Tasawuf

Zikir Penenteram Kalbu (Bagian 5)

Written by Panji Masyarakat

Setelah  tahu makna zikir, cobalah sekarang jangan ada kebakaran di dalam hati kita, dijaga jangan sampai asap itu terus ada, tapi alirkan air kesejukan, karena kita tidak ingin kekeringan cahaya spiritual.

Walaupun banyak orang yang pintar, kalau tidak punya karakter, eksistensi dirinya tidak akan berfungsi degan baik, karena implikasi zikirnya itu telah sirna disebabkan oleh sifat-sifat dari penyakit hati tadi. Ibarat pohon yang mungkin berhasil tumbuh menjulang,tetapi tidak diikuti dengan sumber air yang cukup, ia bisa saja berada di puncak kekuasaan dan pengembangan karier, tetapi sesudah itu dia tidak tahu apa makna hakiki kekuasaan itu. Maka manusia bukan saja dinamakan makhluk yang tercabut dari kemanusiaannya (dehumanisasi), melainkan berada dalam nilai kebinatangan, bahkan lebih dari itu. Karena itu Allah SWT mengingatkan, “Kamu jangan mengjadi orang yang lupa kepada Allah, nanti kamu lupa kepada eksistensi dirimu sendiri”. (Q. 59:19)

Lupa kepada Allah itu “tidak terhubungkan” – ibarat pohon kering yang tidak ada energi dan air yang membasahinya, yang membuat dia nyaman, segar, dan berbuah. Dalam kacamata tasawuf, orang yang lupa itu tersesat karena telah terjerumus ke lembah hitam dan menyimpang dari syariat atau sunnatullah, maka ia sebenarnya orang yang tidak punya hati nurani – sebab itu disebutlah hatinya itu sebagai, bukan nurani melainkan zhulmani. Zhulmani itu sifat manusia yang tidak konsisten dengan hatinya sendiri, sehingga cahaya nur ilahinya terlampau lemah, senergi spiritualnya kurang meningkat,  bahkan tidak ada sama sekali.

Kembali kepada masalah ketenteraman kalbu, Alquran menyebut ketenteraman dengan kata sakinah. Kata ini digunakan dua kali. Dalam surah Al-Fath ayat 4 disebutkan: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dengan demikian, jika kita sudah tahu apa makna zikir yang dimaksudkan, cobalah sekarang jangan ada kebakaran di dalam hati kita, dijaga jangan sampai asap itu terus ada, tapi alirkan air kesejukan, karena kita tidak ingin kekeringan cahaya spiritual. Nah, di sinilah makna sakinah yang dimaksudkan.     

Satu lagi kata yang digunakan Alquran untuk ketenangan kalbu ini, yaitu kata muthmainnah. Ini bisa diemukan dalam surah Ar-Ra’d ayat 28: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” Hanya dengan berzikir kepadaAllah, kalbu menjadi tenang. (Bersambung)  


Penulis: Prof. Dr. Asep Usman Ismail, Guru Besar UIN Jakarta  (Sumber: Panjimas, Juli 2003).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda