Tasawuf

Tentang Cinta Dunia Sumber Segala Bencana (Bagian 4)

Written by Panji Masyarakat

Di samping memiliki kecenderungan alami mencintai dunia, manusia juga memiliki potensi untuk memiliki kesempurnaan  dan untuk memiliki tujuan akhir. Dunia dan hal-hal yang bersifat material bukanlah sebuah kesempurnaan, dan karenanya tidak dapat dijadikan tujuan akhir.

Dari kajian di atas terlihat bahwa di satu sisi Alquran menggambarkan keburukan-keburukan dunia, tetapi di sisi lain ia juga menyatakan bahwa kecintaan manusia kepada dunia adalah tabiat alaminya. Di sini seakan terdapat paradoks.

Untuk melihat hal yang terasa kontradiktif itu diperlukan kajian ulang bertolak dari logika Alquran secara utuh. Ada tiga poin penting yang dapat dijadikan objek:

Pertama, ketika Alquran berbicara tentang kejelekan dunia, senantiasa menghadapkannya dengan kebaikan akhirat. Dengan demikian, kita temukan suatu pandangan bahwa kejelekan dunia bukan sesuatu yang berdiri sendiri: ketika dihadapkan atau  dibandingkan dengan akhirat, maka dunia menempati pada posisi lebih jelek dan akhirat pada posisi lebih baik. Tetapi esensi dunia itu sendiri tidak dapat dikatakan jelek, kalau bukan dalam perbandingan. Ketika dalam posisi bukan perbandingan itulah Allah SWT berfirman, “Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarka-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik? Katakanlah, semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia” (Q.  7 : 32 ).

Kedua, Alquran berbicara tentang keburukan dunia adalah untuk memberi peringatan kepada manusia agar tidak hanyut dalam kecenderungan alaminya itu. Sebab, tanpa dinetralisasi oleh Alquran, niscaya manusia akan berlalai-lalai dalam kesenangan duniawinya. Jika manusia dibiarkan dalam kondisi demikian, dia akan merasa bahwa kehidupan duniawi inilah puncak segalanya, padahal kesenangan duniawi tidak pernah memberikan kepuasan yang sempurna. Sebab itu, kedatangan Alquran adalah sebagai pemberi peringatan bahwa kecenderungan kepada dunia merupakan kecenderungan lahiriah-material yang bersifat semu, tetapi di balik itu, pada lapisan terdalam ruhaninya terdapat fitrah yang memiliki kecenderungan kepada sesuatu yang lain, yang lebih mulia, lebih luhur, lebih tinggi dan bersifat abadi, yaitu Allah dan hari akhirat.

Ketiga, di samping memiliki kecenderungan alami mencintai dunia, manusia juga memiliki potensi lain, yakni untuk memiliki kesempurnaan  dan untuk memiliki tujuan akhir. Dunia dan hal-hal yang bersifat material bukanlah sebuah kesempurnaan, dan karenanya tidak dapat dijadikan tujuan akhir. Ia hanya memberikan sesuatu yang sementara, tidak pernah kepuasan hakiki. Alquran datang bukan dengan tujuan membinasakan kecenderungan alami manusia dalam mencintai dunia, tetapi untuk mengeluarkan manusia dari hal yang hanya bersifat material itu dengan menawarkan Allah dan hari akhirat sebagai solusi terbaik dan tersempurna. Sebab itu, ketika manusia berupaya mencari kesempurnaan pada dunia, justru ia semakin merasa kekurangan dan kemiskinan. Lalu, ketika berpaling kepada Allah, di sini dia mulai merasakan kesempurnaan dan kepuasan nan abadi. Tujuan Alquran di sini bukan untuk menawarkan pilihan antara mencintai dunia dan mencintai Allah. Tetapi agar manusia memiliki tujuan akhir yang tertinggi dalam hidupnya sehingga dapat menjadikan segala sesuatu alat untuk mencapai tujuan itu. Wallahu a’lam bish-shawab

Penulis: Yunasril Ali (Sumber: Panjimas, September 2003)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda