Mutiara

Pejuang Kemerdekaan yang (Mungkin) Terlupakan (III)

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Sosok ulama yang harus ditunggu Bung Tomo sebelum pertempuran surabaya,  10 November 1945. Ia memperkaya pengetahuan kitab klasiknya dengan karya-karya kaum modernis.

Kiai Haji Abbas  lahir pada 1879 di Cirebon, Ia putra tertua    KH Abdul Jamil, pengasuh Pondok Pesantren Buntet. Mula-mula ia belajar di  pesantren ayahnya, baik kepada dari ayahnya sendiri maupunguru-guru yang didatangkan oleh ayahnya. Pada masa anak-anak, kalau Abbas minta uang jajan kepada ayahnya, sang ayah minta agar  membacakan nadzam Maqshud (riwayat lain Alfiyah). Selesai menyampaikan hafalannya, barulah sang ayah memberikan uang.

Meskipun masih anak-anak,  Abbas mengutarakan keinginannya kepada sang ayah untuk mondok. Karena terus mendesak akhirnya Kiai Jamil mengabulkan keinginan Abbas. “Ya wis lamun arep mondok, pamitan sira marang dulur ira ning Masjid Agung Cirebon,” (Ya sudah kalau kamu ingin mondok, mintalah restu kepada kerabatmu yang ada di Masjid Agung Keraton Cirebon). Setelah mondok di sekitar Cirebon, ia dan Anas adiknya mondok ke Pesantren Tebuireng, Jombang, yang diasuh KH Hasyim Asy’ari. Waktu itu jumlah santrinya masih 28 orang. Di pesantren Tebuireng ini pula Kiai Abbas berkenalan dengan KH Wahab Chabullah.

Sepulang mesantren Kiai Abbas segera menikah dengan nyai Chafidoh. Dari pernikahan ini Kiai Abbas memperoleh keturunan yaitu KH.Mustahdi Abbas, Kiai Abdul Rozak, KH Mustamid Abbas, dan Nyai Sumaryam. Sedangkan hasil pernikahan dengan Nyai Lanah, ia memperoleh keturunan yaitu KH Abdullah Abbas, Nyai  Qismatul Maula, Nyai Sukaenah, KH Nahdudin, dan Nyai Munawaroh Salah seorang putra beliau yaitu KH Abdullah Abbas, disebut oleh KH Mustofa Bisri alias Gus Mus sebagai penyangga Pulau Jawa di bagian barat, bersama KHAbdullah Salam (Jawa Tengah) dan KH Abdullah Faqih (Jawa Timur). Mungkin hanya kebetulan jika ketiganya menyandang nama depan Abdullah.

Pertemuan  Kiai Abbas dengan sahabatnya Kiai Wahab Chasbullah kembali terjadi di Mekah saat mereka  mendalami ilmu agama antara lain kepada Syekh Mahfudz At-Tirmasi, yang terkenal sebagai ahli ilmu hadis.  Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet. Sebagai seorang kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab karya ulama Mesir seperti tafsir Thanthawi  Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrazi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan.

Dikisahkan, ketika Bung Tomo meminta restu KH Hasyim Asy’ari untuk memulai perlawanan terhadap tentara NICA yang membonceng tentara Sekutu di Surabaya, Kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan  dimulai saat ulama dari Cirebon sudah datang. Ulama yang dimaksud adalah K.H. Abbas. Pada tanggal 6 November 1945, KH Abbas bersama Kiai Achmad Tamin dari Losari, dengan dikawal tiga orang dari  Detasemen Hizbullah Resimen XII/SGD, menuju front Surabaya. Mereka terlebih dulu mampir di Pesantren Rembang, pimpinan KH Bisri Mustofa (ayah KH Mustofa Bisri). Di sana sudah menungu para santri yang siap berangkat ke Surabaya. Mereka disambut takbir dan pekik merdeka. Di halaman masjid sudah siap dua mobil yang siap  dua mobil sedan yang siap membawa Kiai Abbas ke Surabaya. Kiai Abbas berada dalam satu mobil dengan Kiai Bisri yang duduk di jok belakang sementara Kiai Achmad Tamin duduk di depan bersama sopir. Sebelum berangkat, para kiai masuk ke masjid dan melakukan shalat sunnah. Usai shalat sunnah, Kiai Abbas memerintahkan kepada pendampingnya, Kiai Achmad Tamin, untuk berdoa di tepi kolam masjid. Kepada Kiai Bisri,  Kiai Abbas memintanya agar memerintahkan para lasykar dan para pemuda yang akan berjuang untuk mengambil air wudhu dan meminum air yang telah didoai. Dan pertempuran 10 November pun berkobar di Surabaya, diiringi gema takbir. Inilah jihad atau revolusi kaum santri melawan kaum kolonial yang ingin berkuasa kembali di bumi Indonesia.

Konon, Kiai Abbas yang mengenakan alas kaki bakiak berdiri tegak dan  berdoa seraya menengadahkan kedua tangannya ke langit. Dan inilah yang terjadi: Beribu-ribu dan lesung  dari rumah-rumah rakyat berhamburan terbang menerjang serdadu-serdadu Belanda. Suaranya bergemuruh bagaikan air bah sehingga Belanda kewalahan dan mereka pun mundur ke kapal induk mereka. Allahu akbar.

KH Abbas wafat pada 1946. Konon, ia sangat kecewa terhadap hasil perjanjian Linggarjati yang menurutnya sangat merugikan Indonesia.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda