Tasawuf

Tentang Cinta Dunia Sumber Segala Bencana (Bagian 1)

Written by Panji Masyarakat

Dikisahkan, seorang laki-laki berjalan mengiringkan Nabi Isa a.s. Setelah sampai di pinggir sungai, mereka duduk untuk sarapan pagi dengan tiga potong roti. Satu potong dimakan Nabi Isa sendiri, satu potong lagi dimakan sahabat yang mengirinya itu. Sedangkan yang sepotong lagi akan mereka bawa sebagai bekal  jika dalam perjalanan mereka tidak menjumapai makanan. Sementara itu, Nabi Isa a.as. berdiri dan berjalan ke sungai untuk minum. Setelah kembali, ternyata roti yang sepotong tadi sudah raib. Beliau bertanya kepada sahabatnya, “Siapa yang mengambil roti kita?” Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

Tanpa berpikir panjang keduanya melanjutkan perjalanan. Tepat saat tengah  hari, tiba-tiba seekor kijang bersama dua anaknya melintas di hadapan mereka. Lalu Nabi Isa memanggil seekor dari anak kijang itu, yang segera mendekat. Anak kijang itu beliau tangkap dan sembelih, lalu dipanggang. Mereka pun makan berdua. Sisanya dkumpulkan Nabi Isa, dan beliau perintahkan: “Hai anak kijang, bangkitlah berdiri dengan izin Allah!” Maka anak kijang itu pun menjelma kembali dan lantas pergi. Nabi Isa kembali berkata kepada sahabatnya, “Demi Dia yang memperlihatkan pertanda ini kepadamu, siapakah yang mengambil sepotong roti tadi?” Sahabat itu kembali menjawab: “Aku tidak tahu, wahai Nabi.”

Mereka pun meneruskan perjalanan dan sampai di sebuah lembah yang digenangi air. Nabi Isa memegang tangan si pria, dan mereka berjalan di permukaan air. Begitu sampai di seberang, kembali Nabi Isa berkata, “Demi Dia yang memperlihatkan ertanda kepadamu, siapa yang mengambil roti tadi?” Jawabnya tetap: “Aku tidak tahu.”

Akhirnya, mereka sampai di sebuah padang. Di sini mereka beristirahat. Nabi Isa menumpukkan seonggok tanah berpasir, lantas berkata: “Jadilah kau seonggok emas butiran dengan izin Allah!” Setumpuk tanah itu pun berubah jadi  emas. Lalu Nabi Isa membagi tiga onggokan emas itu sembari berujar: “Sepertiga untukku, sepertiga untukmu – seraya menatap temannya – dan seperti lagi untuk yang mengambil roti tadi.” Karena ngarep banget untuk dapat satu onggokan emas yang masih nyisa itu, akhirnya ia mengaku bahwa dialah yang memakan sepotong roti yang ditanyakan Nabi Isa tadi. Kata sang Nabi, “Ambillah untukmu emas ini semuanya.” Dan Putra Maryam ini pu meninggalkan laki-laki itu dengan tiga onggokan emasnya.

Tidak berapa lama kemudian, lewatlah dua perampok berbadan kekar di padang yang lengang itu. Ketika melihat benda berharga itu, mereka pun bersiap merampas dan membunuh pemiliknya. Tetapi orang yang ditinggalkan  Nabi Isa ini segera memohon: “Jangan bunuh aku, lebih baik kita bagi tiga saja emas ini.” Kedua perampok sepakat.

Berhubung mereka sudah lapar, salah satu di antara rampok itu disuruh untuk membeli makananan, yang tak jauh dari tempat mereka. D tengah jalan, begundal yang satu ini berpikir bagaimana dia menyingkirkan teman dan orang yang baru dikenalnya tadi, yang tengah menaga emas mereka. “Untuk apa aku  berbagi dengan mereka? Aku bakal lebih kaya dengan semua emas itu. Karenna itu lebih baik makanan yang akan kubeli nanti dibubuhi racun. Biar mereka mampus semua, dan emas-emas itu menjadi milikku.”

Dalam pada itu, kedua orang yang akan dihabisi itu pun bersepakat: “Emas ini lebih baik kita bagi dua saja. Ketika teman yang beli makan itu kembali, kita habisi dia.”  Benar saja. Begitu sampai, teman itu pun segera mereka bunuh. Sesudah itu mereka melahap makanan, yang sudah disiapkan si terbunuh untuk membunuh mereka. Begitulah, akhirnya kedua orang itu pun mati kejang-kejang akibat racun.

Onggokan emas tetap di tempatnya, sementara di sekitarnya terkapar tiga laki-laki yang telah menjadi mayat. Kemudian Nabi Isa dan beberapa sahabatya lewat di tempat itu. Mereka pun menyaksikan pemandangan yang mengenaskan itu. Berkatai Isa kepada para sahabatnya: “Waspadalah kamu  semua terhadap tragedi cinta dunia seperti ini.”

Begitulah dunia. Ia menjerumuskan sapa saja yang tertarik kepadanya, sehingga orang tenggelam di dalam lumpurnya. Hanya orang-orang yang arif yang bisa selamat dari jerat-jerat dunia. Kendati demkian,  kita tidak bisa menafikan dunia sama sekali, karena kita bagian darinya, dan kita memerlukannya untuk sampai ke seberang, ke akhirat. (Bersambung)

Penulis: Yunasril Ali (Sumber: Panjimas, September 2003)         

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda