Haji 1440H

Hamka: Haji Mendidik Jiwa Merdeka

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Barangsiapa yang pergi mengerjakan haji dengan hati tulus ikhlas, dosanya akan diampuni, sehingga bersih laksana seorang anak yang baru dilahirkan dari perut ibunya. Bagaiana hubunganya dengan nasib bangsa-bangsa?  

Alquran menegaskan bahwa semua makhluk punya kedudukan yang sama di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya di sisi Tuhan, dan tidak ada yang lebih mulia di sisi Tuhan kecuali yang lebih bertakwa. “ Semua  menyeru nama Tuhan yang satu. Warna kulit, berlainan bangsa dan lidah tiada menjadi perkara yang penting pada masa itu (saat berhaji). Di sanalah (di Mekah pada musim haji)  didikan perdamaian dunia yang abadi, disana segala bangsa bertemu dan bersatu di bawah naungan Tuhan, istimewa lagi bilamana berwukuf bersama-sama di padang Arafah itu, di sana haji yang sejati,” kata Buya Hamka.

Menurut Buya, orang dapat  mengambil manfaat dari ibadah haji  baik  untuk diri maupun bangsanya. Di sanalah, kata dia,  ditanamkan rasa persaudaraan yang sedalam-dalamnya  di antara pemeluk  Islam seluruhnya. Dan di sana pula diserukan perasaan : “Tidak beriman seseorang kamu, sebelum ia cinta kepada saudaranya sebagaimana cinta kepada dirinya sendiri.” Lebih  jauh  Buya menegaskan,  “Di sanalah nyata bahwa persaudaraan sejati itu, bukan di antara satu kerabat saja, atau satu bangsa saja, tetapi di antara segala manusia yang percaya kepada Tuhan.”

Adalah pula di  Arafah dan di sekitar Ka’bah, kata Buya,  umat Muslimin mengucapkan kata perdamaian yang kekal  Assalamualaikum”  dan  Wa’alaikumussalam.  “Mereka bercakap-cakap, menanyakan nasib satu sama lain, memperbincangkan politik dan ekonomi negeri masing-masing. Lalu yang lemah mencontoh kepada yang kuat, dan yang kuat menunjukkan jalan kepada yang lemah. Di sanalah dipupuk rasa kemerdekaan bangsa-bangsa dan di sanalah tempat yang sepatut-patutnya menghidupkan  Lembaga bangsa-bangsa yang memeluk agama Islam.”

Buya Hamka mengisahkan, sejak di zaman kebangunan Islam, terutama sejak negeri Makkah dikuasai oleh Ibnu Saud, telah diadakan tiap tahun pertemuan-pertemuan persahabatan di antara  pemuka bangsa-bangsa yang memeluk agama Islam yang datang naik Haji ke Makkah. Kata dia, satu kali pertemuan itu pernah dihadiri oleh Amir Syakib Arsalan, pemimpin dan pengarang Islam dari Suriah  yang masyhur itu. Satu kali pula dihadiri oleh Said Amin al- Husainy, Mufti Besar Palestina.  Pertemuan dan perbincangan membahas tentang usaha mempermaju agama islam dan memperluas kebudayaan dan pengaruhnya di dalam alam dunia.

Hamka melihat, bahwa Masjidil Haram merupakan pusat dunia Islam  (‘alam  islami). “Di sanalah tertaruh pusaka-pusaka tua, bekas perjuangan yang telah ditempuh oleh Nabi Ibrahim, yang sudi menyembelih anaknya sendiri karena cintanya kepada Tuhan. Yang telah ditempuh oleh Nabi Muhammad s.a.w., yang terpaksa menanggung bermacam-macam penderitaan dan kesakitan di negeri itu seketika mula-mula dia membawa suluh (Islam) yang bercahaya di tengah-tengah kegelapan. Bukan gelap malam tetapi gelap hati sanubari.  Di sana terdapat bermacam-macam syiar, bermacam-macam  i’tibar dari kekuasaan Allah, untuk perbaharui iman. Pantaslah jika Rasulullah  s.a.w.  berkata: “Barang siapa yang pergi mengerjakan haji dengan hati tulus ikhlas, dosanya akan diampuni, sehingga bersih laksana seorang anak yang baru dilahirkan dari perut ibunya”.

Dalam pandangan Hamka, rukun haji itu akan lebih penting artinya jika segala bangsa pemeluk Islam telah sama mencapai kemerdekaan.  Kata dia, sejak zaman penjajahan Belanda bolehlah dikatakan bangsa Indonesia merupakan bangsa pemeluk Islam yang amat rajin mengerjakan haji. “Dengan tercapainya kemerdekaan Indonesia sebagai satu bangsa pemeluk Islam itu, rukun haji akan dikerjakan lebih teratur, karena ekonomi lebih maju, dan yang akan naik haji bukan saja lagi orang-orang  kampung yang jahil , tetapi akan naik haji juga ahli pemerintahan, ahli siasat, pengarang, jurnalis, ulama yang besar-besar.”

Hamka menegaskan,  melalui kemerdekaan yang telah kita capai itu,  kita dapat meneruskan  cita-cita lama atau peninggalan Nabi Muhammad  s.aw. yang telah “terlipat” karena edaran zaman, yaitu persatuan seluruh umat Muslimin. “Karena persatuan yang kokoh, ialah bila tiap-tiap bahagian dunia Islam itu merdeka dari pengaruh asing! Dengan keterangan itu semuanya, tidak seorangpun yang dapat ragu lagi bahwasanya rukun Islam itu semuanya adalah mendidik “jiwa merdeka”, mendidik persatuan bangsa-bangsa, membina keadilan dan kemenangan, di dalam naungan Tuhan yang Maha Esa.”

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda