Tafsir

Al-Fatihah Lintas Agama (Bagian 4)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Fatihah adalah surah pujaan yang telah dibikinkan Allah ntuk orang islam per indiviidu, dan adalah hikmah Allah yang besar yang berkenan meletakannya sebagai fatihatul Kitab, pembuka Alquran.

Benar, Nabi s.a.w. bukan tidak pernah bersabda mengenai pelacur yang diampuni karena memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan, yang juga dimuat Anand dengan sukacita. Juga Yesus bukan tidak pernah menyerukan, sepanjang riwayat Bibel, agar yang melempar batu pertama ke arah perempuan pezina yang dirajam adalah “yang bersih dari dosa” (dan tak ada yang seperti itu). Tapi itu sama sekali bukan pembenaran untuk menafsirkan maaliki yaumid din (“’pemilik Hari Pembalasan”) sebagai ayat yang menyerukan – “jangan menghakimi orang lain”.  Dari mana munculnYa kalimat Anand itu, sementara ajaran Allah meghendaki tegaknya hukum, bagaimanapun Anda menafsirkan hukum itu?

Bahkan bagi Anand, Jalan lurus (shirath mustaqim; pen) berarti  “jalan kasih”.  Menafsiri “Jalan orang-orang yang Kauberi anugerah, bukan mereka yang kena murka dan bukan pula mereka yang sesat”, ia berkata, “Sadarkah kita bahwa bolak-balik yang sedang dibicarakan oleh Sang Nabi adalah Cinta Kasih, Kasih Sayang (? ).” Lalu ia membawakan hadis, yang tak ada hubunganya, tentang bahwa Allah menciptakan seratus rahmat. Padahal yang dimaksudkan dengan jalan lurus  ialah “jalan yang benar”, karena di luar itu ada yang tidak benar (sesat), ada juga yang dimurkai. Anand Krishna tak suka itu.

Lihatlah: hadis “Setiap anak dilahirkan dalam fitrah (terjemahan Krishna sendiri: fitrah-Islami), dan orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi, nasrani atau majusi” ia tafsirkan secara tidak biasa. Meski sudah jelas ada pengakuan terhadap kotak-kotak “fitrah-Islami, yahudi, nasrani, dan majusi,” hadis ini justru dia taruh di bawah kesimpulan: “Allah tidak mngkotak-kotakan  manusia.”

Ar-rahim (sifat Allah sesudah ar-rahman), yang oleh semua mufasir selalu disertakan salah satu pengertiannya  sebagai sangat berkasih sayang kepada orang mukmin, khususnya di akhirat (sebagai imbangan  sifat ar-rahman yang memberikan kasih sayang kepada semua ciptaan di dunia), oleh Anand  diganti makananya dengan memberikan kasih sayang kepada anak yatim dan keluarga, itu supaya rahiim jangan dimonopli  orang Islam.

Iyyaka na’budu wa iyyaka nastain dalah kredo Tauhid: hanya Allah yang kita sembah. Bagaimana dengan patung, atau dewa, atau tuhan apa pun selain Yang Satu? Kata Anand, ayat itu mengajarkan: “Jangan meneyembah dewa-dewa duniawi…” Jadi, bukan dewa-dewa dalam peribadatan. Tak heran jika ia benci benar kepada seorang tokoh, yang tak disebutkannya namanya, yang dikatakannya menyatakan,, dengan bangga, bahwa  ia suka mengencingi sesajen, dulu di waktu kecil.

Penulis: Syu’bah Asa (Panjimas, September2003).

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda