Cakrawala

Ahlul Ngeyel Wal Nekat

Konon, setelah terlibat dalam konperensi yang alot; Donald Trump, Presiden Amerika, Theresa May, PM. Inggris, Edouard Philippe, PM. Perancis dan Vladimir Putin, Presiden Rusia; memutuskan untuk berlibur bersama. Berburu gajah di Afrika adalah pilihannya.

Menjelang malam, pada hari pertama perburuan, seekor gajah berhasil ditangkap. Karena jauh dari pemukiman, mereka putuskan untuk mengikat gajah tersebut pada sebatang pohon dan menjaganya secara bergantian.

Giliran pertama jatuh pada Theresa May. Setelah dua jam berjaga, dia membangunkan Philippe, dan pergi tidur. Philippe berjaga dua jam, membangunkan Putin, kemudian tidur. Putin berjaga dua jam, membangunkan Trump, kemudian tidur. Melihat semua tidur, Trump kembali tidur.

Esok harinya, semua bangun dan kaget melihat gajah sudah tak ada di tempatnya.

“Mana gajah itu?” tanya mereka pada Trump.

“Gajah apa?” Trump balik bertanya dengan kalem.

“Apa maksudmu dengan ‘gajah apa’?” mereka mulai marah pada Trump. “Bukankah kita ke Afrika berburu gajah?”

“Betul”

“Bukankah kemarin kita berhasil menangkap seekor gajah?”

“Betul”

“Bukankah kita mengikatnya ke sebatang pohon?”

“Betul”

“Bukankah kita sepakat menjaganya bergantian?”

“Betul”

“Bukankah Theresa May dapat giliran pertama?”

“Betul”

“Bukankah setelah itu dia menyerahkan giliran jaga pada Philippe?”

“Betul”

“Bukankah Philippe, setelah berjaga dua jam, lantas menyerahkan gajah itu pada Putin?”

“Betul”

“Bukankah kemudian Putin menyerahkan penjagaan gajah itu pada anda?”

“Betul”

“Nah, sekarang mana gajah itu?”

“Gajah apa?”

Dalam bahasa Jawa, sikap semacam itu disebut ngeyelNgeyel adalah sikap keras kepala mempertahankan pendapat. Bisa pendapat yang benar, bisa juga pendapat yang salah; karena ngeyel sendiri pada dasarnya lebih menyangkut masalah bagaimana argumentasi dibangun. Argumentasi yang kacau demi mempertahankan pendapat yang benar akan segera digolongkan sebagai sikap yang ngeyel; demikian juga sebaliknya, argumentasinya runtut dan tertata baik, tapi digunakan untuk mempertahankan pendapat yang salah.

Biasanya kata ngeyel ini dipakai ketika orang bersikap keras kepala terhadap pihak yang dianggap lebih punya kuasa; baik kuasa politik, budaya, keilmuan, massa atau bahkan sekedar pada pihak yang dianggap lebih tua. Ketika dua pihak atau lebih yang dianggap setara saling bersikap keras kepala, sebutannya bukan lagi ngeyel, tapi eyel-eyelan; saling ngeyel.

Nah, berkaitan dengan cerita di atas, ngeyel tentu saja bermakna: orang yang dianggap telah melakukan kesalahan dan sudah ditunjukkan kesalahannya, tapi tetap terus berusaha mempertahankannya dengan segala macam cara.

Kalau tidak muncul dari kebodohan, sudah pasti sikap ngeyel semacam itu muncul dari beban kepentingan. Cuma, yang harus dicatat, kebodohan tidak harus dihubungkan dengan tingkat pendidikan, keluasan pengetahuan dan seterusnya; tapi mungkin lebih bisa dikaitkan dengan kecerdasan emosional dan sosial.

Dan, seperti kita maklumi bersama, beban kepentingan sering membuat orang, setinggi apapun tingkat pendidikannya, kehilangan kecerdasan emosional dan sosialnya, dan terjerembab dalam kebodohan. Apalagi bila kepentingan ini lantas dijubahi dengan macam-macam narasi yang seolah benar (karena dicantolkan pada agama, bangsa dan negara misalnya), sehingga membuat orang gampang rabun mencermati lubang-lubang jebakan di dalamnya.

Di luar itu semua, yang jelas menghadapi orang ngeyel kadang memang bisa bikin naik darah. Apalagi bila sikap ngeyel lantas dikombinasikan dengan kenekatan. Nekat adalah sebutan bagi orang yang melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang, atau bahkan tanpa perhitungan sama sekali.

Salah jalan, sudah diperingatkan dengan segenap bukti dan argumen kalau salah jalan, tapi tetap terus melanjutkan perjalanan; itu namanya ngeyel plus nekat. Yang begini ini jelas bisa membuat orang yang sangat sabar pun terusik.

Bayangkan saja bila anda harus berhadapan dengan orang-orang atau kelompok orang atau lembaga yang nalarnya seperti nalar Trump dalam anekdot diatas? Marah? Sakit hati? Atau malah terbahak-bahak?

Nah, sekarang mari kita bayangkan bagaimana lucunya kalau tokoh Trump dalam anekdot tersebut kita ganti namanya dengan nama-nama (atau kalau perlu, lembaga-lembaga) lokal… Pasti ramai!Tapi, nanti dulu, bagaimana kalau yang sebenarnya terjadi adalah eyel-eyelan?

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. pendiri Rumah Adab Mulia Indonesia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda