Tafsir

Masuklah Rumah dari Pintunya (Bagian 3)

Firman  “Datangilah rumah dari pintunya” mengjarkan kepada kita untuk selalu menempuh pendekatan atau jalan yang  benar dalam memperoleh sesuatu. Jika tidak, akan susah diperoleh,

Samakah kutipan (Zamakhsyari)   itu (“Datangilah rumah dari pintu-pintunya” mengandung maksud hadapilah, “dari tempat yang memang di situ mestinya kamu menghadapinya, dan jangan menggeserkan pendekatan.” –ed)  dengan kutipan dari Baidhawi? Tak usah heran: Kasysyaf, milik Zamakhsyari, adalah karya yang paling banyak dikutip, dirujuk, dikomentari, dan didebat, di antara seluruh karya tafsir Quran yang pernah ada. Tapi tentang sebuah hubungan yang lain, yaitu antara “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit” dan “Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu mendatangi rumah dari punggungnya”,  keterangan yang pada Zamakhayari jarang dikutip yang lain-lain. Hubungan itu ialah ini: seolah-olah dikatakan kepada mereka, tentang bulan dan tentang hikmah menyusut dan membesarnya itu, bahwa semua yang diperbuat Allah Azza wa Jalla tidak lain kecuali hikmah yang besar dan maslahat untuk para hamba-Nya. Karena itu, “tinggalkanlah pertanyaan tentang bulan itu, dan arahkanlah pandangan kamu kepada satu hal yang kamu perbuat, yang tidak bisa dimasukkan ke dalam pengertian kebajikan sedikit pun walaupun kamu mengiranya begitu.“ Itu kemungkinan bentuk hubungan pertama.

Takwa   Kunci Sukses Menghadapi Persoalan

Kemungkinan kedua, bisa juga ungkapan tentang masuk rumah dari punggungnya itu merupakan klausul susulan (istithrad). Yaitu karena sudah disebutkan tanda-tanda waktu bagi ibadah haji, sedangkan perbuatan mereka itu termasuk perbuatan yang berhubungan dengan ibadah haji, lalu disebutlah bab masuk rumah dari punggungnya itu. Adapun yang dimaksudkan ,dengan itu, ialah wajibnya mendudukkan jiwa dan mengikat hati pada keyakinan bahwa semua perbuatan (af”al) Allah (seperti dalam hal perubah- ubahan bentuk bulan) adalah hikmah dan kebenaran tanpa percampuran dan syubhat apa pun, sehingga tak usah ditanya lagi, lantaran di dalam pertanyaan itu terdapat kemungkinan persangkaan orang akan keraguan. “Ia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang mereka perbuat, sedangkan mereka ditanya” (Q.21:23) (Zamakhsyari, 1:341).

Nyata sekali bahwa pertanyaan orang-orang kepada Nabi s.a.w tentang bentuk-bentuk bulan itu oleh para mufasir bukan saja dianggap tidak relevan dengan kenabian beliau, tapi juga tidak pada tempatnya. Juga oleh Zamakhsyari, yang dari mazhab Mu’tazilah yang selalu dikatakan rasional itu. Apalagi bagi Hasyiah Ash-Shawi, yang menyebut adanya dua pendapat mengenai hubungan antara “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit” dan “Itu tanda-tanda waktu bagi manusia dan ibadah haji.” Pertama, jawaban itu (kalimat kedua) tidak mencocoki pertanyaannya. Sebab pertanyaan mereka adalah mengenai hikmah (seluk-beluk!;pen.) bulan yang berubah-ubah. Sedangkan jawabannya mengenai hikmah bulan secara konkret, yaitu sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia dan ibadah haji. Isi jawaban itu bukanlah hal yang yang dibebankan pada mereka untuk mengetahuinya sebagai mukallaf (penanggung beban kewajiban agama), bukan pula hal yang sejatinya mereka butuhkan, karena ilmu tentang tetek-bengek bulan itu “termasuk hal gaib,” kata Ash-Shahwi.

Pendapat kedua, jawaban itu cocok dengan pertanyaan. Firman “mereka bertanya kepadamu tentang bulansabit” memang pertanyaan tentang hikmah alias manfaatnya yang konkret. Nah kata Ash-Shawi, ini lebih sesuai dengan kedudukan orang-orang itu (sebagai sahabat Nabi; pen.), karena pertanyaan tentang bentuk-bentuk bulan termasuk dalam bab “jangan menanyakan hal-hal yang bila dibukakan kepada kamu menyusahkan kamu”( Q. 5:101). (Shawi, 1:87).

Tidak dijelaskannya mengapa begitu. Yang lebih masuk akal, tentu saja, ialah keterangan mufasir abad ke-20 seperti Al-Qasimi (w. 1914). Yaitu bahwa masalah perubahan bentuk-bentuk bulan yang dimaksudkan itu bisa didapat dari ilmu astronomi, dan itu bukan urusan syariat. (Al-Qasimi, 1:130). Padahal Nabi s.a.w, hanya diutus untuk menjelaskan yang syariat.

Sebab hanya yang syariat itu yang tidak ada jalan mengambilnya kecuali lewat Nabi. Maka ketika mereka datang bertanya kepada Nabi s.a.w., tentang sesuatu yang dimungkinkan mengetahuinya tidak dari jalan beliau, beliau menjawab, tapi lalu menjelaskan bahwa bukanlah kebajikan meninggalkan cara bertanya kepada Nabi yang sesuai dengan ilmu kenabian beliau.

Alhasil, seperti dikatakan Raghib, yang paling  layak ialah menakwilkan ayat dengan pemahaman makna “Datangilah rumah dari pintunya” sebagai ajaran untuk selalu mengambil pendekatan secara benar —  sebagai suatu peringatan, bahwa sesuatu yang dituntut tidak dari jalan jalannya yang benar susah perolehannya. Kemudian, firman-Nya “Dan peliharalah dirimu di hadapan Allah” merupakan asungan kepada kita agar menjadikan takwa kepada Allah itu syiar kita dalam semua yang kita pilih, dan menjelaskan bahwa itulah sebenarnya kunci sukses.

Penulis: Syu’bah Asa (Panjimas, 6-19 Februari 2003)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda