Tasawuf

Pencuri Kamar Mandi

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Mujahadah  adalah bersungguh-sungguh dalam membaikkan hati dan melawan hawa nafsu, menghapus sifat-sifat tercela, dan mengerahkan seluruh pikiran  menuju Allah SWT. Apabila semua upaya itu dilakukan, Allah akan mengatur dan mengendalikan hati hamba-Nya, dan kemudian melimpahkan rahmat-Nya.

Ini cerita dari Abu Hamid Al-Ghazali tentang seorang sufi, yang di kampungnya terkenal amat salih. Ia rupanya khawatir: jangan-jangan dia justru menikmati citra dirinya yang baik-baik itu. Ia juga cemas takabur bersemayam dalam dirinya.

Maka, suatu hari orang salih itu masuk kamar mandi orang, dan mencuri pakaian mewah. Ia pun keluar, mengenakan barang haram itu. Tak ayal, orang-orang pun mengejarnya, begitu tertangkap ia pun dihajar. Setelah peristiwa heboh itu ia masyhur sebagai “pencuri kamar mandi”. Dan dengan sebutan yang baru itu sang sufi merasa gembira dan senang, sebab kebanggaannya sebagai orang salih tidak mungkin bisa dinikmatinya lagi.

“Demikianlah para sufi mendidik jiwa mereka sehingga sampai ikhlas kepada Allah SWT, sehingga terlepas dari keinginan dipandang  makhluk dan diri sendiri,” berkata Imam Ghazali. Mereka, kata hujjatul Islam, terkadang mengobati dirinya dengan hal-hal yang tidak difatwakan oleh seorang fakih, padahal orang sudah melihat kebersihan hatinya.

Syahdan, Mu’awiah ibn Abi Sufyan datang menemui Abdullah ibn Zubairdan Ibn Amir. Maka Putra Amir berdiri, menyambut sang tamu, sedangkan Ibn Zubair tetap duduk. Mu’awiah berkata kepada Ibn Amir, “Duduklah,  karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Barang siapa suka menggambarkan seseorang berdiri di hadapannya, maka bersiaplah menempati tempat duduk dari neraka.” (riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi.

Membayangkan atau mengharapkan orang berdiri menyambut kedatangan kita pastilah karena kita mengagungkan dan meyakini kesempurnaan diri sendiri, sehingga orang harus hormat. Ini sikap ta’ajjub alias kagum pada diri sendiri, dan takabur.

Tapi, kembali kepada cerita yang dianggap baik oleh Al-Ghazali tai, Ibn Al-Jauzi mengatakan, “Apakah dibolehkan orang mencari kebersihan hati lewat cara maksiat? Ataukah dalam syariat sudah tidak ada sesuatu yang dapat dipergunakan untuk membersihkan hatinya sehingga ia berani menggunakan sesuatu yang haram?” Menurut Al-Jauzi, perbuatan sufi tersebut tergolong dalam perbuatan penguasa bodoh yang memotong tangan seseorang  yang tidak boleh dipotong dan membunuh seseorang yang tidak boleh dibunuh atas nama politik. “Maukah seorang muslim dikatakan dirinya sebagai pencuri?” tanya Al-Jauzi lagi.

Sejatinya Al-Ghazali adalah tokoh yang paling berjasa membawa tasawuf  ke pangkal syariah. Ia mengatakan, orang yang ingin berasawuf wajib mempelajari fikih terlebih dulu. Tak ada jalan lain, kata dia, kecuali pertama-tama mencari ilmu terlebih dahulu, seperti yang telah dicapai para ulama. Baru setelah itu menanti datangnya pengetahuan khusus yang belum tersingkap bagi umumnya para ulama – melalui mujahadah. Yakni bersungguh-sungguh dalam membaikkan hati dan melawan hawa nafsu, menghapus sifat-sifat tercela, dan mengerahkan seluruh pikiran  menuju Allah SWT. “Dan apabila semua upaya itu dilakukan, Allah akan mengatur dan mengendalikan hati hamba-Nya, dan kemudian melimpahkan rahmat-Nya,” kata Imam.

Ada yang mengatakan, tanpa campur tangan Al-Ghazali maka tasawuf  boleh jadi akan menjadi agama sendiri. Dalam kitab-kitabnya, trutama Ihya’ Ulumidin, Al-Ghazali memang menolak tegas ajaran hulul atau ittihad dengan tokoh-tokohya antara lain al-Hallaj dan Ibn Arabi.

Tapi mengapa Al-Ghazali sekali-kali masih membenarkan tindakan yang bertentangan dengan syariat, seperti dalam kasus “pencuri kamar mandi” tadi?

Menurut Yusuf Qardhawi,  Imam Al-Ghazali memahami tasawuf dengan hatinya terlebih dulu sebelum dengan akalnya. Ia menghayati sebelum memikirkan. Karena itu, kata Qardhawi, ia menerima pemikiran atau suluk kaum sufi sebelum dihadapkan dengan peraturan-peraturan fikih atau logika akal. “Ia melihat tasawuf dengan penuh kecintaan, “ kata tokoh Ikhwanul Muslimin itu. Sedangkan cinta membuat manusia menjadi buta dan tuli sebagaimana diungkapkan syair Al-Ghazali sendiri;

    Pandangan yang penuh kecintaan menutup semua kekuarangan

    Seperti pandangan yang penuh kebencian akan menampakkan semua kejelekan

    Bila yang dicintai berbuat satu kesalahan

    Beribu-ribu kebaikannya akan disebutkan

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat