Tasawuf

Jiwa yang Mutmainah (Bagian 4)

Written by Panji Masyarakat

Kalau ingin bisa mengalahkan nafsu, janganlah terlalu kenyang akan. Kalau ingin mengubah nasib, ubah dulu kepribadian.

Kemudian dari qalbu itu timbul keinginan, dan dari keinginan  itu lahir perbuatan-perbuatan yang akhirnya menjadi kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan itu membentuk kepribadian, dan akhirnya kepribadian menentukan nasib. Jadi, kalau orang mau mengubah nasib dia harus mengubah dulu isi hatinya itu dengan cahaya lampu tadi.

Nah, jadi jiwa yang muthmainnah di sini adalah fitrah yang berfungsi sebagai modal kebaikan, dari Allah SWT. Sebaliknya nafs (jiwa) yang terguncang itu akan berfungsi sebagai modal keburukan dan akan melahirkan penyakit hati. Jadi untuk menaikkan fitrah dan menurunkan nafsu, Allah SWT dapat memberikan resep, dan resep yang canggih adalah berpuasa. Sebab puasa itu berfungsi menekan nafsu kita ke bawah dan mendongkrak fitrah ke atas. Sebab apa yang terlintas oleh nafsu dikendalikan oleh fitrah tadi. Sehingga terkontrol keinginan yang berlebihan dari nafsu itu.

Selanjutnya bagaimana mencapai nafs muthmainnah ini? Pertama, kita bersihkan hati, pikiran dan perasaan kita dari  segala keyakinan yang bertentangan dengan Tauhid. Arti Tauhid itu adalah membuang ketergantungan kepada selain Allah. Karena apabila masih ada ketergantungan pada selain Allah, tidak akan bersih hati. Dengan demikian, hati, diri, dan jiwa manusia itu adalah dari Allah SWT yang sangat tinggi nilainya. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah memupuk jiwa dan pikiran serta perasaan kepada Allah semata, dengan berharap ketika berdoa, dengan berkata: “Cukuplah bagiku Allah segala-galanya untukku – aku cukup disayang oleh Allah dan tidak mau mengemis cinta dari siapa pun”. Siapa yang mengemis selain kepada Allah akan kena stress dan akan kerdil (kecil di hadapan Allah).

Kedua, hentikan tingkah laku yang Allah tidak suka. Sikap berlebihan harus dikurangi, tanggalkan semua maksiat, kemudian gunakan rasio dalam berpikir, sering-seringlah merenung.

Ketiga, jangan hanya bisa mengadili dan menghakimi orang lain, tapi adililah dulu diri sendiri. Kalaupun ada kejelekan dan kesalahan orang lain, jadikanlah itu pengalaman yang terbaik agar kita tidak berbuat seperti itu.

Keempat, berani menerima kritikan dan teguran orang lain jika terjadi gosip pada diri kita, dan sadarilah semua dosa yang kita perbuat, walau sekecil apa pun.

Terakhir, jangan sok suci di hadapan Tuhan. Rendahkanlah kesombongan diri ketika berdoa, dan biasakan memulai dengan niat semata-mata kepada Allah. Mulailah pekerjaan dengan menyebut nama Tuhan           

Penulis: Zein Alhady (Panjimas, 6-19 Februari 2003)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda