Mutiara

Pejuang Kemerdekaan yang (Mungkin) Terlupakan (II)

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Syekh Musthafa Husein Nasution, pendiri Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, Tapanuli Selatan, banyak melahirkan tokoh nasional.  Ia juga berteman dengan tokoh Kristen Tapanuli,

Syekh Musthafa bin Husein bin Umar Nasution adalah pendiri Pesantren Musthafawiyah  Purba Baru,  Penyabungan, Tapanuli Selatan, yang kini punya ribuan santri. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indoesia, bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Putra ketiga dari sembilan anak  dari pasangan Husein dan Halimah ini lahir di Desa Tano Bato pada  1886.  Sewaktu kecil ia bernama Muhammad Yatim.

Pesantren Musthafawiyah  berdiri pada 1912 dengan luas lahan 11 hektar untuk pondok, 20 hektar untuk dijadikan kebun, peternakan,  dan sisanya berupa hutan belantara.  Banyak tokoh besar lahir dari pesantren ini. Di antaranya  Jenderal A.H. Nasution,  Mochtar Lubis,  sastrawan dan wartawan,  dan Sutan Takdir Alisyahbana sastrawan dan pemikir, pendiri Universitas Nasional.

Musthafa Husein Nasution belajar agama kepada Abdul Hamid Hutapungkut Julu selama kurang lebih tiga tahun. Ia sering diajak gurunya ke kebun kopi. Tak jarang mereka bermalam di kebun tersebut dan kembali ke rumahnya menjelang pengajian berlangsung. Atas anjuran gurunya, pada tahun 1900 Musthafa berangkat  ke Mekah untuk berhaji sekaligus memperdalam ilmu agama. Setelah menetap lima tahun,  muncul keinginannya untuk meneruskan belajar ke Mesir. Namun, setelah  merenungkan kembali keinginannya dengan matang, ia memutuskan untuk meneruskan belajar di Mekah. Di sana ia belajar kepada ulama-ulama terkemuka, antara lain Syekh Abdul Qadir Al-Mandili, Syekh Ahmad Sumbawa, Syekh Shaleh Bafadhal, Syekh Ali Maliki, Syekh Umar Bajuned, dan Syekh Abdur Rahman.

Selama bermukim 13 tahun  di Mekah, Musthafa memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya  di Sumatera. Ia ingin mengembangkan dakwah di tanah kelahirannya. Ia  memulai dakwahnya di Sumatera dengan sekadar mendatangi forum-forum pengajian dan berbagai halaqah mengenai masalah-masalah aktual. Lama kelamaan ia merasa perlu untuk mencetak kader-kader ulama yang dibutuhkan masyarakat Batak, dan juga masyarakat Hindia Belanda secara lebih luas. Ia pun mematangkan dan mendirikan sebuah pondok pesantren pada 1912 di Tana Bato, Mandailing. Namun musibah banjir besar melanda kampungnya. Pesantren yang dibangun Musthafa ikut tersapu air. Memperhitungkan supaya lebih aman,  ia memutuskan untuk memindahkan pesantrennya ke tempat lain. Dipilihlah Desa Purba yang agak tinggi karena terletak dekat dengan Gunung Sorik Merapi.   Pesantren itu diberi nama Pesantren Musthafawiyyah, sesuai dengan nama pendirinya. Dalam perkembangannya, pesantren tersebut lebih dikenal dengan Pesantren Purba karena lokasinya berada di Desa Purba Baru, Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal.        

Musthafa dan Pesantren Musthafawiyyah tak bisa dipisahkan. Ia menentukan kurikulum agama yang diajarkan di pesantrennya. Ia menekankan pengajaran fikih berdasarkan mazhab Syafi’i dan mengajarkan tasawuf berdasarkan pemikiran Al-Ghazali. Ia memperjuangkan Islam dengan paham ahlus sunnah wal jama’ah. Kitab-kitab fikih yang diajarkan di pesantren ini, antara lain Matan Ghayah wa Taqrīb, Hasyīyah Bajuri, dan Hasyiyah Asy-Syarqawi. Dalam bidang akidah, kitab-kitab yang dipelajari seperti Kifayah al-Awam, Husnul-Hamidiyah, dan Hasyiyah Dusuki ala Ummil-Barahin.

Syekh Musthafa juga ikut kegiatan politik.  Pada 1915, berbarengan dengan awal pendirian pesantrennya, ia sudah mulai terjun ke panggung politik. Saat itu, ia berkiprah di organisasi politik dengan menjabat sebagai ketua Sarekat  Islam Cabang Tanah Bato, Mandailing. Pada 1930, ia menginisiasi berdirinya organisasi Persatuan Islam Tapanuli. Pendirian organisasi ini untuk menjembatani khilafiyah yang terjadi pada saat itu, meskipun masih kurang memenuhi harapan karena masalah khilafiyah tetap terjadi di dalam masyarakat. Di dalam organisasi ini, ia menduduki jabatan ketua Majelis Syar’i. Ia  juga memelopori berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di Tapanuli Selatan pada 1934. Beberapa kader NU yang kemudian berkiprah di pentas nasional, seperti Nuddin Lubis dan Zainul Arifin, pernah bersentuhan langsung dengan Musthafa.

Pada masa  pendudukan Jepang, Musthafa diminta untuk terlibat dalam Tapanuli Syusyaingi Kai dan Hokokai—organisasi pribumi yang ternyata lebih mementingkan keuntungan pihak Jepang. Lama-kelamaan, ia mulai sadar akan posisinya yang hanya dimanfaatkan tentara Jepang. Ia pun meninggalkan organisasi ini. Menjelang kemerdekaan, Musthafa diangkat sebagai penasihat Majelis Tinggi Islam Sumatera Utara yang berkedudukan di Sipoholon. Ketika Majelis Tinggi Islam dilebur ke dalam Masyumi, Musthafa diangkat menjadi penasihat Masyumi. Pada zaman revolusi, menyusul agresi Belanda, Syekh Musthafa bersama sejumlah ulama mengeluarkan fatwa fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang mukallaf untuk mempertahankan kemerdekaan dari serangan Bealanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.  

Setelah NU keluar dari Masyumi pada 1952, Musthafa yang tetap berkiprah di NU diangkat menjadi anggota Syuriah Pengurus Besar (PB) NU. Pada pemilihan umum 1955, Musthafa terpilih menjadi anggota Konstituante dari unsur NU. Namun, sebelum dilantik  ia meninggal dunia.

Syekh Musthafa dikenal sebagai pribadi yang terbuka terhadap perbedaan. Ia banyak menjalin pertemanan dengan pejabat-pejabat pemerintah kolonial yang membidangi pertanian, kesehatan, dan pamong desa (pada zaman pemerintah kolonial disebut kuria dan raja-raja). Pejabat-pejabat itu tidak jarang dimintanya pula untuk mengajar di madrasah yang didirikannya. Ia berteman juga dengan tokoh Kristen, Ferdinand Lumban Tobing, yang sangat disegani di wilayah Tapanuli.  

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda