Tafsir

Al-Fatihah Lintas Agama (Bagian 2)

Written by Panji Masyarakat

“Jalan lurus”, dalam Fatihah yang asli, lebih umum dari “jalan iman” dalam “fatihah tandingan”. Jalan lurus mengandung jalan Iman, jalan Islam, jalan Ihsan. Keadaan jalan yang lurus itu menyebabkannya menjadi yang paling singkat.

Pertama, yang hilang dalam “fatihah singkatan” si penulis adalah nama Allah – allah. Nama paling agung yang tidak bisa diganti nama apa pun dari 99 nama Asmaul Husna, misalnya ar-rahmaan. Allah adalah nama dzat. Yang lain adalah sifat. (Agama-agama kristiani memang tidak mengenal allah, melainkan yehova, yahwe, atau god, tuhan, saja. Kecuali umat  kristiani di Indonesia – yang membaca allah dengan alah – dan itu hasil pengaruh Islam  lewat lidah Jawa).

Rahim, yang antara lain bersifat sifat pengasih-sayang hanya kepada para mukmin, khususnya di akhirat, juga hilang. Hanya rahmaan, pengasih sayang kepada semua makhluk di dunia.

Al-‘aalamiin berasal dari ‘aalam, dan dari pecahan tasrifnya adalah ‘aalamah (alamat), yang berarti keberadaan seluruh makhluk sebagai tanda adanya Pencipta. Dalam ‘aalamiin juga terkandung makna ‘yang berakal”. Malahan, lebih khusus, yang dimaksudkan adalah manusia. Karena itu al-‘aalamiin tidak bisa diganti dengan al-akwan, yang mengandung arti alam yang berubah (fana). Jadi rabbul akwan berarti “tuhan dari alam ciptaan alam yang fana”.

Maaliki yaumid din (penguasa hari pembalasan) ditukar dengan al-malikid daiyan (raja yang bikin perhitungan).  Dan dengan penggantian itu,  hilanglah penyebutan Hari Pembalasan, salah satu rukun iman.

Kalau yang dimaksudkan ‘Bagi-Mulah ibadah” adalah bahwa seluruh ibadah, dalam teori maupun praktik, hanya bagi Allah, itu tak benar. Karena sebagian besar penduduk bumi tidak beribadah hanya kepada Allah (tanpa sekutu). Kalau yang dimaksudkan adalah bahwa hanya Allah-lah yang berhak diibadahi, itu benar – tapi tidak bicara apa-apa tentang diri si penyembah. Sebaliknya, “Hanya kepada-Mu kami menyembah” merupakan ikrar, kredo yang teguh, dan itu berarti Tauhid.

Yang seperti itu juga kita katakan mengenai iyaaka nata’in, “Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan”. Agak aneh adalah pemilihan wa bikal musta’an sebagai gantinya, yang terjemahan tidak fasihnya dalam bahasa kita (tetapi persis dari kata-kata Arabnya) menjadi  “kepada-Mulah yang dimohoni pertolongan”. Kita tidak tahu mengapa tidak dipilih  antal musta’an (“Engkaulah yang dimohoni pertolongan”).

“Jalan lurus”, dalam Fatihah yang asli, lebih umum dari “jalan iman” dalam “fatihah tandingan”. Jalan lurus mengandung jalan Iman, jalan Islam, jalan Ihsan. Keadaan jalan yang lurus itu menyebabkannya menjadi yang paling singkat.

Adapun pencantuman “Jalan orang-orang yang Engkau beri anugerah, bukan mereka yang kena murka, bukan pula mereka yang sesat” adalah untuk penanaman teladan dalam diri umat, agar mereka memedomani jalan hidup yang bagus dari para nabi dan semua orang utama di masa lalu, dan menjaga diri dari tindakan yang menimbulkan kemurkaan Allah maupun yang sesat. Ini tak ada dalam “fatihah tandingan” yang simpel itu. Jadi, bagaimana bisa dikatakan Al-Fatihah surah yang “bertele-tele, memuat kata-kata tak berguna, mubazir”, dan seterusnya? (Bersambung)           

Penulis: Syu’bah Asa (Panjimas, September2003).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda