Tasawuf

Tentang Cinta Dunia Sumber Segala Bencana (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Manusia membawa tabiat asli mencintai dunia. Tanpa tabiat demikian, niscaya jenis manusia akan punah dan roda kehidupan tidak berjalan. Sebab itu, suatu  hal yang janggal dan asing jika pria tidak mencintai wanita, atau seseorang tidak tergiur oleh harta dan tahta. Lalu di mana salahnya?

Sebenarnya cinta dunia adalah tabiat kita semua. Inilah yang diungkapkan ayat Alquran, “Dihiaskan kepada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkannya berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda-kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, sedangkan dari sisi Allah-lah tempat kembali yanh baik.”(Q, 3:14).

Ayat di atas menjelaskan bahwa, manusia membawa tabiat asli mencintai dunia. Ia cinta kepada wanita dan anak-anak, cinta harta, cinta kedudukan, dan sebagainya. Kecenderungan itu adalah tabiat alami manusia. Tanpa tabiat demikian, niscaya jenis manusia akan punah dan roda kehidupan tidak berjalan. Sebab itu, suatu  hal yang janggal dan asing jika pria tidak mencintai wanita, atau seseorang tidak tergiur oleh harta dan tahta.

Anda dapat membayangkan jika seorang suami tidak cinta kepada istrinya karena menganggap istrinya  “dunia”. Pastilah istri akan membalas dendam dengan mengabaikan dia. Demikian pula jika seorang ayah tidak cinta kepada anak-anaknya, niscaya anak-anaknya akan menganggapnya orang lain. Lalu, salahkah kita mencintai dunia? Bukankah Nabi s.a.w., mengatakan bahwa cinta dunia pangkal segala keburukan?

Nabi juga mengatakan, “Barangsiapa mencintai dunia niscaya memberi mudarat kepada akhiratnya, dan barangsiapa mencintai akhirat niscaya mudarat kepada dunianya. Maka utamakanlah yang kekal daripada yang fana” (H.R. Ahmad dan Al- Bazzar). Tidakkah hadis ini bertentangan dengan tabiat asasi manusia?

Kalau demikian, apa yang dimaksud dengan istilah hubbud dunya (cinta dunia) itu? Bukankah Nabi s.a.w., sendiri mencintai anak-anak dan istri beliau? Bukankah Ibrahim a.s. sangat menyanyangi putranya Isma’il  a.s., ketika perintah kurban diwahyukan? Bukankah Sulaiman a.s. juga mencintai kekayaan duniawinya?.

Yang dimaksudkan dengan istilah “cinta dunia” sebenarnya bukan sayang kepada dunia, tetapi “cinta dunia” ialah menempatkan dunia di atas segala-galanya, sehingga lupa kepada Allah dan hari akhir. Inilah yang disinyalir ayat, “Maka berpalinglah kamu dari orang-orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengetahui kecuali kehidupan dunia. Dan itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka (Q 53:14-15).”

Jadi para pecinta dunia adalah orang-orang yang merasa puas dan cukup dengan kehidupan dunia sehingga dunia dijadikan tujuan akhir, dan menganggap sepi segala sesuatu selain itu.  Dunia adalah awal dan akhir dari segalanya: “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’ Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu; mereka tidak lain menduga-duga saja” (Q, 45:24) (Teks 4). Jadi, menurut dugaan kelompok ini, kesenangan dunia adalah puncak kehidupan. “Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (disbanding kehidupan) di akhirat hanya sedikit.” (Q.9 :38)   Bersambung

Penulis: Yunasril Ali (Sumber: Panjimas, September 2003)         

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda