Mutiara

Nabi, Yahudi, dan Dreyfus

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Rasulullah telah memberikan pelajaran pada kita bahwa siapa pun yang teraniaya wajib dibela, sedangkan agama tidak boleh diperkuda untuk membenar-benarkan pengkhianat, sekalipun ia mengaku Islam.   Berapakah di antara pemimpin kita yang mengimplementasikan ajaran yang luhur ini?

Ke mana-mana sih mengaku muslim. Tapi, ya, begitulah kelakukan Thu’mah anak laki-laki Ubairaq.

Syahdan, beberapa orang Anshar kehilangan seperangkat pakaian perang. Mereka mengadu kepada Nabi s.a.w.   dan terus terang menaruh curiga pada Thu’mah. Merasa jejaknya tercium, Thu’mah menyembunyikan barang curiannya itu dirumah seorang Yahudi  bernama Zaid ibn Shamir. Kini si Yahudi yang menjadi tertuduh: barang bukti ditemukan di rumahnya. Apalagiputra Ubairaqitu mendapat sokongan sanak keluarganya.

“Memang Yahudi itu jahat, busuk, kafir! Dia penentang agama Allah dan agama yang Bapak bawa,” kata mereka di hadapan Rasulullah.

“Bukan saya, wahai Abu Qasim, “kata si tertuduh. “Ada yag diam-diam menaruh barang-barang itu di rumah.”

Waktu itu hubungan kaum muslimin dengan golongan Yahudi di Madinah memang sedang tegang. Dan keadaan ini barang tentu menguntungkan Thu’mah. Kaum muslimin bersimpati kepadanya. Rasulullah pun nyaris terpengaruh dan menerima pembelaannya.

Tetapi, atas dasar keadilan, Nabi akhirnya membebaskan orang Yahudi itu. “Dan janganlah kamu menjadipembela pengkhianat” (Q. 4:105), demikian wahyu yang turun mengenai kasus itu. Akan halnya Thu’mah, yang ternyata munafik dan jahat, kemudian meninggalkan Madinah, bergabung dengan musyrikin Mekah.

Kapten Yahudi

Kisah Yahudi Madinah itu agaknya mengingatkan kita akan seorang kapten Yahudi Prancis: Alfred Dreyfus (1859-1935). Anggota angkatan perang Prancis ini dituduh menjual dokumen rahasia negara kepada pihak asing. Pimpinan Gereja ikut pula mem-back up tuduhan yang hanya berdasar bukti-bukti yang lemah ini. Yakni, tulisan dalam dokumen itu mirip tulisan Dreyfus.

Dreyfus menolak. Tapi berama dengan kebencian kepada Yahudi (sekali lagi, dia ini Yahudi) yang sudah demikian hebat, pada 1894 pengadilan memutuskan Dreyfus dihukum seumur hidup. Pangkat dan bintang jasanya dilucuti. Berbagai protes, antara lain dimotori Novelis Emile Zola, mendesak pemerintah membuka kembali kasus ini. Soalnya sudah ditemukan bukti baru: dokumen itu ditulis Mayor Esterhazy atas suruhan Letnan Kolonel Henry – ditambah bukti-bukti lain yang diajukan adik Dreyfus sendiri, yang menyatakan abangnya tidak bersalah. Semuanyatidak digubris. Emile Zola bahkan ikut dtuntut karena menulis l’Accuse, sehingga ia harus melarikan diri ke luar negeri. Pendapat masyarakat pun pecah, antara yang mendukung dan yang menolak peninjauan. Pihak pemerintah, kalangan militer dan Gereja termasuk yang menghendaki perkara itu tidak diungkit-ungkit lagi.

Sampai kemudian Letkol Henry bunuh diri. Terpaksalah kasus ini dibuka lagi. Pengadilan militer lalu mengubah hukuman Dreyfus menjadi 10 tahun, yang waktu itu sudah ia jalani selama lima tahun. Tetapi Presiden Prancis kemudian mengampuninya, sehingga Dreyfus hanya menjalani yang lima tahun itu. Banyak yang tdak puas atas keputusan itu: bukankah pemberian ampun itu mengukuhkan kesalahan Dreyfus? Hasilnya baru tujuh tahun kmudian (1906) Dreyfus dibersihkan dari segala tuduhan, dinyatakan tidak bersalah sma sekali. Pangkat dan bintang jasanya dikembalikan. Ia wafat pada 1935, sementara Emile Zola, pengarang besar itu,  sudah mendahuluinya pada 1902.

Kisah Thu’mah (dan Kolonel Henry) adalah kisah pengkhianatan, melempar kesalahan kepada pihak lain, dan menggunakan sentimen agama (ataupun ras) agar yang berwewenang menggunakan kekuasaan untuk mendukung dirinya. Tetapi Rasulullah, berdasarkan wahyu, telah memberikan pelajaran pada kita bahwa siapa pun yang teraniaya wajib dibela, sedangkan agama tidak boleh diperkuda untuk membenar-benarkan pengkhianat, sekalipun ia mengaku Islam.   Berapakah di antara pemimpin kita yang mengimplementasikan ajaran yang luhur ini?       Untuk ukuran sekarang, modus pengkhianatan Thu’mah tidaklah canggih. Kini para penjahat sudah sedemikian halus, sophisticated, dalam melakukan tipu muslihat dan menarik simpati publik. Inilah kiranya ujian paling serius yang akan dihadapi para penegak kebenaran. Bersikap waspada dan hati-hati, sebagaimana diperlihatkan Nabi dalam menangani perkara Thu’mah dan orang Yahudi tadi, sudah merupakan keharusan. Jika tidak, kita akan menjadi pengkhianat pula, karena tidak dapat memtahkan segala usaha yag hendak memerosotkan aturan hidup seluruh bangsa

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda