Mutiara

Sang Tokoh Pembaruan dan Pembauran

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Haji Abdul Kariem Oey, sahabat dekat Bung Karno dan Buya Hamka, memiliki peran penting dalam mengembangkan Islam di Indonesia. Ia juga menerapkan konsep pembauran terhadap masyarakat Tionghoa dan pribumi agar tidak ada perilaku saling membeda-bedakan ras.

Inilah tokoh penting dalam  gerakan pembaruan  sekaligus pembauran di kalangan kaum Tionghoa:   Abdul Karim Oey, atau  Oey Tjeng Hien.  Kelahiran Padang, Sumatera Barat, 6 Juni 1905 juga dikenal sebagai mubalig. Ia menjadi muallaf pada 1926.

Yang menarik, Karim Oey ternyata punya hubungan yang erat  dengan Bung Karno. Mereka pertama kali bertemu di Bandung tahun 1932.  Dalam memoarnya, Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa,  Kariem Oey mengaku punya banyak persamaan dengan sahabat Jawa-nya  yang kelak menjadi presiden RI itu. Ketika baru kali pertama bertemu, kata dia, mereka seakan sudah terikat satu sama lain. Dari jalinan persahabatan itu kemudian terbangun menghasilkan semangat yang kuat untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Ketika Soekarno dipindahkan dari Endeh ke tempat pembuangannya yang baru di Bengkulu pada tahun 1938, Kariem Oey diminta pindah oleh sahabatnya ke Bengkulu untuk menjadi Konsul Muhammadiyah, menggantikan H. Yunus Jamaludin yang sakit. Ia pun meninggalkan usaha dan menjual semua harta yang dimilikinya. Di Bengkulu ia membangun usaha mebel rumah tangga bersama Soekarno yang dinamai Perusahaan Suka Merindu. Pada awalnya usaha tersebut berjalan lamban, namun pada bulan-bulan berikutnya usaha makin maju. Di kota kelahiran Ibu Fatmawati ini pula Hamka, yang waktu pemimpin majalah Pedoman Masyarakat di Medan, mewawancarai Bung Karno dan menemui Kariem Oey, dan mereka bertiga sempat foto bareng pula. 

Pada masa kemerdekaan, Karim Oey menjadi anggota KNI  Daerah Bengkulu, serta menjadi anggota pertahanan dan ketua Tjabang Fonds Kemerdekaan.  Selain sebagai Konsul Muhammadiyah di Bengkulu, yang diembannya sampai tahun 1952. Ia juga   pernah memimpin Partai Masyumi daerah Bengkulu pada 1946 sampai 1960. Ia juga menjadi Direktur Bank Muslimin Indonesia di Bengkulu.

Ketika pindah dan bermukim di Jakarta, Abdul Karim  pun mengembangkan bisnisnya dalam sektor perbankan, perdagangan, asuransi, dan industri. Pada tahun 1955, ia menjadi anggota direksi PT  Bank Central Asia (BCA) hingga tahun 1973. Tahun 1957  ia menjadi anggota Dewan Pimpinan Pusat  Partai Masyumi sampai tahun 1960 dan menjadi anggota Parlemen Republik Indonesia pada tahun yang sama. Ia pernah menjabat sebagai direktur utama PT Pabrik Kaos Aseli 777 dari tahun  1962 sampai 1980.

Pada 1963 H. Karim Oey dan kawan-kawan mendirikan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). PITI adalah organisasi yang sebelumnya diberi  nama PIT (Persatuan Islam Tionghoa), kemudian digabungkan dengan PTM (Persatuan Tionghoa Muslim) yang merupakan perkumpulan Kho Goan Tjin. Dan H. Karim Oey yang menjadi   ketua umum.  Namun, berdasarkan instruksi Pemerintah, pada 1972 PITI pun berubah nama menjadi Persatuan Iman Tauhid Indonesia yang apabila disingkat tetap menjadi PITI. Haji Abdul Karim Oey  memegang peran penting dalam penyelenggaraan  Masjid Istiqlal, Jakarta. Ia juga berperan dalam pembangunan Gedung Muhammadiyah sebagai bendahara umum pada tahun 1970. Pada 1977, ia menjadi anggota Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB) Pusat dan Anggota Dewan Penyantun PKB DKI.

Menurut  H. Junus Jahja, tokoh Muslim Tionghoa,  Abdul Karim telah memelopori masuk Islamnya orang-orang keturunan. Ia adalah seorang perintis dan pejuang mengesankan yang punya saham penting bagi kejayaan nusa, bangsa, dan agama. Selain menjadi Muslim Tionghoa yang taat, kata Junus,  Abdul Karim memiliki peran penting dalam mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Indonesia. Tidak hanya semata menyebarkan, ia juga menerapkan konsep pembauran terhadap masyarakat Tionghoa dan pribumi agar tidak ada perilaku saling membeda-bedakan ras.

Abdul Karim Oey  wafat pada 14 Oktober 1988 dalam usianya 83 tahun. Untuk mengenang jasanya kepada negara, tahun 1991 dibentuk  Yayasan Haji Karim Oey.  Yayasan yang diketuai oleh H. Ali Karim (Oey Tek Lie) ini memiliki misi untuk meneruskan cita-cita  H. Abdul Karim, di kalangan etnis Tionghoa di Indonesia. Yayasan ini terletak di Jalan Lautze No.87-89, Pasar Baru, Jakarta. Yayasan Haji Karim Oey merupakan pusat informasi Islam untuk WNI muallaf keturunan Tionghoa.  Di sini pula terdapat masjid yang mirip dengan kelenteng. Di dalam masjid tersebut terdapat berbagai macam kegiatan. Salah satunya adalah kegiatan pembinaan muallaf dan  pengajian mingguan.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda