Mutiara

Harta Itu Manis dan Menyenangkan

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kata Buya Hamka, jika Anda hartawan, “tirulah kebaikan-kebaikan yang baik dari jutawan-jutawan dunia yang mendirikan foundation untuk diambil orang faedah hartanya sesudah dia meninggal, sebagai Rockefeller, Ford, Carnegie dan lain-lain,”

Mereka bertanya kepadamu, apa yang akan mereka belanjakan. (Q. 2:215).

Memang tak hanya satu-dua yang bertanya kepada Rasulullah  s.a.w.  sehubungan dengan pendistribusian kekayaan. Salah satunya seorang laki-laki seperti dilaporkan Abu Hurairah berikut ini.

“Ya, Rasulullah, kalau uang saya hanya satu dinar, kepada siapa mesti saya berikan?”

“Kalau uangmu cuma itu, belanjakan saja untuk dirimu.”

“Jika saya punya dua dinar?”

“Untuk keluargamu.”

“Tiga dinar?”

“Pembantu kamu.”

“Misalkan saya punya empat dinar, Rasulullah?”

“Nafkah untuk kerabatmu juga.”

“Lebih dari itu?”

“Belanjakan di jalan Allah,” jawab Rasulullah.

Itulah mungkin sikap yang benar terhadap kekayaan. Menafkahkannya sesuai dengan kemampuan, dan berdasarkan skala prioritas. Semakin banyak harta yang di miliki, semakin banyak pula pihak yang harus dipikirkan. Bukan hanya keluarga dan kerabat, tapi juga orang banyak.

Syahdan, ujian pertama dari iman adalah harta. Sebab, bukankah manusia pada dasarnya pelit, dan berpembawaan suka  menumpuk harta? Kata Abdullah ibn Mas’ud, sahabat Nabi, banyak orang yang memberikan harta bendanya, berderma, berkorban, namun dalam hati kecilnya terselip rasa bakhil, lantaran dia takut kekurangan. Ibn Mas’ud sendiri tergolong miskin dan mendapat harta dari Zainab, istrinya, yang kaya. Zainab pernah bertanya kepada Rasulullah apakah dia beroleh pahala memberi zakat kepada suaminya itu. Rasulullah menjawab: “Untukmu dua pahala: pahala sedekah dan pahala kekerabatan.”

Wa ayyu daa’ adwaa minal bukhl. Demikian sebuah hadis. Rasulullah memang pernah bertanya kepada Banu Salmah, “Siapa pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Hurr ibn Qais. itu, lho, yang bakhil itu.” Lalu Nabi mengucapkan kalimat dalam hadis tadi:  “Penyakit manakah yang lebih gawat dari kikir?”. Mungkin karena itu Rasulullah lalu menyatakan, “Pemimpin kalian Basyar ibn Bara’ ibn Ma’rur.”  Jadi, bukan lagi Hurr yang kikir itu.

Orang yang bakhil hakikiatnya tidak kaya, meski isi rekeningnya di bank bermiliar atau triliunan, tanahnya berlembah-lembah, asetnya melimpah ruah. Orang yang diperbudak harta macam ini hidupnya sepi dan gelisah karena yang dipikirkan saban hari cuma duit dan duit. Kebiasaan memberi akan membuat jiwa lapang, bahagia karena bisa membahagiakan orang. 

 “Barang siapa bersedekah senilai sebiji kurma dari penghasilan yang baik – dan Allah tidak menerima kecuali yang baik – niscaya Allah akan menerima dengan Tangan Kanan-Nya, lalu mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana kalian membesarkan anak kuda, sehingga sedekah itu menjadi besar seperti gunung.” (HR Bukhari).

Tetapi Rasul menyuruh kita memperhatikan yang fardu, seperti orangtua dan kerabat. Sebab bermurah-murah kepada orang lain tapi kurang memperhatikan yang fardu, seperti orangtua dan kerabat, pertanda kita mulai riya, suka pamer, dan senang dipuji.

Seseorang mendatangi dan meminta sesuatu kepada Rasulullah. Beliau memberinya. Orang itu datang lagi, dan Nabi memberinya lagi. “Hai Hakim, harta itu manis dan menyenangkan,”  kata  Nabi kemudian. “Maka barangsiapa   yang mengambilnya dan diikuti dengan kedermawanan, tentu diberkati Allah apa yang diperolehnya. Barangsiapa yang mengambilnya dengan sikap yang menghambur-hamburkan, tidaklah harta itu diberkati, dan yang dimakan tiada yang mengenyangkan.” Nabi menutup kata-kata beliau dengan ungkapan yang sebagian kita sudah hapal: Al-yadul ‘ulyaa khairun minal yadis suflaa. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.

Itu bukan hanya soal kita tidak boleh mengecewakan orang yang meminta. Tapi kita pun, kalau belum terdesak benar, pandai-pandai juga menjaga harga diri. Inilah yang kurang pada kita. Kita mudah melacurkan diri demi sesuatu yang sebenarnya tidak begitu mendesak. Gaya hidup “wah” sebagian politisi kita naga-naganya tidak mungkin bisa diongkosi oleh gaji mereka yang sebenarnya lebih dari lumayan.

Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Dan misalkan Anda hartawan, “tirulah kebaikan-kebaikan yang baik dari jutawan-jutawan dunia yang mendirikan foundation untuk diambil orang faedah hartanya sesudah dia meninggal, sebagai  Rockefeller, Ford, Carnegie dan lain-lain,” nasihat Hamka. “Dan ada juga yang berwasiat mendirikan universitas bagi menyebarkan ilmu pengetahuan. Dan waris-waris mereka yang tinggal tidak pula berkecil hati. Sebab mereka pun punya kekayaan sendiri, dan tidak mengharapkan benar dari warisan ayahnya yang meninggal itu.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda