Mutiara

Job atawa Aiyub dan Cerita untuk orang Bodoh

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Sabar adalah menjalani cobaan dengan sikap yang sama seperti kita menghadapi kenikmatan. Dan dari Job alias Aiyub yang rendah hati, sabar, dipenuhi iman, bolehlah kita ambil tauladan.  

“Job is the pattern of humility, patience, and faith in God. It was with these weapons that he fought and conquered evil.”

Benar, Aiyub yang kita kenal adalah Job. Contoh kerendahan hati, kesabaran, dan iman, seperti yang diungkapkan mufasir Abdullah Yusuf Ali itu. Aiyub, dulu, hidup sejahtera, kaya raya, suka berderma, dan takwa. Jibril, malaikat yang paling dekat dengan Allah, langsung mengontak Mikail begitu Allah memuji sang nabi. Mikail kemudian menyampaikan kepada kolega-koleganya, yang juga dekat dengan Allah. Para kolega itu kemudian menyampaikan kepada kolega-kolega mereka yang lain, wa halumma jarra (dan seterusnya). Alhasil, berita tentang kemuliaan Aiyub merata di kalangan malaikat, baik yang di langit maupun yang di bumi. Dan seluruhnya mengucapkan salawat bagi nabiullah yang konon bermukim di satu tempat di timur laut Arabia itu.

Lalu, silih berganti cobaan datang. Mula-mula usaha peternakannya hancur. “Segala puji bagi Allah yang memberi  kepadaku lalu mengambilnya kembali,” komentar Aiyub atas musibah itu. Para pelayannya ditimpa atap rumah. Toh imannya tidak goyah. Berikutnya adalah penyakit gatal yang menyerangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Garukan-garukannya menimbulkan luka. Lalu keluar nanah, dan belatung. Baunya menusuk, dan penduduk mengusirnya lantaran tidak tahan. Hanya Siti Rahmah, istrinya, yang setia merawat.

Dari situ berkembang cerita, Aiyub mulai goyah, dan mengutuk kelahirannya. “Untuk apa aku Kauciptakan? Mengapa tidak seperti darah haid saja yang terbuang dari tubuhku?” Setiap kali Aiyub sujud, belatung berjatuhan dari kepalanya, dan setiap itu pula ia mengembalikannya lagi ke tempatnya semula.

Menurut Hamka, cerita Wahab ibn Munabbih yang dikutip Imam Ar-Razi itu diulangceritakan kembali oleh guru-guru mengaji di hadapan orang-orang Islam yang bodoh-bodoh di kampung. Akibatnya, “Jika mereka dapat sakit, mereka tidak mau berobat kepada dokter yang ahli,” kata Buya. “Sebab mereka percaya bahwa penyakitnya ini perbuatan syaithan, perbuatan jinn, atau kerja ramuan orang. Sedangkan Nabi Aiyub lagi kena olehkekuatan syaithan,  apalah lagi kita!” Malahan, menurut Buya lagi, ada sebagian orang Islam, usai salam, mengusap ubun-ubunnya. Karena mereka percaya itulah yang diperbuat Aiyub sesudah sembahyang, untuk mengembalikan belatung-belatungnya itu.

Sekali lagi: “cerita-cerita seperti ini hanya berkembang dalam kalangan orang-orang yang bodoh.”

Job atau Aiyub sejatinya orang yang sangat halus, dan bukan seperti yang dituturkan itu. Kita dengar bagaimana dia mengadukan halnya dalam Al-Quran. “Dan (ingatlah) Aiyub, ketika dia menyeru tuhannya: ‘Sungguh petaka telah menjamahku, tapi Engkau yang paling pengasih dari semua yang pengasih.” (Q. 21:83). Dengan kalimat terakhir itu seperti dikatakan Abu Ali Ad-Daqqaq, Aiyub memperlihatkan sikap bicara yang layak. Ia misalnya, tidak mengatakan: “Limpahkanlah hasil sayang-Mu kepadaku.” Tidak.

Tapi Allah mahatahu, tentu saja, dan mengabulkan doanya. Kesehatannya pulih. Hartanya datang lagi, dan menjadi berlipat ganda. Keluarganya pun utuh kembali.

Kuncinya adalah ini: kesabaran. “Sesungguhnya kami dapati dia seorang yang sabar. Seorang hamba yang baik. “Sesungguhmya dia orang yang selalu kembali.” (Q. 38:44).

Hakikat kesabaran, kata Abu Ali, adalah jika kita keluar dari cobaan dalam keadaan seperti kita memasukinya sebagaimana pada Aiyub. Kesukaran dan kesengsaraan hidup, dengan demikian, tidak menjadikan kita lembek dan kehilangan rasa percaya diri. Dan yang penting, cobaan seperti itu tidak ada hubungannya dengan amal salih atau perbuatan jahat.

Syahdan, sikap teguh dalam derita itu diperlihatkan pula oleh Ahmad ibn Hanbal. Suatu kali imam kaum “fundamentalis” ini bersama beberapa kawannya singgah di rumah Hamdan ibn Sinan Al-Wasithi. Kata Hamdan, Imam dan kawan-kawan tampak menderita lantaran kehabisan bekal di perjalanan. Hamdan kemudian memberi bantuan, tapi Ahmad menolak. Ia lebih suka menjual jubah bulunya. Katanya, “Katakan kepada siapa saja yang suka menjualkan ini. Sampaikan berapa harganya kepadaku, nanti aku beri persen.”

Hamdan lalu mengambilkan sekantung dirham. Ahmad kembali menolak, dan memaksa menjual bajunya. “Itu orang salih,” bisik istri Hamdan. “Ia tidak suka menerima pemberian yang sedikit.” Ia menambahinya menjadi dua kali lipat. Tetap ditolak, tentu saja. Lalu Ahmad mengambil bajunya dan pergi.

“Wahai jiwa, tegaklah kamu. Jika tidak, kamu akan susah selamanya,” kata Ahmad jika ditanya mengenai sikapnya itu. Ia memang lebih suka menggadaikan miliknya, bekerja apa saja, termasuk kuli kasar, ketimbang menerima bantuan orang. Jangan heran, meski bisa, imam yang satu ini hidupnya jauh dari makmur. Kuncinya itu tadi, sabar.

Sabar adalah menjalani cobaan dengan sikap yang sama seperti kita menghadapi kenikmatan. Demikian orang tasawuf yang benar mengatakan. Dan dari Job alias Aiyub yang rendah hati, sabar, dipenuhi imam, bolehlah kita ambil tauladan.  

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda