Tasawuf

Al-Fatihah Lintas Agama (Bagian 5)

Written by Panji Masyarakat

“Tuhan di kuilmu ini aku mendapat tempat sedikit di sudut. Biarkanlah aku duduk di sini dan menyanyi,” demikian Tagore. Tidak seorang pun tidak bisa menangkap getaran Tauhid dalam Gitanjali-nya yang khusuk dan rendah hati.

Dari semua yang di atas itu sudah terasa bahwa kecenderungan terbesar Anand Krishna sebenarnya kritik sosial. “Selama ini,” katanya, “kita melakukan perjalanan suci, kita bersujud, kita melaksanakan salat – tetapi di balik semua itu,niat kita apa?” Yang dimaksudkan dengan “kita” di situ umat Islam, tentu, bukan Anand sendiri. Sejak menafsiri bismillahir rahmannir rahim, dia sudah mengeritik mereka yang sepanjang hidupnya mengucapkan “dengan nama Allah” tetapi dalam praktik, katanya, menggandul kepada nama penguasa – lalu, ketika si penguasa jatuh, seperti Soeharto, mereka caci maki. Ia menganjurkan “mawas diri”.

Lalu ia membela Megawati, yang dikecam ramai-ramai karena, sebagai orang Islam,bersembahyang di pura,dulu. Anand membawakan hadis Nabi yang tidak relevan tentang keharusan menghormati jenazah tanpa memandang  dari agama apa.

Lepas dari apakah Anand, dengan buku-bukunya, juga melakukan penafsiran-penafsiran “otentik” seperti itu terhadap kitab-kitab kalangan lain, kesalahan terbesar yang diperbuatnya kali ini ialah: ia menjadikan Fatihah alat kritik sosial. Bukan karena sebagian ayat Quran tidak bisa ditarik-tarik untuk pada akhirnya memukul orang. Hanya, dalam Alquran sebenarnya terdapat hampir seratus ayat yang bisa dijadikan penerang dalam melihat masyarakat. Dan Al-Fatihah, sayang sekali, tidak termasuk.

Fatihah adalah surah pujaan, Anand juga tahu itu. Ia doa yang bagus sekali, yang telah dibikinkan Allah untuk orang Islam per individu, dan adalah hikmah Allah yang besar yang berkenan meletakkannya di tempat paling istimewa sebagai Fatihatul Kitab, pembuka Alquran – bukan “pembuka jiwa” seperti pengertian yang disodorkan Anand. Ia sarana dialog yang intim sekali dengan Allah. Itulah yang tidak bisa dirasakan penulis misionaris yang dicontohkan Rasyid Ridha di muka. Dan tidak mengherankan  kalau misalnya juga tidak bisa dirasakan pelatih Yoga ini, yang datang ke Al-Fatihah untuk mencari-cari kandungan maknanya yang sesuai  dengan nafsunya (untuk itu pula ia memamerkan berbagai nama “master sufi”, tanpa berani menyebut Ghazali atau Abu Yazid Bustami).

Yang  diperlukan, kalau memang mau dibangun apresiasi silang antaragama, kiranya justru kekuatan untuk menghayati – dengan tulus, bukan bombasme, dan bukan dengan main-main seperti sebagian semangat Anand – ajaran yang bukan ajaran agama sendiri, dan yang sesuai dengan agama sendiri, turut menangis di dalamnya, memuliakannya, meski dengan kesadaran bahwa ia meminjam dari saudaranya, tanpa merasa sok tahu. “Tuhan di kuilmu ini aku mendapat tempat sedikit di sudut. Biarkanlah aku duduk di sini dan menyanyi,” demkian Tagore. Tidak seorang pun tidak bisa menangkap getaran Tauhid dalam Gitanjali-nya yang khusuk dan rendah hati.        

Begitulah Kitab Alkhatib atau Syir’ul Asyar Perjanjian lama, Syair-syair kembar atau Dhammapada dari agama Budha, bahkan Japji atau sebagian Weda adalah indah, dan adalah mungkin bagi si muslim atau siapa pun menyelaminya, menggunakan kritisismenya, menenggelamkan dirinya, dan mungkin menuliskan renungan atau refleksi yang bagus dari situ, tanpa harus merasa sok menjadi pemersatu   dunia atau agama-agama, dan tanpa perlu mengambil sepotong kayu dari rumah orang dan memukulkannya ke pemiliknya. Bagi orang Islam, sikap yang benar, dan rendah hati, bukanlah seperti yang ditunjukkan Anand Krishna yang, sebagai orang luar, dengan kelewat pede berseru: “Nabi Muhammad yang saya muliakan memang luar biasa. Hal-hal kecil yang kita anggap sepele tidak luput dari perhatian Beliau. Nabi Muhammad, terimalah salamku!”*** 

Penulis: Syu’bah Asa (Panjimas, September 2003).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda