Cakrawala

Ber-Tauhid dan Merdeka

Seorang pendaki mengibarkan Merah Putih di puncak gunung (foto : Dio Hasbi S/pexels)
Ditulis oleh Musa Maliki

Sudah 74 tahun bangsa Indonesia merdeka. Saat detik kemerdekaan dulu, setiap orang di Nusantara menginginkan merdeka. Apakah benar? Apakah kesadaran merdeka sudah dimiliki seorang petani saat itu? Atau hanya hanya kaum intelektual dan kaum pergerakan saat itu? Kemerdekaan macam apa? Setiap manusia Nusantara, petani, buruh, pergerakan, intelektual dan kelas-kelas yang lainnya memiliki interpretasi masing-masing akan kemerdekaan baik detik-detik kemerdekaan saat itu (masa lalu) maupun saat sekarang. Yang ingin saya diskusikan pada kesempatan kali ini adalah manusia dalam profesi apapun, dalam ras apapun, dalam agama apapun, Tauhid adalah landasan adiluhung dan sejati dalam menyadari kemerdekaan dan menjalankannya. Tauhid adalah fondasi kemerdekaan.

Tauhid secara umum adalah sumpah seseorang ketika masuk Islam. Ber-Tauhid adalah mengucapkan kalimat shahadat, “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Setelah semua itu, seseorang masuk Islam. Seseorang tersebut seolah-olah sudah menjadi Islam.

Mari kita refleksikan hal itu. Saya kira pikirannya bisa lebih dari hanya sekedar formalisme itu. ad acara berfikir lainnya. Suatu pemahaman melampaui makna umum tentang Tauhid sebagai proses dan sekaligus landasan menuju kemerdekaan.

Tauhid itu tidak hanya sekedar sumpah seseorang masuk Islam. Tauhid tidak hanya itu. Tauhid adalah sumpah diri sendiri untuk merdeka dari anasir-anasir duniawi. Sumpah ini komitmen dirinya atas tiada arti di ‘hadapan’ Tuhan (Allah). Dunia harus ditundukkan kita karena komitmen kita atas pengabdian mutlak kita kepada Tuhan. Kita terlepas dari kondisi duniawi sebab ada suatu kesadaran antara kita dan dunia dan kesadaran akan doktrin dunia yang melenakan kita. Kedua hal ini penting untuk disadari, karena adanya kesadaran ‘wujud’ Allah.

Kita dan dunia harus berjarak. Ada semacam pemisahan atau distingsi antara kita dan dunia. Kesadaran ini membawa kita pada keterlepasan kita akan doktrin dunia yang melenakan kita. Langkah kesadaran ini membawa kita pada spasial kesadaran Tauhid, yakni tidak menduakan Tuhan.

Tauhid itu keberserahan diri seutuhnya kepada Tuhan. Tuhan yang Adiluhung dan yang Sejati, yakni yang Maha Kuasa. Namun harus waspada juga teks Tuhan atau Allah atau Illah hanya penanda. Dalam konteks Bahasa Inggris, biasanya orang menuliskannya dengan teks “God” dan “god”. Jadi tidak usah kaget dan kurang piknik jika mendengar there is not god, God”. Biasa saja. Apa yang kita ‘sembah’ (berserah diri) bisa saja mewujud dalam materi apapun termasuk idea atau imajinasi kita tenatng teks penanda itu. Namun yang real (nyata) adalah dibalik dari semua penanda itu sendiri. Oleh sebab itu waspada dengan teks dan imajinasi kita. Jangan terjebak oleh teks (logosentrisme).

Dalam hal ini dalam rangka ber-Tauhid, seseorang tentunya dibekali oleh Peciptanya jalan berfikir. Jika kita malas, maka jalan itu pun tertutup, maka kita akan sulit ber-Tauhid. Jika kita sulit ber-Tauhid, maka kita sulit merdeka. Berpikir menjadi kunci dari segalanya, bukan doktrin atau penampakkan teks yang seringkali menipu.

Lalu berpikir jenis apakah itu? Berpikir tentang diri sendiri (the self), yakni dari mana, mau kemana, dan untuk apa ada? Apakah “ada”-nya kita memang untuk “ada” atau untuk “Ada”? “ada” (“a” kecil) adalah realitas biasa yang kita jalankan sehari-hari seperti aktivitas bangun tidur, mandi, makan, kerja, berkeluarga, berteman. Bayi, anak-anak, dewasa, tua dan meninggal. Semua itu adalah proses kehidupan biasa yang akan lewat begitu saja, tanpa ada memori mendalam untuk diselami dan digali terus maknanya (bil hikmah).

“Ada” (“A” besar) adalah realitas seseorang yang menghayati hidup lebih serius. Namun ekspresi dan penampilannya tidak selalu atau tidak harus serius. Seseorang sering melakukan refleksi diri dalam setiap langkahnya, misalnya bertanya untuk apa/buat apa? Untuk siapa, apakah ini demi diri sendiri, orang banyak atau justru tidak penting semuanya, karena semuanya adaah proses dalam meniti, menuju, menempuh yang Adiluhung atau Sejati. Ada proses pencarian makna yang berulang dan beragam interpretasi demi hikmah. Singkatnya, boleh dibilang “sering”, seseorang memikirkan proses ini tanpa hanya sekilas menjalani keseharian, tapi secara pemikiran dan spiritual diselami untuk terus diambil maknanya bersama kesadaran kesejatian hidup.

Kedua “ada” dan Ada” dimiliki dan dialami oleh kita. Problemnya adalah, apakah hal ini disadari kita atau tidak? Apakah jika menyadarinya, lalu kita merengkuh, memeluknya, dan menyelaminya, atau berusaha cuek (ignorance) atau lari dari sang “Ada” dengan tetap menjalani proses “ada”?

Jadi proses berpikir tentang “ada” dan Ada” adalah bagian dari proses ber-Tauhid, yakni perjalanan menuju kemerdekaan. Proses berpikir itu membuat kita sadar bahwa ada kekuatan yang Maha dasyat yang menciptakan semesta ini, termasuk kita sendiri. Lalu kita dianugrahi semacam bakat hidup oleh Pemilik kekuatan Maha dasyat itu.

Dalam menuju kemerdekaan, seorang manusia harus memiliki cara berpikir “ada” dan “Ada” untuk mencapai titik keyakinan (iman/kepercayaan diri). Semua proses ini dinamai keberserahan kepada Allah (Islam). Hal itu tampail bersama dengan makhluk lain dalam wujud tindakan baik (ikhsan). Ikhsan inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW (suka menolong, penuh kasih sayang, berperang jika diperangi, dan selalu berkorban). Jadi sumpah shahadat itu sebenarnya mudah dan lengkap, tapi membutuhkan usaha keras dalam menempuhnya dan memenuhinya.

Semua dasar di atas membawa manusia agar terlepas dari doktrin duniawi seperti obsesi atau keterjebakan atas teks negara-bangsa (nation-states), obsesi terhadap teks kesukuan, obsesi akan imajinasi kehebatan dan kebanggaan dirinya sendiri, obsesi akan teks sistem dunia dewasa ini seperti kapitalisme dan nasionalisme. Obsesi dan jebakan teks islamisme, aliranisme, ideologisme, dan isme isme lainnya.

Di wilayah budaya, ber-Tauhid juga bisa melepaskan diri manusia dari jerat konsumerisme. Salah satunya, hasrat duniawi logoisme, yakni manusia hidup dengan (dari) menciptakan merek (brand), untuk/demi merek dan menuju merek. Misalnya, merek mobil, merek tas, merek ideologi, merek agama (Islam, Kristen, Hindu, Budha, dll), merek konsep/istilah/simbol, dan produk produk duniawi lainnya yang dipasasrkan para ‘sales’. Semua itu justru memenjarakan manusia. Manusia menjadi tidak merdeka dengan obsesi-obsesi merek-merek itu semua. Dengan kata lain, manusia gagal ber-Tauhid.

Dari semua itu, sudahkah kita ber-Tauhid sebagaimana tercantum di sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa? Tundalah teksnya, resapi isi dan maknanya. Lagi-lagi, kita harus sadar akan penanda-penanda yang akan memenjarakan kita sehingga kita gagal menuju kemerdekaan. Dengan menyelami semua suka duka hidup kita, maka kita sebenarnya dapat memperoleh banyak makna dan mendalaminya demi memerdekaan diri kita.

Keributan yang selama ini kita hadapi adalah obsesi kita akan logoisme atau merek-merek yang bertebaran (merek politik, ekonomi, fantasi ideologi dan ketakutan eksistensial). Misalnya, ada yang memegang merek bendera tertentu, orang tersebut dicurigai dan tangkap; ada yang jual atau baca buku yang bermerek tertentu dicurigai dan ditangkap/dibakar bukunya; dan masih banyak lagi kita ditipu oleh simbol/merek-merek yang sebenarnya hanya “ada” saja. Di sini manusia rebut demi hal yang tidak penting. Di sini manusia melupakan diri sendiri atas “Ada-nya” dan tentunya menduakan Tuhan dengan hal-hal yang sifatnya duniawi.

Semakin tua umur kemerdekaan kita mengapa justru semakin jauh dari makna dan substansi kemerdekaan? Kita semakin terpenjara oleh ketakutan-ketakutan merek dan melupakan tradisi terdahulu. Kita semakin tertutup dan eksklusif (berteriak teriak pribumi), padahal dulu bangsa kita lebih berwatak kosmopolit, inklusif, dan terbuka bagi siapapun sebagai bangsa maritim.

Misalnya, pemakaian bahasa Indonesia, bukan Bahasa Belanda atau Melayu. Bahasa Indonesia adalah produk bangsa yang berwatak maritim (terbuka). Watak ini suatu olahan social dan budaya bangsa lintas budaya bangsa-bangsa dunia saat itu. Saat itu, Nusantara adalah spasial pusat perdagangan dunia yang menerima banyak kebudayaan dari luar, tapi tetap memiliki dasar kuat watak keunikannya.

Saya tidak bermaksud untuk mengembalikan Indonesia ke masa lalu, tapi saya ingin bersama-sama merenungkan kemerdekaan kita sesungguhnya. Sudahkan kita benar-benar merdeka? Sudahkah kita benar-benar ber-Tauhid?

Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta; Kandidat Doktoral Ilmu Sosial dan Humaniora Charles Darwin University, Australia; Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan

Tentang Penulis

Musa Maliki

Tinggalkan Komentar Anda