Mutiara

Antara Dominasi Barat dan Meniru-niru Adat Arab

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Menurut Agus Salim, kaum intelektual tercekam di bawah sugesti superioritas Barat. Kita bergerak menurut garis dan di bawah pimpinan langsung atau tidak langsung orang Barat. Bagaimana dengan aktivis Muslim?

Haji Agus Salim, yang dikenal memiliki pengetahuan Islam yang luas dan mendalam,  merupakan mentor pergerakan kaum muda. Salim memang mempunyai banyak murid dan pengikut yang belajar di sekolah-sekolah Belanda, termasuk anggota dan pengurus Jong Islamieten Bond (JIB)  seperti Samsuridjal, Mohammad Roem,  Mohammad Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimedjo, Jusuf Wibisono, untuk menyebut beberapa nama. Kelak, banyak di antara pemimpin JIB menjadi pemimpin umat Islam di bidang politik dan pemimpin bangsa  sesudah merdeka.

Kita ketahui, pada  umumnya para pemuda yang aktif dalam  gerakan modern Islam berasal dari sekolah Belanda, dan mereka mengenal Islam dari sumber kedua, karena mereka tidak tahu bahasa Arab. Mereka mempelajari Islam dari buku-buku berbahasa Belanda atau bahasa Eropa lainnya serta dari tulisan-tulisan berbahasa Indonesia dan ceramah-ceramah dari Agus Salim atau Mohammad  Natsir. Kedua tokoh asal Sumatera Barat ini meskipun berpendidikan sekolah Belanda, mereka memiliki akses tehadap sumber primer keislaman karena menguasai bahasa Arab. Bahkan Salim pernah belajar Islam di Mekah.

Ketika bekerja di Konsulat Hindia Belanda di  Jeddah, Agus Salim menggunakan waktunya yang lima tahun untuk belajar bahasa Arab dan mempelajari ajaran Islam secara lebih mendalam. Salah satu gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib, ulama pembaru yang berasal dari Kota Gedang, yang masih terhitung pamannya, dan sejak tahun 1876 menetap di Mekkah. “Semasa itu keislamanku seolah-olah bawaan kebangsaan saja  dan bukanlah menjadi agama keyakinan yang bersungguh-sungguh. Tetapi, selama lima tahun di Saudi Arabia saya lima kali naik haji, dan bertambah sikap saya terhadap agama, daripada tidak percaya menjadi syak dari syak menjadi yakin mengakui keadaan Allah dan agama Allah,” kenang Salim dalam surat kabar Bendera Islam (2 Mei 1927) yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.  Maka, tidak heran jika Bung Karno menyebut The Grand oldman Haji Agus Salim seorang ulama dan intelek.  Bung Hatta pun menyebutnya seorang jenial, yang mendapat pikiran yang penting-penting secara tiba-tiba dan mudah saja mengeluarkannya sepintas lalu. Penghargaan yang tepat bagi dia, kata Hatta, adalah julukan “Indonesia’s grand old man.

Yang menarik, meskipun  pengetahuan Haji Agus Salim tentang Islam sungguh sangat luas dan mendalam, seperti dikatakan Deliar Noer, dia mungkin tidak akan tergolong pembaru atau mungkin hanya menjadi penonton saja jika dia tidak bergabung dengan Sarekat Islam melalui perkenalannya dengan Tjokroaminoto.  Apa pun pemikirannya sebelum dia masuk Sarekat Islam, kata Deliar Noer dalam memoarnya, hanya setelah menjadi anggota organisasi ini, pemikiran modernnya dikenal. Dengan lain perkataan, dari dan di Sarekat Islam-lah mula-mula bibit-bibit pemikiran modern tentang Islam disemaikan melalui pemikiran-pemikiran Haji Agus Salim. Bukankah pula tokoh modernis Islam seperti K.H.Ahmad Dahlan dan tokoh  Muhammadiyah lainnya seperti Fakchruddin adalah aktivis Sarekat Islam?

Adapun Deliar Noer sendiri, semasa menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)  bersama-sama kawannya kerap berkunjung ke rumah Haji Agus Salim di Jalan Theresia, Jakarta Pusat. Tentu saja untuk menimba ilmu kepada Salim, yang di awal tahun 1950-an mulai sakit-sakitan.  Dalam otobiografinya (1996) guru besar ilmu politik lulusan Universitas Cornell, tempat Salim pernah memberikan kuliah, mengatakan bahwa Salim adalah seorang yang suka bicara, mulai dari ilmu alam sampai sejarah dan persoalan masyarakat, yang dia kaitkan dengan Quran. “Dengan kami, biasanya aku datang bersama beberapa kawan, termasuk Gunadirdja, ia bisa tak putus-putus berbicara. Sayang ketika itu rekaman belum ada, kalau tidak tentulah banyak yang dapat dituliskan dari pembicaraannya itu. Kelemahan Salim agaknya kurangnya ia menulis. Padahal ia mudah menulis, dengan bahasa dan gaya yang baik dan menarik. Akibatnya warisannya yang langsung sedikit sekali rasanya, sungguhpun harus diakui bahwa ia meninggalkan kader banyak.”    

Melampaui Indonesia

Menurut Mohamad Roem, kawan akrab dan sekaligus kader Haji Agus Salim sejak sebelum zaman kemerdekaan, pada tahun 1926 lingkungan pemikiran Agus Salim sudah melampaui batas-batas Indonesia. Oleh karena itu kehadirannya senantiasa disambut gembira oleh angota-anggota Jong Islamieten Bond, karena itu berarti adanya seorang penasehat yang memberi kursus-kursus agama Islam yang sangat menarik. Di lingkungan JIB sendiri Salim mendapat pangilan kehormatan Ouwe Heer, Orang Tua.Yang meminta Salim menjadi pembimbing perkumpulan ini adalah Samsuridjal, ketua JIB yang kelak menjadi walikota (gubernur) Jakarta, dan Salim menyambutnya sebagai terlaksananya hartewens  alias idaman hati. Salim pun memberikan kursus secara rutin kepada anggota JIB.  

Dalam kongres JIB pertama di Yogyakarta pada hari Natal 1926 Haji Agus Salim mengatakan, bahwa masa mudanya sama dengan masa muda para anggota JIB. “Meskipun dilahirkan dari keluarga yang beragama, dan dibesarkan dengan mendapat didikan agama,” kata Salim, “dalam waktu singkat saya kehilangan kepercayaan. Kepandaian sekolah mengganti kepandaian hidup. Penghidupan pelajar, tanpa tanggung jawab sungguh-sungguh, memudahkan pergantian itu.” Selanjutnya dia menyatakan, bahwa menurut keyakinannya Islam tahan terhadap penyelidikan yang kritis, dan karena itu perlu  diselidiki secara sungguh-sungguh. “Islam memberikan pengertian yang terang tentang penghidupan dunia, tentang penghidupan kemanusiaan pada umumnya dan manusia sendiri. Ia memberikan sarana-sarananya untuk meningkatkan penghidupan yang mungkin dicapai,” katanya.

Menurut Salim, mereka yang menamakan dirinya “intelektuil”tercekam di bawah sugesti superioritas Barat. “Juga dalam gerakan perlawanannya dan usaha melepaskan diri dari dominasi Barat, kita bergerak menurut garis yang diberikan orang Barat dan di bawah pimpinan langsung atau tidak langsung orang Barat.” Dia juga menyatakan bahwa gamelan, wayang, tarian asli, pakaian adat, sebenarnya baru menjadi populer, berkat “penghargaan” dan “kekaguman” orang Barat, dan bahkan bisa dikatakan menjadi populer berkat propaganda orang Barat. Ia juga mengingatkan, dalam segala pergerakan golongan intelektuil yang dia lihat, bahwa suatu gerakan baru hidup jika memperoleh simpati dan perhatian dari orang Barat, malah di bawah propaganda dan kerja sama dengan orang Barat. Kata dia, “Yang demikian itu menunjukkan tidak adanya hormat kepada diri sendiri, menunjukkan kekalahan total sampai kepada jiwa kita sendiri. Kurang hormat kepada diri sendiri memang gejala umum di kalangan rakyat kita, akibat dari penjajahan dan tekanan yang sudah berlangsung beberapa abad malah lebih lama dari penjajahan Belanda.”

Ada sebuah peristiwa menarik pada kongres kedua JIB di Solo tahun 1927, ketika Haji Agus Salim membuka tabir yang memisahkan tempat duduk kaum laki-laki dan perempuan. Sesudah itu dia menyampaikan pidato berjudul De sluiering en afzondering der mevroouw, “Tentang pemakaian kudung dan pemisahan perempuan.” Dia menyatakan bahwa ada kecenderungan di kalangan JIB untuk mencari “yang Islam itu”, sebaliknya dari yang biasa di kalangan terpelajar. Hal ini tentu saja keliru. Salim mengatakan,  “Salah satu kecondongan ialah memisahkan laki-laki dan perempuan dalam rapat-rapat. Orang perempuan disimpan di pojok dengan ditutup sebuah kain putih (tabir). Meniru-niru bangsa Arab ini, lebih-lebih menonjol karena orang perempuan datang bebas dengan bekendaraan umum dan terbuka, tanpa kepala ditutup, seperti pada kesempatan-kesempatan lain, di mana orang perempuan tidak dihindarkan dari penglihatan orang laki-laki.” Menurut Salim, kita harus  “mempelajari Islam dengan sebaik-baiknya dan jika sudah yakin melaksanakan perintahnya…. Tidak termasuk di dalamnya, bahwa orang perempuan harus dipisahkan (afzondering) apalagi harus disendirikan (afsluiting). Bahwa memisahkan orang perempuan itu adat kebiasaan Arab, kenyataan itu tidak menyebabkan pemisahan orang perempuan menjadi perintah Islam. Adat kebiasaan itu mungkin termasuk kepercayaan golongan Yahudi dan Kristen, menurut kepercayan mana kedudukan perempuan rendah, tapi terang tidak sesuai dengan ajaran dan semangat Islam, yang dengan Quran-nya mempelopori emansipasi perempuan.” Demikan Salim, seperti dikutip Roem (Prisma No. 8, 1977).

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda