Cakrawala

Ilmu Buta Tuli

Alkisah, ada seseorang berjalan dari arah pelabuhan dengan membawa pancing dan seikat ikan di tangannya. Orang ini punya kekurangan bawaan: telinganya tak bisa mendengar alias tuli. Di perempatan ia bertemu kawannya yang -celakanya- juga tuli.

“Dari mana Mas? Habis mancing ya?” tanya kawannya.

“Tidak! Saya habis mancing kok!” jawabnya.

“Oo, saya kira habis mancing!” celetuk kawannya sambil ngeloyor pergi.

Tak masalah. Mereka merasa sudah ‘berkomunikasi’, merasa sudah saling memahami. Dari sudut pandang mereka, tak ada yang salah dalam pembicaraan tersebut. Masalah hanya tampak bagi kita yang ‘tidak tuli’ dan kebetulan mendengar pembicaraan mereka.

Ketika menghadapi santrinya yang tak kunjung memperbaiki diri meski sudah berkali-kali secara halus diperingatkan, seorang kiai sepuh dengan senyum pahit berkata: “Enak ya jadi orang tuli! Seberapa besarnyapun orang menggunjing dirinya, ia tetap senyum-senyum saja! Jangan lagi cuma gunjingan dan kritik, ada bom meledak disampingnyapun ia tetap tenang-tenang saja kok!”

Dulu almarhum Gus Dur, dan dalam tingkat tertentu juga Cak Nur (Nurcholis Majid), dianggap sering juga mempraktekkan ‘ilmu tuli’ macam ini. Mereka sering terkesan tak peduli dan bahkan abai terhadap kritik, kemarahan, tudingan yang diarahkan ke wacana yang mereka lontarkan.

‘Ilmu tuli’ adalah salah satu cara yang mereka tempuh untuk tetap fokus pada pengembangan ide-ide besar yang mereka lontarkan, tanpa harus terganggu dengan apa yang mereka anggap sebagai sekedar dinamika reaksi yang berkembang di masyarakat.

Kalau kita pakai Gus Dur dan Cak Nur sebagai rujukan, maka sekilas ‘ilmu tuli’ terkesan positif. Ia menjadi mekanisme defensif yang efektif agar orang tetap fokus, dan tak terganggu dengan kritik, tudingan dan kemarahan yang seringkali memang tidak proporsional.

Tapi dalam kenyataannya, yang paling sering kita jumpai di lapangan justru sebaliknya. ‘Ilmu tuli’ lebih sering dipraktekkan secara negatif sebagai mekanisme defensif agar orang bisa terus melenggang dengan kebijakan dan statusnya, meski hujan kritik dan fakta kesalahan telah disorongkan ke mukanya.

Lebih celaka lagi, tampaknya ‘ilmu tuli’ hampir selalu berpasangan dengan ‘ilmu buta’. Sehingga kecuali tak bisa atau tak mau mendengar, ia juga tak bisa dan tak mau melihat. Orang jadi sibuk dengan pikiran, persepsi, pendapat dan kepentingannya sendiri tanpa mau tahu tentang keadaan obyektif di luar dirinya.

Dalam konteks ini, ‘ilmu buta tuli’ secara langsung berkait dengan ‘malu’, dengan budaya malu. Orang yang terus menulikan telinganya terhadap kritik, yang terus membutakan dirinya terhadap fakta; pasti tak punya malu.

Dongeng kanak-kanak tentang raja yang telanjang adalah contohnya. Seorang raja yang ingin mengenakan pakaian terhebat yang belum pernah dikenakan oleh raja manapun di dunia, telah ditipu oleh seorang cerdik.

Si cerdik mengatakan bahwa pakaian yang ia buat tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Si raja, yang mabuk citra, dengan sukarela mengenakan pakaian ‘ghoib’ tersebut. Dan itu berarti ia telanjang ketika dengan bangga berjalan-jalan memamerkan pakaian terbaiknya diantara para punggawa. Tentu saja semua punggawa terbelalak melihat rajanya berjalan-jalan tanpa sehelai benang menempel di tubuhnya.

Si raja sudah pasti tak merasa malu, karena ia merasa sudah berpakaian secara semestinya. Dan, seperti kisah dua orang tuli di atas, pada akhirnya hanya para punggawa dan rakyatnya saja yang merasa malu, karena mereka tahu persis bahwa ada yang tak beres dengan rajanya.

Nah, bukankah hal yang seperti ini sering terjadi di sekitar kita? Tentu saja kita tak bisa menuntut mereka untuk ‘malu’. Bagaimana kita bisa meminta mereka untuk malu, sementara mereka merasa tak ada yang salah dengan diri mereka? Jadi, akhirnya kita sajalah yang dipaksa malu, persis seperti rakyat dalam dongeng ‘raja telanjang’ tadi!

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda