Tasawuf

Tentang Cinta Dunia Sumber Segala Bencana (Bagian 2)

Written by Panji Masyarakat

Dunia itu indah ketika berada dalam imajinasi kita,sehingga kita berupaya dengan susah payah untuk mendapatkannya. Tetapi, bagaimana setelah dalam genggaman?

Alquran menggambarkan dunia sebagai suatu keindahan semu, yang cepat berlalu, dan akan berakhir dengan kesirnaan: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, sikap bermegah-megah antara kamu, dan saling berbangga tentang harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta rida-Nya. Adapun kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q. 57:20).

Dalam sebuah hadis disebutkan, Abu Hurairah r.a. bercerita, “Suatu kali s.a.w. berkata kepadaku, ‘Hai Abu Hurairah, maukah engkau kuperlihati dunia dengan segala isinya?’ Kujawab, ‘Tentu saja, ya Rasulallah.’ Nabi memegang tanganku, dan membawaku berjalan ke sebuah lembah di sekitar Madinah. Di situ kami menemukan timbunan sampah dengan tengkorak yang berserakan bersama tahi-tahi binatang, perca-perca kain yang telah usang, dan tulang-belulang. Lalu Nabi bersabda, ‘Yang memiliki tengkorak ini pernah bercita-cita seperti cita-citamu, berangan-angan seperti angan-anganmu, tapi sekarang ia sudah berupa tulang tanpa kulit dan selanjutnya akan menjadi debu. Tahi-tahi itu adalah aneka ragam makanan yang mereka cari hilir-mudik kemudian mereka kumpulkan di dalam perut, dan sekarang telah menjadi barang yang menjijikkan. Perca-perca kain itu adalah hiasan dan pakaian mereka, sekarang telah ditiup angin ke sana-sini. Dan tulang-tulang itu adalah tulang binatang tunggangan mereka untuk menyampaikan mereka ke negeri-negeri yang jauh dan yang dekat. Siapa yang ingin meratapi dunia, merataplah sekarang’.” Abu Hurairah berkata:  “Kami pun menangis tersedu-sedu.” (Al-Ghazali, Ihya’Ulumiddin).

Ayat dan hadis di atas menjelaskan hakikat dunia. Dunia itu indah dan menggiurkan, tetapi hanya bersifat semu. Ia hanya indah seketika, kemudian berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan. Dunia itu indah ketika berada dalam imajinasi kita,sehingga kita berupaya dengan susah payah untuk mendapatkannya. Tetapi, setelah sampai di tangan, hari demi hari dan bulan demi bulan keindahan itu makin memudar, sampai pada suatu ketika sirna sama sekali, maka kita pun tidak tertarik lagi kepada yang pernah kita idam-idamkan itu, lalu kita campakkan begitu saja. Sekarang keinginan kita telah berubah kepada yang lain lagi. Demikianlah seterusnya, tak habis-habisnya.

Daya tarik dunia memang demikian kuat dan menggiurkan. Hampir setiap bencana bersumber kepada ketertarikan kita kepada dunia. Anda saksikan, perampasan, pencurian, perkosaan, penindasan, korupsi, yang merajalela di muka bumi, tidak lain bersumber pada rasa tergiur oleh dunia. Inilah yang disinyalir Nabi s.a.w., “Cinta dunia adalah pangkal segala keburukan.” (Hadis riwayat Al-Baihaqi dan Ibn Abdid Dunya). Meskipun keindahan dan kelezatan dunia hanya sekejap, daya tariknya lebih kuat dari daya tarik langit dan bumi. Sehingga, orang-orang yang berjiawa kuatpun bisa rebah ke pengkuan dunia. (Bersambung)   

Penulis: Yunasril Ali (Sumber: Panjimas, September 2003)         

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda