Tasawuf

Jiwa yang Mutmainah (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Banyak yang  berpidato di masjid sambil memaki partai lain,  golongan lain, dan mazhab lain, bahkan saling mengkafirkan, sehingga, tanpa dia sadari, si penceramah sudah menjadi penghasut alias provokator.

Kembali lagi pada persoalan Hati, Diri, dan Jiwa.  Tiga hal ini tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Oleh karena itu fitrah manusia yang suci disebut sebagai nafs yang tenang (muthmainnah). Q. surah Annur (24) ayat 35 berbunyi (artinya):

“Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar, pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon  yang banyak berkahnya, tidak terombang-ambing ke barat maupun ke timur, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.”

Dalam ayat itu Allah SWT mengatakan bahwa jiwa manusia itu seperti pelita. Gambaran pelita itu seperti lampu yang menyala indah dan menerangi semuanya. Karena minyaknya itu minyak zaitun yang penuh berkah, sumbunya bagus, ditutup dengan kaca pelindung (semprong) dan kacanya itu bersih dan berkilau indah, jadi sinarnya itu bagus. Hati manusia juga begitu: bisa keluar pikiran yang cemerlang, perasaan yang indah, dan dari hatinya keluar kata-kata yang tidak pernah menyakiti hati orang lain, mungkin peasaan terbang bersama Allah ke langit, lidahnya bergerak dan dari mulutnya keluar mutiara-mutiara dan kebaikan-kebaikan manusia.

Jadi, hati yang disebutkan dalam Alquran itu seperti contoh pelita itu. Siapa yang harus dicintai? Bila mencintai dunia, pasti rusak. Tapi kalau mencintai Allah, baru itu benar. Terus semprong itu apa? Semprong itu ibadah yang melindungi hati. Jadi tidak cukup dengan hati bersih saja, tapi harus dibuktikan dengan ibadah. Kemudian minyaknya adalah iman. Sumbunya itu fitrah. Keinginan itu simbol dari pikiran dan perasaan. Tapi kalau niat, itu bisa baik dan bisa juga buruk. Ibadah haji juga begitu, bisa jelek kalau otaknya itu ngeres.

Ibadah lain pun bisa jelek. Misalnya kalau bikin maulid. Apalagi pakai sorban yang besar, tapi di hati kita itu ada sifat iri dan dengki serta benci. Banyak orang berpidato di masjid sambil memaki partai lain, maki-maki golongan lain, dan maki-maki mazhab lain, apalagi saling mengkafirkan. Sehingga, tanpa dia sadari, ketika berceramah dia sudah menjadi penghasut (provokator), walaupun tempatnya di masjid. Jadi yang menentukan itu bukan partai atau golongan mana yang benar, tapi apa isi hati nurani. Oleh karena itu, Allah SWT menerangi qalbu (hati) yang terbuka untuk diisi dengan cahaya Allah itu. (Bersambung)       

Penulis: Zein Alhady (Panjimas, 6-19 Februari 2003)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda