Tafsir

Al-Fatihah Lintas Agama (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Ada satu kelemahan pada mereka yang merasa dirinya humanis (nonagama): mereka biasanya suka menjejerkan gambaran seorang pendosa dengan ulama, atau pendeta, dan dengan keecenderungan permisifistis berada di pihak si pendosa

Rasyid Ridha memuat tafsirnya secara bersambung di majalah Al-Manar, Kairo, yang dipimpinnya, mula-mula pada edisi ke-3 di bulan Muharram 1318, di penghujung abad ke-19 Masehi. Itulah  zaman ketika kebangkitan Islam di Mesir, seperti juga di Indonesia beberapa saat kemudian, melihat rivalitas agama, dalam hal ini dakwah gencar agama-agama Nasrani, sebagai alasan menyusun diri dan bergerak – waktu itu.

Tidak berarti bahwa, dibanding zaman tersebut, tidak ada lagi persaingan antaragama sekarang ini. Tetapi persaingan – perseteruan – masa dulu itu masih berada dalam tahap tidak saling mengenal dan tidak saling menyapa, dan karenanya bisa sengit betul.  Bahwa seseorang mengeritik satu simbol ajaran agama lain dan membandingkannya dengan karangannya sendiri adalah satu keanehan yang layaknya – pasti – tidak akan diulang sekarang, oleh kalangan mana pun dan terhadap agama apa pun.

Memang, tetap saja terdapat kelompok-kelompok ekstrem, di sini maupun di sana. Tetapi disetujui kiranya bahwa di mana-mana kini tumbuh keinginan untuk melihat segi-segi yang sama antaragama diindahkan, selaras dengan kecenderungan pengempalan umat manusia dalam kesadaran yang makin global. Bahkan di luar agama-agama resmi, khususnya, terdapat semangat untuk menymakan saja semua agama – dan membikin jalan-jalan spiritualitas baru tanpa, maupun dengan, mencampur-campurkan ajaran beberapa agama. Inilah angin dari Amerika dan Eropa, tempat agama sudah bangkrut dan ambruk, yang berembus pula ke Indonesia.

Contohnya, di sini, adalah Anand Krishna – orang yang menyatakan dirinya bertuhan tanpa agama tertentu. Tokoh ini, yang memang dilahirkan di tengah keluarga dengan agama campur aduk, menulis buku kecil 144 halaman dengan judul Surah Al-Fatihah bagi Orang Modrn (1999), salah satu  saja dari belasan buku kerohanian lintas-agama  (yang laris) yang dia garap. Berkebalikan dari contoh yang diberikan Rasyid Ridha di atas, pelatih meditsi kelahiran Solo ini mendekati surah Al-Fatihah dengan lebih dari simpatik – penuh pujian, meski berbau slogan. Ia mengaku berkali-kali menyelami  surah yang bagaikan “lutan Cahaya Ilahi” ini.

Dan hasilnya: sekumpulan persepsi mengenai Fatihah yang bukan persepsi seorang “pemilik”, melainkan “pengguna”. Di tangan Krishna, Fatihah diberi tugas melayani dakwah spiritualitas yang sering dikatakan beradadalam barisan new age itu. Yang khas:

Pelacur dan Pendeta

Pertama, dakwah “kasih sayang” – seperti yang memang menjadi semboyan mereka. Fatihah adalah Ummul Kitab atau Ummul Quran, diakui Anand Krishna. Mengapa umm (ibu), dan bukan abb (ayah)? Umm, dalam bahasa Arab juga berarti induk, bukan hanya “ibu” (biologis), selain bisa juga berkonotasi kedua-duanya (demikianlah Imam Syafi’i memberi judul kitab fikihnya Al-Umm). Tetapi Anand membawakan hadis Rasulullah yang menerangkan kewajiban bersikap manis kepada ibu dalam kadar tiga kali lipat kepada ayah. Lalu disertakan sebuah dongeng pribadi tentang kasih sayang ibu. Jadi, hasil idealisasi ini: Al-Fatihah adalah surah “kasih sayang” – dan tersenyumlah para guru madrasah.

Bukan hanya itu. Kebulatan hati kepada “kasih sayang” itu memunculkan kalimat, “Kekerasan yang kita lakukan atas nama agama tidak disukai Allah.” Semberono? Tidak jelas, apakah jihad Nabi (yang dilakukan dalam rangka membela eksistensi agama yang sedang ditumbuhkan dan hendak ditumpas – bukan jihad Amrozi memang) akan juga, atau tidak, dianggap Krishna sebagai kekerasan atas nama agama.

Berikutnya, antipenghukuman. Ada satu kelemahan pada mereka yang merasa dirinya humanis (nonagama): mereka biasanya suka menjejerkan gambaran seorang pendosa dengan ulama, atau pendeta, dan dengan keecenderungan permisifistis berada di pihak si pendosa. Pelacur selalu dibela, pendeta biasanya dituding. (Bersambung).              

Penulis: Syu’bah Asa (Panjimas, September2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda