Mutiara

Saudara Dunia-Akhirat

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kecintaan seorang muslim kepada saudaranya karena Allah merupakan buah iman dan kesempurnaana akhlak. Ia adalah pagar, yang dengannya Allah akan meneguhkan hati hamba-Nya.

Suatu hari Abu Isris Al-Khaulani memasuki masjid Damaskus. Di sana dia melihat seorang pemuda sedang dikerumuni orang banyak. Jika memperdebatkan suatu masalah, mereka mengembalikannya kepada pemuda berwajah cerita itu. Lalu  mereka mengambil pendapatnya.

“Siapa pemuda itu,” Tanya Abi Isris.

“Muadz ibn jabal,”  kata orang-orang.

Keesokan harinya Abu cepat-cepat pergi ke Masjid. “Ternyata dia lebih cepat dariku,” begitu dilaporkan Al-Muwaththa, himpunan hadis Malik ibn Anas. “Aku mendapatinya sedang sembahyang.” Begitu Muadz menyelesaikam salatnya, Abu menghampirinya dari belakang.

“Demi Allah, saya mencintaimu karena Allah,” kata Abu Isris setelah mengucap salam.

“Apa? Karena Allah?” tanya Muadz.

“Allah,” jawab Abu.

“Karena Allah?”

“Allah.”

“Karena Allah?”

“Allah.”

Muadz lalu memegang ujung jubah Al-Khaulani agar lebih dekat. Katanya, “Terimalah kabar gembira ini. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,, ‘Kecintaanku pasti tertuju kepada orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang duduk bersama karena Aku, orang-orang yang saling berkunjung karena Aku, dan orang-orang yang saling memberi karena Aku.’”

Alim ulama mengatakan, kecintaan seorang muslim kepada saudaranya karena Allah merupakan buah iman dan kesempurnaana akhlak. Ia adalah pagar, yang dengannya Allah akan meneguhkan hati hamba-Nya. Rasulullah bersabda, “Kendali keimanan yang terkuat: kamu mencintai dan kamu marah semata karena Allah.” (HR Ath-Thabarani).

Para ulama juga menyakini, persaudaraan karena Allah merupakan nikmat. Dan mensyukuri nikmat itu, kata mereka, dengan cara tali ukhuwah. “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian, ketika dulu kalian bermusuh-musuhan, maka Dia menyatukan di antara hati kalian, sehingga karena nikmat-Nya kalian menjadi saudara.”  (Q. 3:103).

Berkata Umar ibn Khaththab r.a., “Kalau bukan karena tiga hal, niscaya aku ingin segera menghadap Allah. Yakni,aku selalu menghadapkan wajahku karena Allah,  atau duduk di dalam majelis yang di dalamnya benar-benar dipelihara ungkapan-ungkapan bersih, layaknya menjaga buah-buahan yang baik, atau melakukan perjalanan untuk berperang di jalan Allah.”

Dari Umar pula sampai kepada kita sabda Rasulullah s.aw.: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada orang-orang yang bukan nabi dan bukan pula syuhada. Tapi mereka bersama para nabi dan para syuhada pada hari kiamat dalam kedudukan mereka karena anugerah  Allah.”

“Ya Rasulullah. Wartakan kepada kami siapa mereka itu,” kata para sahabat.

“Mereka orang-orang yang saling mencintai dengan ruh Allah, tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka atau ikatan harta,” jawab Rasulullah. “Demi Allah, wajah mereka benar-benar, dan sesungguhnya, berada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika orang takut, dan tidak bersedih selagi orang-orang bersedih.”

Setelah itu, kata Umar, Nabi membaca ayat, “Ingatlah, sesungguhnya aulia Allah tidak ada kekhwatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.” (Q. 10:62)

Boleh dibilang Umar adalah salah satu sahabat yang banyak kali mempromosikan persaudaraan. Tapi penganjur ukhuwah ini juga mewanti-wanti kita agar hati-hati memilih kawan. Khalifah menasihati kita agar bersahabat dengan orang yang jujur. “Mereka merupakan hiasan ketika dalam kesenangan, dan menjadi bekal pada saat bencana,” kata Umar. “Dan tidak ada sahabat terpecaya kecuali orang yang takut kepada Allah. Janganlah engkau bergaul dengan orang durjana – dikhawatirkan engkau belajar pada kedurjanaannya. Dan jangan engkau membuka rahasiamu kepadanya. Mintalah nasihat kepada mereka yang sangat takut kepada Allah.”

Syahdan di akhirat pun sahabat-sahabat kita yang baik-baik masih ingat kepada kita. “Ketika Allah telah membersihkan orang-orang mukmin dari neraka, sedangkan mereka tetap beriman,” kata Rasulullah, “tidak pernah ada perdebatan salah seorang di antara kalian dengan temannya dalam masalah haknya di dunia lebih sangit daripada perdebatan orang-orang mukmin itu dengan Tuhan mereka, tentang nasib teman-teman mereka yang telah dimasukkan ke neraka.”

“Tuhan, teman-teman kami dahulu juga salat, puasa, dan berhaji bersama kami, kemudian Engkau memasukkan mereka ke neraka,” kata mereka, seperti dikatakan Nabi.

“Pergilah dan keluarkanlah di antara mereka orang yang kalin kenali,” kata Allah.

Lalu orang-orang mukmin itu mendatangi sahabat-sahabat mereka, dan berusaha mengenali wajah mereka. Ada yang wajahnya tidak tersentuh api alias utuh. Ada juga yang sudah termakan hingga separo pundaknya. Sementara yang lainnya sudah terlalap hingga kedua mata kaki mereka. Kemudian mereka mengeluarkannya.

“Tuhan kami telah mengeluarkan orang yang telah Engkau perintahkan kepada kami,” kata orang-orang mukmin itu.

“Keluarkanlah orang yang dalam hatinya masih ada keimanan seberat satu dinar,” lalu  “orang yang dalam hatinya masih ada keimanan seberat setengah dinar,” lalu “orang yang dalam hatinya masih ada keimanan seberat satu biji sawi.” (riwayat Ibn Majah)

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda