Mutiara

Neraka pun Menjauh

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

“Bagaimana kita nanti dikumpulkan di hari kiamat, ya Rasulullah?” bertanya seserang. Beliau menjawab, “Dua orang di punggung seekor onta, lima orang di punggung seekor onta,sepuluh orang di punggung seekor onta.”Apa makna hadis ini?

Bumi sepi. Langit tidak berpenghuni. Suasana hening dan menyatu. Tuhan lalu membuka sumur di neraka Saqar. Api menyala, membakar laut sampai tak bersisa walau setetes. Bumi hangus, sedangkan angkasa seperti kerak minyak dan leleh tembaga. Keruh. Ketika api menyentuh permukaan langit, Tuhan memadamkannya. Dia lalu membuka gudang di ‘Arasy, yang menyimpan kehidupan. Hujan mengguyur bumi seperti sperma laki-laki. Jasad-jasad bangkit ke bentuk semula. Yang mati ketika bocah tetap bocah, begitu juga yang remaja dan yang tua-tua.

Angin bertiup menerbangkan api tipis, bumi terbelah dan tampakbagai padang yang rata. Dan manusia? Mereka hanya duduk-duduk di atas kubur masing-masing. Tapi, menuruti amal mereka di dunia dulu, ada yang telanjang, ada yang berpakaian. Ada yang bersinar seperti terang lampu, sebagian lagi berkliau seerti cahaya matahari. Hanya saja semua menunduk, tidak tahu mau berbuat apa – dalam kurun waktu yang konon satu milinea itu. (kata lagu Ismail Marzuki, seribu tahun tak lama, hanya sekejap saja).

Begitulah sampai muncul api dari arah barat, diiringi gemuruh gema yang menyuruh semua makhluk ke Padang Mahsyar. Ada yang berjalan dengan telapak kakinya, ada juga yang dengan ujung-ujung jari kakinya seperti orang berjingkat. Jalanan mereka ada yang terang terus, ada juga yang byar-pet, sebentar terang  sebentar gelap.

“Bagaimana kita nanti dikumpulkan di hari kiamat, ya Rasulullah?” bertanya seseorang. Beliau menjawab, “Dua orang di punggung seekor onta, lima orang di pungung seekor onta,sepuluh orang di punggung seekor onta.”

Makna sebenarnya dari hadis itu,kata Al-Ghazali, hanya Allah yang tahu. Tapi keterangan pengarang Ihya’  itu begini:

Ada sekelompok orang bertemu dalam Islam. Mereka ibarat rombongan yang akan bepergian jauh, tapi tak ada yang bisa diandalkan. Akhirnya mereka berpatungan membeli kendaraan. Begitulah sehingga ada seekor onta yang dinaiki 10 orang. Kata Al-Ghazali, ini termasuk amal yang lemah. Lemah karena mereka menggenggam tangan, enggan bersedekah. Kendati demikian, mereka masih dianggap selamat. Nyatanya Allah menjadikan amal mereka seperti seekor onta yang bisa dinaiki bersama. “Karena itu beramalah. Allah SWT akan menjadikannya kendaraan yang sebenarnya, sekalipun itu hasil patungan,” kata Ghazali.

Syahdan, di hari itu didatangkan seseorang yang neraca amalnya lebih berat ke kiri. Karena kasih saying-Nya, Allah berfirman: “Pergi kamu ke tengah manusia, barangkali ada yang mau memberimu satu kebaikan. Dengan itu aku memasukkanmu ke surga.”

Rupanya tak satu pun bersedia memberikan pahala amalnya, takut mereka kekurangan amal baik. Dalam keadaan putus asa, datang seseorang menghampiri:

“Apa yang kau cari?

“Saya perlu satu kebaikan. Saya sudah minta ke mana-mana. Mereka punya beribu-ribu kebaikan, tapi pelit.”

“Saya sudah berbicara dengan Allah,” kata orang itu. “Kebaikan saya ternyata cuma satu. Jelas tidak cukup. Biarlah diambil Allah saja, sebagai hadiah saya untuk ente.”

“Bagaimana kamu datang?” tanya Allah kemudian.

“Kebaikan ini dari seseorang,” katanya.

Lalu orang yang punya satu-satunya kebaikan tadi dipanggil. Allah berfirman, “Kemuliaan-Ku lebih luas dari kemuliaanmu. Peganglah tangan saudaramu itu, ajaklah ke surga.”

Ada juga kisah tentang orang yang amal kebaikan dan kejelekannya sejajar. Kata Allah, dia bukan penghuni surga maupun neraka. Lalu datang malaikat membawa catatan amalnya, meletakkannya di sebelah kiri. Di situ tertulis kata “cih”  — orang itu pernah menggerutu kepada orangtuanya. Karena sekarang sisi timbangan kejelekannya lebih berat ketimbang kebaikannya, orang itu disuruh masuk neraka. Tapi sebelum berangkat, ia minta dikembalikan kepada Allah.

“Wahai hamba-Ku yang durhaka kepada orangtuanya, mengapa kamu minta dikembalikan?” tanya Allah.

“Tuhanku, saya memang akan pergi ke neraka,” kata laki-laki itu. Tapi lipatkanlah siksaan saya, sebagai kompensasi siksaan ayah saya. Selamatkanlah dia dari azabnya.”

Diceritakan oleh Imam Al-Ghazali, Allah tertawa mendengar itu. Lalu berfirman: “Kamu durhaka kepada ayahmu waktu di dunia, tapi lalu berbuat baik kepadanya. Peganglah tangan ayahmu, pergilah bersamanya ke surga.”

Banyak juga orang tua, orang setengah tua, anak muda, perempuan-perempuan, yang menyesali nasib buruk mereka. “Wahai malaikat penjaga neraka, masukkan  ke dalam neraka dari pintu pertama,” tiba-tiba terdengar sebuah suara. Tapi kemudian terdengar pula “Laa ilaaha illallaah!” mereka serempak berucap. Akibatnya neraka pun menjauh dari mereka —  jaraknya kira-kira 500 tahun perjalanan.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768