Cakrawala

Umat Islam dan Malapetaka Bangsa

Written by Panji Masyarakat

KH. Mustofa Bisri

Kehidupan bersama, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, tanpa adanya keadilan dan hukum yang ditegakkan bukanlah kehidupan.     

Sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia, sudah tentu umat Islam memegang peranan besar dalam perjuangan kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan itu. Ini dapat dilihat, misalnya, dari kenyataan bahwa mayoritas pahlawan nasional adalah tokoh-tokoh muslim.

Namun hingga zaman Orde Baru, cita-cita kemerdekaan – antara lain melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa – tak kunjung terwujud. Bahkan, setelah Orde Baru bangsa ini semakin terpuruk dan tercerai berai. Barangkali ini disebabkan karena dua penguasa yang memerintah bangsa ini sebelumnya yaitu Orde Lama dan Orde Baru terlalu kuat dan terlalu sadar akan kekuatannya, namun tidak menggunakannya untuk kemaslahatan bersama. Terutama sejak Orba, kepentingan bersama sudah terkalahkan oleh kepentingan kelompok. Keadilan menjadi makhluk aneh dan hukum menjadi mainan.

Mungkin karena terlalu kuatnya penguasa itulah maka hampir tak ada komponen bangsa yang benar-benar berpartisipasi secara merdeka dan ikhlas karena ghirah terhadap bangsa dan negara – umumnya karena terpaksa atau dipaksa oleh sang penguasa. Umat Islam sendiri pun terpecah antara mereka yang mempertahankan kemerdekaan dan kemudian terkucil dan mereka yang ikut, sepenuh hati atau setegah hati, apa kata pnguasa. Dalam kondisi seperti itu, aturan yang berlaku – seperti di zaman penjajah – hanyalah aturan made in penguasa. Kecuali untuk hal-hal yang tidak atau dianggap tidak “mengancam” kekuasaan penguasa, aturan-aturan lain, termasuk aturan agama, sedapat mungkin dijauhi. Bahkan sering kali aturan agama mesti dicarikan atau dibuatkan tafsir yang sesuai atau tidak bertentangan dengan kehendak penguasa. Sejalan dengan itu bangsa ini terus tergiring atau digiring kepada kehidupan duniawi yang serba materi.

Hanya disingkat Pancasila

Kecintaan yang berlebihan terhadap materi atau dunia, adalah sumber malapetaka. Satu dan lain hal, karena kecintaan terhadap dunia selalu menyeret manusia menjauhi Allah dan norma-norma mulia yang digariskan-Nya. Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pun selalu hanya disingkat Pancasila, sehingga banyak orang yang tidak menyadari atau tidak tersadarkan oleh sila-sila yang menjadi falsafah hidup itu. Seperti halnya Islam yang diwiridkan banyak kaum muslimin tanpa disadari keagungan maknanya

Di antara akibat parah dari pemujaan kepada materi dan dunia ialah pelecehan terhadap keadilan dan hukum. Sesuatu yang membantu mempercepat keterpurukan dan carut-marutnya bangsa ini. Inilah biang terurainya ikatan persaudaraan masyarakat dan bangsa. Kehidupan bersama, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, tanpa adanya keadilan dan hukumyang ditegakkan bukanlah kehidupan.     Umat Islam sebagai pemikul misi rahmatan lil ‘aalamin yang merupakan mayoritas bangsa ini tentu harus bertanggung jawab atas kondisi ini. Umat Islam haruslah terlebih dahulu mereformasi diri mereka sendiri, mereformasi keberagamaan mereka dengan pertama-tama kembali kepada Tuhan mereka Allah SWT, dan norma-norma yang digariskan-Nya. Mereka tidak boleh berhenti belajar terutama tentang agama mereka. Mereka harus berjuang untuk menjadikan ahlaqul karimah, keadilan, dan penghormatan kepada hukum menjadi budaya bangsa. Karena dengan ini – dan hanya dengan inilah – ukhuwah islamiyah dan ukuwah wathaniyah dapat diwujudkan. Dan pada gilirannya masa depan bangsa yang lebih baik dapat diharapkan terwujud. Umat Islam tidak sepantasnya berbicaratentang kontribusinya terhadap masa depan bangsa ini, karena mereka adalah bangsa ini sendiri. Wallahu a’lam

Sumber : Panjimas, September 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

1 Comment

Tinggalkan Komentar Anda