Mutiara

Azab para Pemimpin

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Para pemimpin kelak akan ditanya tentang  umat yang dipimpinnya. Kata Nabi, jika mereka berkhianat kepada  rakyatnya, maka mereka tidak akan mencium bau surga.

Ubaidillah ibn Ziad mengunjungi Ma’qal ibn Yassar yang sedang sakit. Kata Ma’qal, “Aku ingin menyampaikan sabda, yang seandainya aku masih hidup tidak akan aku sampaikan. Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Tiada seorang manusia pun yang diserahi Allah tugas memimpin rakyat, yang meninggal di hari kematiannya, dan dia penipu rakyat, yang tidak diharamkan Allah dari surga’.” (riwayat Bukhari dan Muslim).

Syahdan, Fadhl ibn Rabi’ sedang tidur. Ia terbangun oleh ketukan di pintu rumahnya.

“Siapa, ya?” katanya seraya menggeliat

“Amirul Mukminin,” terdengar jawaban dari luar.

Fadhl bergegas ke luar. “Amirul Mukminin, kalau Tuan perintahkan,  pasti saya datang,” katanya. “Tidak perlu ke sini.”

“Aku punya beban pikiran, dan tidak bisa kupecahkan kecuali dengan seseorang yang alim. “Kamu tahu siapa?”

“Mmm.. Bagaimana kalau Sufyan ibn Uyainah?” Fadhl memberi saran.

“Amirul Mukminin, tidak perlu ke sini,” kata Sufyan pula, tergopoh-gopoh menyambut tamunya, setelah sang khalifah sampai di sana. “Saya pasti datang jika diinstruksikan.”

“Ada persoalan yang ingin aku tanyakan kepada Saudara,” kata khalifah mendekat. Lalu mereka terlibat pembicaraan. Ketika keluar, khalifah berkata, “Wahai Sufyan, ini utangmu.”

Mereka pun, Khalifah dan Fadhl, pergi meninggalkan Sufyan ibn Uyainah.    

“Fadhl, temanmu itu tidak bisa menyelesaikan  permasalahan,” komentar Khalifah. “Siapa lagi yang bisa aku tanya?”

Fadhl lalu mengajak menemui Abdur Razzaq ibn Hamam. Ia juga mengatakan, “Mestinya saya yang menghadap. Bukan Bapak yang datang.”

Mereka pun berbincang. Dan Khalifah rupanya juga tidak puas.

“Siapa lagi yang bisa aku tanyai?”

“Fudhail ibn ‘Iadh.”

Ketika mereka sampai di rumah Fudhail, ia sedang membaca Alquran. Bacaannya diulang-ulang. Usai salat, barulah Fudhail bertanya:

“Siapa di luar?”

“Amirul Mukminin, “ kata Fadhl.

“Aku tidak punya urusan dengan Amirul Mukminin.”

“Bukankah Nabi pernah bersabda, tidak dibenarkan seorang mukmin menghina dirinya sendiri?” kata Fadhl.

Fudhail membukakan pintu, mengajak tamunya masuk. Tapi lampu sudah ia matikan. Fudhail berjalan ke pojok kamar. Fadhl dan Khalifah mengikutinya sambil meraba-raba. Dan ketika tangan Khalifah menyentuh badan Fudhail, shahibul bait berkata, “Tangan ini sungguh beruntung jika selamat dari api neraka.”

“Ada yang ingin aku tanyakan, semoga Allah merahmatimu,” sahut Khalifah.

“Sesungguhnya Anda telah menanggung dosa Anda dan dosa orang-orang yang bersama Anda. Apabila mereka Anda minta menghilangkan beban dosa-dosa Anda, mereka tidak akan sanggup,” Fudhail berkata.  “Sesungguhnya orang yang paling menampakkan kecintaannya kepada Anda adalah orang yang paling dulu meninggalkan Anda.”

Kemudian Fudhail menceritakan ihwal Umar ibn Abdil Aziz, ketika diangkat menjadi khalifah. Waktu itu, Umar memanggil Salim ibn Abdillah, Muhammadibn Ka’b, dan Raja’ ibn Haiwah.

“Aku mendapat cobaan yang sangat besar. Tunjukkan bagaimana aku mesti menghadapinya,” kata Umar kepada mereka.” seperti ditirukan Fudhail kepada Khalifah.

“Andaikan Tuan ingin selamat dari azab Allah di akhirat nanti, berpuasalah dari kehidupan dunia, dan berbukalah dengan kematian,” Salim berkata.

“Dan jadikanlah orang tua sebagai bapakmu, dan anak-anak muda sebagai anakmu. Berbaktilah pada bapakmu, tebarkan kasih sayang kepada saudara-saudaramu dan lindungilah anak-anakmu,” kata Muhammad ibn Ka’b.

“Apa yang paling aku takutkan mengenai Anda adalah keadaan Anda pada hari perhitungan kelak,” kata Fudhail. “Apakah orang-orang yang bersama Anda sudah memberikan nasihat seperti yang mereka berikan kepada Umar ibn Abdil Aziz?”

Khalifah pun menangis. Kemudian pingsan. Berkata Fadhl  kepada Fudhail, “Pak, sadarkan Amirul Mukminin.”

“Wahai Putra Rabi’, kamu dan teman-temanmu sudah membunuh Amirul Mukminin, mengapa aku yang harus menyadarkannya?”

“Teruskan,  Fudhail, “ kata Khalifah setelah siuman.

“Amirul Mukminin, sesungguhnya Abbasibn Abdil Muthallib, paman Nabi s.a.w. mendatangi beliau dan berkata, ‘Ya Rasulullah, beri aku kekuasaan.’ Nabi menjawab, ‘Paman, embusan nafas yang membuatmu hidup lebih baik dari segala kekuasaan yang akan membawa kepada kerugian dan penyesalan kelak di hari akhir. Kalau Paman dapat menghindari kekuasaan, lakukanlah’.”

“Teruskan, Fudhail.”

“Andalah yang akan ditanya Allah di hari akhir tentang umat ini. Jangan sampai Anda mengkhianati rakyat Anda, karena Nabi bersabda, ‘Barangsiapa yang berbuat khianat kepada kaumnya, maka orang itu tidak akan mencium bau surga’.”

“Kamu punya utang?” tanya Khalifah.

“Ya, utang kepada Tuhan. Celaka bagiku bila Dia menagihnya, dan celaka bagiku jika Dia tidak mengabulkan permohonanku.”

“Maksudku, utang kepada manusia.”

“Tuhanku tidak memerintahkan itu. Dia hanya memerintahkanku meyakini janji-janji-Nya dan menaati perintah-Nya.”

‘Terimalah 1.000 dinar dariku. Berikan kepada keluargamu.”

“Subhanallah. Aku telah menunjuki Anda jalan keselamatan, tapi Anda memberi imbalan hanya dengan itu. Semoga Allah menolongmu.”

Mendengar jawaban Fudhail, Khalifah dan Fadhl diam. Lalu permisi.

“Lain kali, kalau kamu membawa aku, bawa kepada orang yang seperti itu.”

Amirul Mukminin itu Khalifah  Harun Ar-Rasyid (150-193 H), yang waktu itu sedang berhaji (181 H.). Ar-Rasyid, yang ibunya mantan budak, menurut Syauqi Abu Halil (harun Ar-Rasyid, Amirul Khulafa) sering didiskreditkan oleh cerita-cerita konyol a la  Abu Nuwas, atau kisah-kisah tidak senonoh Seribu Satu Malam.

Adapun Fudhail (105-187 H.) adalah pria kelahiran Samarkand yang wafat di Mekah pada bulan Ramadan. Dia pernah nekad memanjat tembok  agar bisa bertemu seorang gadis, dan tiba-tiba mendengar seseorang membaca ayat, “Belum datanglah waktunya bagi orang-orang yang beriman supaya hati mereka tunduk mengingat Allah. (Q. 57:16).

“Tuhanku, sekarang saja,” sahut Fudhail, sambil cabut

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda