Mutiara

Yang Bukan Hanya Paham Agama

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Banyak pemuda muslim yang mengeluh berkenaan dengan keadaan buruk yang menimpa umat. Lalu berhimpun dalam satu kelompok untuk memperbaiki apa yang telah rusak dan membangun kembali yang sudah roboh. Apa yang terjadi?

Ini berita dari Ibn Jarir, mengutip Ibn ‘Aun, dari Al-Hasan al-Bashri. Syahdan, orang-orang Mesir bertanya kepada Abdullah ibn Umar: “Kami melihat beberapa perintah dalam Alquran yang seharusnya dikerjakan tapi tidak dikerjakan. Karena itu kami ingin bertemu Amirul Mukminin.”

Abdullah pun membawa mereka menemui Khalifah, yang nota bene ayahnya sendiri.

“Kapan kalian datang?” tanya Umar ibn Khaththab ketika menemui mereka, di Madinah.

“Beberpa hari yang lalu,” jawab Abdullah. “Amirul Mukminin, saudara-saudara dari Mesir ini datang menemui saya, dan berkata, ‘Kami melihat beberapa perintah dalam Kitab  Allah yang seharusnya dikerjakan, tapi tidak.’ Untuk itu mereka menemui Bapak,” Abdullah melapor.

“Kumpul  sini,” kata Umar.

Khalifah lalu mendekati salah seorang dari mereka . Katanya, “Apakah Saudara, demi Allah, membaca Alquran secara keseluruhan?”

“Ya.”

“Apakah Saudara menyesuaikan penghlihatan, perkataan, langkah, dan seluruh perjalananmu, dengan Alquran?”

“…Tidak.”

Umar menanyai mereka satu per satu dengan soal yang sama – dan jawabannya sama pula. Kembali dia bertanya, “Adakah kalian menyesuaikan seluruh perbuatan dengan Kitab Allah, baik dalam diri, anggota badan, perkataan, tindakan, maupun dalam gerak dan diam kalian?”

“Demi Allah, tidak,” mereka menjawab serentak.

“Jadi apakah kalian akan membebankan kepada Umar agar menegakkan hidup rakyat sesuai sepenuhnya dengan Kitab Allah?” tanya Umar lagi. Yakni, sesuai dengan gambaran yang mereka pahami, yang tidak dapat mereka tegakkan seluruhnya sebagaimana mereka akui sendiri. “Tuhan kita telah mengetahui akan terjadi pada kita beberapa keburukan,” kata Umar, yang kemudian membaca ayat: “Jika kamu meninggalkan dosa-dosa besar yang dilarang kamu melakukannya, niscaya Kami akan mengampuni kesalahanmu  yang kecil-kecil dan Kami akan masukkan kamu ke dalam tempat yang mulia.” (Q. 4:31).

“Apakah warga Madinah mengetahui maksud kedatangan kalian?” bertanya Umar.

“Tidak,” jawab mereka.

“Kalau mereka tahu, pasti akan aku nasihati seperti tadi.”

Urung Menghukum

Dalam riwayat lain disebutkan, suatu malam Khalifah Umar berkeliling kota untuk mengetahui soal-soal rakyat biasa. Nah, dia mendengar percakapan suami-istri yang mencurigakan. Ia lalu memanjat pagar, dan ternyata mereka sedang menikmati minuman keras. Umar lalu berbicara kepada yang laki-laki. Tapi apa jawabnya?

“Wahai Umar, Bapak Orang Beriman. Saya melanggar aturan Allah satu kali, tapi Bapak melanggarnya tiga kali.” Lalu kata dia,  “Tuhan berfirman, janganlah mengintip. Tapi Tuan mengintip kami. Firman Tuhan menyebutkan, jangan masuk dari pintu belakang atau tidak memberi salam. Bapak malah melompat pagar. Allah juga berfirman, jangan masuk rumah orang sebelum mendapat izin dan memberi salam. Nyatanya Bapak nyelonong saja.”  

Khalifah tidak jadi menghukum. Karena bukti perbuatan itu ia peroleh dengan jalan yang tidak diterima syara’. Dia hanya menyuruh orang itu bertobat – dan memang dia lakukan.

Nyalakan Lilin

Umar ibn Khaththab tidak hanya paham agama, tapi juga menyadari keadaan masyarakatnya. Ia bertindak realistis, bukan berdasarkan angan-angan. Tidak seperti  orang yang pernah berkata kepada Ibn Sirin: “Semalam aku bermimpi berenang di satu tempat yang tidak berair, dan terbang tanpa sayap. Apa makna mimpiku itu?” Dijawab Ibn Sirin: “Kamu orang yang banyak angan-angan.”

Menurut Yusuf Qardhawi (yang dimasukkan Kuzman ke dalam golongan “Islam liberal”), banyak pemuda muslim yang mengeluh berkenaan dengan keadaan buruk yang menimpa umat. Lalu berhimpun dalam satu kelompok untuk memperbaiki apa yang telah rusak dan membangun kembali yang sudah roboh. “Mereka mengira punya kemampuan untuk segera memenangkan yang hak dan mengalahkan yang batil…. Mereka membesar-besarkan kemampuan sendiri, padahal hanya sedikit,” kata Qardhawi.

Bersikap realistis berarti juga menuntut seseorang untuk bersabar, dan pada akhirnya bersikap lemah lembut. Seorang pemuda datang kepada Nabi s.a.w. dan minta izin berzina. Lho? Para sahabat bukan main kaget, dan marah. Tapi Nabi minta pemuda itu mendekat.

“Apakah kamu suka jika hal itu dilakukan pada ibumu?” tanya Rasulullah.

“Tentu tidak, demi Allah,” kata si pemuda. “Semoga jiwaku dijadikan Allah tebusanmu, ya Rasulullah.”

“Bukankah orang-orang juga tidak menyukai  hal itu dilakukan kepada mereka?”

Lalu Nabi mengulang pertanyaannya dengan menyebut anak perempua pemuda itu kelak, saudara perempuannya, dan bibinya. Jawabannya sama, “tidak” – yang ditimpali Rasulullah, “tidak pula orang lain menyukainya.” Beliau lalu meletakkan tangan di dada si pemuda, dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.” Seperti diriwayatkan Ahmad dan Thabrani, sesudah itu pemuda tadi tidak lagi berniat “main cewek”.

Itulah sikap yang dikatakan sebagai sikap dokter kepada pasien, bukan sikap polisi kepada kriminal. Dan, saudara-saudara, inilah kata-kata yang mungkin mengandung hikmah:  “Daripada mengutuk kegelapan, nyalakan lilin untuk menerangi jalan.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda