Selain zikir, ada juga yang dinamakan wirid, setelah salat – syukur-syukur selama lima waktu dilakukan zikir dan wirid. Wirid di sini biasanya ada bilangannya – seperti baca salawat – atau kita sering temui wirid itu di beberapa daerah dan beberapa tradisi majelis hakim yang berbeda-beda.

Yang terakhir, cobalah  membiasakan diri berkhalwat (‘uzlah). Di sini ada dua pengertiannya. Yang pertama secara fisik, dan kedua secara batin. Yang paling mudah adalah khalwat secara fisik. Kita mengumpulkan angoa keluarga atau kerabat dekat, lalu, misalnya, satu malam saja kita mencari tempat yang betul-betul hening dan sunyi dari keramaian. Lalu mendengarkan bacaan dan uraian Alquran, lebih khusyuk dilakukan secara bersama-sama (jamaah). Ini sangat berbeda dari kegiatan kita sehari-hari, yang banyak sekali mengandung masalah dan godaan yng bisa membuat kita stress dan pusing. (Bersambung)      


Penulis: Prof. Dr. Asep Usman Ismail, Guru Besar UIN Jakarta  (Sumber: Panjimas, Juli 2003).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda