Tafsir

Tentang Berbagai-bagai Perang (yang Bisa Berulang)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Pada dasarnya Allah tidak menghendaki tindakan pengusiran, penghancuran, atau penggagahan macam apa pun kepada satu kelompok tanpa alasan yang sah.

Perangilah di jalan Allah mereka yang memerangi kamu dan jangan melanggar batas. Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batas. (Q. 2:190).

Ini ayat yang digunakan pihak-pihak yang,  dalam perang Irak beberapa tahun yang lalu, memfatwakan jihad membela negeri itu dari serangan Amerika Serikat dan para sekutu. Pihak-pihak itu antara lain Mufti Suriah, pimpinan Al-Ikwanul Muslimun Suriah, Syekh Al-Azhar, Kairo, Mufti Mesir, dan seorang ayatullah pemimpin Syi’ah yang semula secara salah dikabarkan mencegah umatnya ikut campur dalam pertikaian Amerika dan Saddam Husein.

Bisa dipahami. Toh sebagian orang masih bertanya: mengapa diperintahkan membela Irak. Padahal perang Irak bukan prang agama?

Begitulah bila orang menganggap perang agama hanya perang membela agama, atau karena alasan murni agama, atau dalam pertengkaran antara agama dan agama, atau apalagi dalam kasus penumpahan agama. Sebab dhamir mukhaththab (kata ganti orang kedua), yakni kum (kamu) dalam ayat itu, aslinya pun ditujukan (hanya) kepada Nabi s.a.w. dan para mukmin di bawah beliau, yang ditindas kaum musyrikin Mekah dan para sekutu yang memerangi mereka dengan maksud menumpas Islam. Di situlah ungkapan “di jalan Allah” (teks asli; fi sabilillah) dalam ayat di atas klop dengan motif perang itu. Sedangkan perang Irak ini berbeda.

Baiklah. Tetapi ada dua hal yang bisa luput dari pengamatan.

Yang pertama,  “di jalan Allah” itu umumnya kita anggap sebagai motif atau yang menggerakkan perang. Padahal  motif (‘illat) itu bukan di situ – melainkan “mereka yang memerangi kamu”. Jadi, kalau kita menuruti perintah “Perangilah di jalan Allah mereka yang memerangi kamu”, kita berperang bukan karena perang itu berstatus jihad fi sabilillah, melainkan karena kita diperangi orang. Lalu, tindakan kita yang membalas serangan orang lain itu berstatus fi sabilillah. Dan bahwa serangan orang itu merupakan ‘illat, lebih dijelaskan lagi oleh ayat erikut ini , yang bahkan menyebut ‘illat di situ sebagai syarat diizinkannya perang: “Diizinkan bagi mereka yang berperang, karena mereka sudah dianiaya, dan bahwa Allah untuk menolong mereka mahakuasa”. (Q. 22:39).

Apa yang “diizinkan bagi mereka”? Berperang. Itu memang tak disebutkan (makhdzuf). Bukan karena sudah disinggung dalam ayat-ayat sebelumnya, tetapi karena ayat ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang selalu saja diajukan para sahabat Nabi s.a.w. kepada beliau – yakni, kapan mereka boleh balik memerangi para penguasa kafir Mekah yang sudah mengusir mereka – setelah para sahabat itu tiba di Madinah dalam peristiwa hijrah yang besar.

Adapun yang kedua, tentang arti “jalan Allah” (sabilullah) yang jauh lebih luas dari hanya menyangkut hal-hal murni agama. Kita ketahui, umat muslimin sekarang ini sudah sangat memahaminya lewat pengalaman dalam pembagian zakat, misalnya saja, ketika ungkapan sabilillah tidak diartikan dalam kaitan dengan perang membela agama melainkan, umpamanya, dengan keperluan guru-guru madrasah, atau masjid, atau bahkan jembatan desa. Adapun ayat surah 22 di atas memang punya kelanjutan yang seolah menunjuk arti yang khusus untuk sabilillah. Yakni, ketika memberi keterangan bagaimana para mukmin itu dianiaya, disebutkan: “Merek yang diusir dari kampung halaman mereka sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami, Allah’.” (Q. 22:40).

Tetapi tidak berarti mereka yang diusir bukan karena akidah “Tuhan kami, Allah”, melainkan karena perampasan wilayah  (seperti yang dialami saudara-saudara di Paestina), dan berjuang untuk melawan tindakan itu, tidak dihitung berada dalam sabilillah. Apalagi karena pada dasarnya Allah tidak menghendaki tindakan pengusiran, penghancuran, atau penggagahan macam apa pun kepada satu kelompok tanpa alasan yang sah, dan karena itu Allah memberikan kepada setiap pihak, juga pihak-pihak dari berbagai agama yang berbeda-beda, daya bertahan, untuk memelihara diri dan memelihara lembaga-lembaga peribadatan yang sudah ditakdirkan Allah untuk dilindungi. Inilah kelanjutan ayat yang luar biasa itu: “Dan kalaulah bukan karena Allah menlak (keganasan) manusia, sebagiannya dengan yang sebagian, sudah dihancurkanlah biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid yang di dalamnya disebut nama Allah banyak sekali.” (Q. 22:40). (Bersambung).       

    Syu’bah Asa

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda