Relung

Idul Adha dan Dorongan Hawa Nafsu dalam Beragama

Suasana wukuf di Arafah menjelang Idul Adha pada musim haji 2019
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Bila hawa nafsu menjadi hakim, lalu saling mengutuk dan mengkafirkan, maka siapa yang melontarkan tuduhan akan pulang dengan tuduhannya kepada dirinya,

Hari raya Idul Adha juga biasa disebut sebagai hari raya Qurban, karena pada hari raya ini dan tiga hari sesudahnya umat Islam disunatkan menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagi-bagikan kepada kaum fakir miskin.Seperti kita ketahui, perintah berkurban ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim a.s. yang diperintah oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail, dengan tangannya sendiri. Setelah mendapat kata sepakat dari sang putra, Nabi Ibrahim pun bersiap melaksanakan tugas yang amat berat. Akan tetapi Allah menggantikan keikhlasan kedua hamba yang dikasihi-Nya itu dengan seekor domba yang besar. Peristiwa inilah yang akhirnya menjadi syariat Islam, yang amat menganjurkan kepada umatnya untuk mengurbankan sebagian harta yang disayanginya berupa hewan kurban.

Jika dengan ibadah haji kaum muslimin dipersatukan untuk mengharap ridha atau perkenan dari Allah SWT, maka dengan berkurban, selain meneladani ketaatan dan keihlasan Nabi Ibrahim dan putranya Ismail dalam menajalankan perintah Allah, kaum muslimin diajarkan agar memiliki solidaritas terhadap sesamanya. Terutama terhadap mereka yang papa dan miskin. Jika kita mampu menangkap makna simbolik dari ritual Qurban ini, maka persoalan atau masalah seberat apa pun yang dihadapi umat atau bangsa ini pasti bisa diatasi. Umat atau bangsa yang kokoh tidak mungkin akan terbangun jika tidak ada solidaritas di kalangan warganya.

Kita melihat dalam kehidupan modern sekarang, terutama di kota-kota, yang ditandai dengan kecenderungan hidup yang semakin individualistis, solidaritas, persudaraan, sikap gotong-royong, sikap   tolong-menolong di antara sesama, boleh dikatakan semakin pudar. Orang sudah semakin terbiasa untuk tidak memperdulikan nasib yang menimpa tetangga sebelah rumahnya, dengan alasan tidak ingin mencampuri kehidupan orang lain. Semakin kendurnya ikatan-ikatan solidaritas ini, akan membuat jarak yang sesungguhnya dekat, terasa jauh, sesuatu yang sesungguhnya akrab terasa asing. Sikap semacam ini pada akhirnya akan memperlemah kesatuan dan persatuan kita, baik sebagai umat maupun sebagai sebuah bangsa. Jika kita menjadi lemah, maka dengan mudah pula kita bisa dipermainkan, dan bahkan diadu-domba, oleh bangsa atau negara lain. Dengan begitu, mereka pun akan mudah mengtur dan  menguasai kita. Sejarah telah menunjukkan, bahwa dulu kita dijajah oleh bangsa asing karena tidak adanya persatuan pada bangsa kita. Tentu musuh kita sekarang bukan kaum kolonial seperti zaman lampau yang ingin menguasai wilayah kita, melainkan kaum kolnial baru yang ingin menguasai kedaulatan ekonomi dan kedaulatan politik negeri kita. Tentu saja dengan cara-cara yang lebih halus dan sopan, dan bahkan konstitusional.

Oleh karena itu, kami  ingin mengajak, terutama kalangan kaum muslimin, untuk memperkuat solidaritas dengan mempererat tali persaudaran atau ukhuwah di antara kita. Allah berfirman, “Innamal mu’minuuna ikhwatun, fa aslikhu baina akhawaikum, wattaqullaha la’allakum turhamun.  Artinya, “Sesungguhnya para mukmin bersaudara. Karena itu damaikanlah dua saudara kamu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh rahmat. (Q.S. 49:10).  Selain itu,  Allah juga mengingatkan agar kita senantiasa berpegang pada tali Allah dan jangan bercerai.(Q.S. 3:103).

Banyak hal yang membuat kaum muslimin bercerai berai, di antaranya, seperti disebutkan oleh Muhammad Abduh, tokoh pembaru dari Mesir,  yang terkait dengan ketidaksepakatan dalam pandangan dan pendapat, termasuk dalam masalah furu’ alias ranting; dan kedua karena dorongan hawa nafsu dalam hal agama dan hukum-hukum seperti fanatisme antarmazhab. Dan perselsihan jenis kedua itulah yang paling berbahaya. Sehubungan dengan itu Abduh mengatakan, “Sepanjang seorang Muslim tidak mengabaikan nas-nas Kitabullah dan penghormatan kepada Rasul s.a.w., dia berada dalam keislamannya, tidak kafir, dan tidak keluar dari jamaah muslimin. Tetapi bila hawa nafsu menjadi hakim, lalu saling mengutuk dan mengkafirkan, maka siapa yang melontarkan tuduhan akan akan pulang dengan tuduhannya kepada dirinya, seperti disebut di dalam hadis.” Selamat beridul qurban 1440 H. 

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda