Mutiara

Leiden is Lijden

Written by A.Suryana Sudrajat

Memimpin adalah jalan yang menderita. Dan Haji Agus Salim adalah pemimpin yang memiliki banyak kader.  

“Rumahnya rumah kampung. Meja dan kursinya sangat sederhana. Sangat berlainan dengan apa yang saya bayangkan tentang seseorang yang sudah terkenal. Pakaiannya pun lain dari yang dipakai orang.  Pegawai negeri, misalnya, pergi ke kantor dengan pakaian lengkap. Celana dan baju tertutup atau baju buka dengan dasi dan sepatu….. Rakyat biasa memakai jas, sarung batik, dan pici.”

Orang itu Haji Agus Salim. Tokoh kedua di Sarekat Islam, gerakan rakyat pertama di Hindia Belanda yang berpolitik, setelah Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Agus Salim memang berbusana menurut modelnya sendiri. Bukan piyama, bukan pula pakaian keluar rumah. Bahannya lebih tebal dari bahan piyama, namun modelnya sebenarnya mirip pakaian tidur. Atasnya menyerupai kemeja, tetapi dipakai di luar celana. Tidak pakai dasi.

“Pakaian Haji Agus Salim mendekati pakaian yang banyak dipakai di tahun-tahun pertama sesudah proklamasi di Yogyakarta. Yang paling menarik adalah tarbus warna merah dengan kuncir hitam.  Tarbus umumnya dipakai golongan Arab dan keturunannya. Dan tetap dipakai sampai umat Islam di Hindia Belanda memboikot baran-barang Italia karena kekejaman bangsa itu terhadap umat Islam di Tripoli (ingat film Lion of the Desert, dengan bintang utamanya Anthony Quinn, yang memerankan tokoh Omar Mokhtar?). Tarbus adalah made in Italy. Malahan dalam demonstrasi itu ada seorang pemilik mobil Fiat membakar mobilnya. Sejak itu Haji Agus Salim menciptakan kopiah model sendiri. Dibuat dari kain hijau (kain serdadu) dan ia namakan peci model OK”.

Yang bertutur di atas adalah Mohamad Roem (Prisma No, 8, 1977). Suatu hari di tahun 1925, Roem diajak Kasman dan Suparno, pengurus Jong Islamieten Bond (JIB) cabang Jakarta, berkunjung ke rumah Salim. Mereka ingin menanyakan kapan Ouwe Heer (“Orang Tua Kita”) ini akan mulai memberikan kursus agama Islam bagi para aktivis JIB. Selain orang pergerakan dan mahir menggunakan berbagai bahasa, tokoh yang antara lain pernah bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah (1906-1911) ini juga ahli agama.

Roem waktu itu pelajar Stovia, baru satu setengah tahun tinggal di Jakarta. Mereka berangkat dari Asrama Stovia di Gang Kwini ke rumah Salim di Tanah Tinggi sekitar 10 menit bersepeda. Jalan yang diaspal hanya sampai Stasiun Senen, seterusnya jalan tanah. “Lewat jalan ini dengan sepeda bagaikan naik perahu di atas air yang berombak,” Roem mengenang.

“Hari ini Anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik, “ kata Agus Salim menyambut Kasman dkk.

Melihat dua kawannya bengong, Kasman menjelaskan :  “Kemarin saya datang, dan ditunggangi sepeda—-bukan saya yang menunggangi sepeda.’  Ceritanya, di tengah jalan dia dikejar hujan. Gumpalan tanah liat yang setengah  basah membuat roda sepedanya macet. Kasman menyambung: “Kemarin saya katakan, ‘Een liedersweg is een lijdenweg. Leiden is lijden”. Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita.

Tahun 1925 Salim bekerja di Hindia Baru, harian yang antara lain dimiliki oleh orang Belanda yang lebih maju pemikirannya mengenai tanah jajahan. Jabatan Salim boofdredacteur, pemimpin redaksi, yang ia terima dengan syarat diberi kebebasan. Tugas pokoknya: mengatur cara dan bentuk pemberitaan, membuat tajuk rencana, dan mengisi rubik “Mimbar Jumat”. Untuk yang terakhir, Salim membuat khutbah Jumat, yang waktu itu merupakan hal baru.

Yang menarik, Salim memimpin koran itu tidak seperti harian partai. Hanya, berita mengenai partai baru dimuat jika perlu diketahui umum. Isi tajuk rencana dan “Mimbar Jum’at” tidak dapat dipisahkan dari pribadinya yang bebas, juga dalam memuji atau menyalahkan siapa saja, termasuk pemerintah. Harian ini maju — hanya, lambat laun tidak sehaluan dengan para pemilik. Maka mereka minta Hoofdredactur mengurangi atau memperlunak kritiknya. Salim meletakkan jabatan.

Lo. Mengapa begitu kontan? Mengapa tidak mencari waktu, karena pendapatan yang mendadak berhenti dan tidak memungkinnya membayar sewa rumah? Demikian Roem suatu kali bertanya kepada Haji Agus Salim.

Jawabanya : “Hal itu sudah saya fikirkan sebelumnya. Selama saya menjadi pemimpin dan pengisi Hindia Baru, saya tidak berbuat seperti pemimpin Sarekat Islam, dan kalau saya menulis tajuk  rencana saya tidak berfikir seperti dalam rapat partai. Saya melihat di hadapan saya rakyat Indonesia pada umumnya…… Saya berusaha benar-benar agar Hindia Baru menjadi harian umum. Dalam hal ini saya mendapat kritik dari kawan-kawan sendiri. Banyak kawan-kawan partai mengirimkan karangan yang tidak saya muat, karena kurang bermutu atau hanya bermutu bagi partai. Tetapi mengenai keyakinan saya mengenai perikehidupan, dan pendapat saya tentang pemerintah Hindia Belanda serta kebijaksanaanya, saya tidak bersedia tawar-menawar….. Apakah memang memerlukan waktu untuk pindah rumah, lebih cepat ditanyakan kepada pemilik rumah….. Kalau saya terus menulis, hanya ada dua kemungkinan: saya tidak mempedulikan permintaan pemilik harian, atau saya menyerah dan berkompromi dengan hati nurani saya”.

Maka Haji Agus Salim, dengan istri dan keenam anaknya, harus berpindah-pindah, dalam keadaan yang makin memburuk. Bahagiakah dia dengan cita-citanya?

Prof. Schermerhorn, lawan Sjahrir pada Perundingan Linggarjati, antara lain menulis dalam catatan hariannya (14 oktober 1946) : “Dalam hubungan ini khusus saya  ingat kepada Salim….. Orang tua yang sangat pandai ini sangat jenius dalam bidang bahasa, mampu bicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat”. 

Leiden is lijden. Dan Salim, yang tidak pernah kena delik pers sehubungan dengan karangan atau pidatonya, adalah contoh yang teguh tetapi sebenarnya wajar — kecuali sekarang, karena bandingannya adalah para pejabat yang dalam beberapa  dasawarsa terakhir ini, suka mengklaim diri mereka sebagai pemimpin rakyat. Padahal  berapa jauh jarak yang memisahkan mereka, baik dari idealisme maupun dari akar mereka.

Setelah kemerdekaan, Haji Agus Salim menjabat menteri luar negeri.  Mungkin karena usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1950 ia tidak lagi duduk di kabinet,  tetapi tenaganya masih diperlukan sebagai penasehat ahli Menteri Luar Negeri. Tahun 1953 ia berangkat ke Amerika Serikat, memenuhi undangan Cornell University, untuk memberikan serangkaian kuliah mengenai gerakan Islam di Indonesia. Kembali ke Tanah Air pada akhir tahun itu juga, Salim mulai tampak sakit-sakitan. Pada ulang tahunnya yang ke-70 sahabat dan murid-muridnya mempersembahkan buku Djedjak Langkah Hadji Agus Salim, yang berisi karangannya dari waktu ke waktu. Pada 4 November 1954 Haji Agus Salim tutup usia di kediamannya di Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat.

Sebelum wafat, Haji Agus Salim dirawat di rumah sakit di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.Di rumah sakit ini pula Deliar Noer, yang diopname waktu itu, mendengar kepergian Haji Agus Salim. Deliar yang waktu itu aktivis HMI dan bersama-sama kawannya  kerap berkunjung ke rumah Haji Agus Salim, kelak menulis dalam otobiografinya (1996): “Ia (Agus Salim) seorang yang suka bicara, apa saja ia bisa bicarakan, dari ilmu alam sampai sejarah dan persoalan masyarakat, dan tentu saja dalam kaitan dengan Qur’an. Dengan kami…  ia bisa tak putus-putus berbicara. Sayang ketika itu rekaman belum ada, kalau tidak tentulah banyak yang dapat dituliskan dari pembicaraannya itu. Kelemahan Salim agaknya kurangnya ia menulis. Padahal ia mudah menulis, dengan bahasa dan gaya yang baik dan menarik. Akibatnya warisannya yang langsung sedikit sekali rasanya, sungguhpun harus diakui bahwa ia meninggalkan kader banyak.”

Mohamad Roem dan  Kasman Singodimedjo, yang kita ceritakan di atas,  adalah dua dari  banyak kader Haji Agus Salim yang punya peranan penting dalam perjalanan sejarah bangsa.Dan agaknya tidak banyak pemimpin yang sekaligus pengkader seperti Haji Agus Salim yang membukakan pintunya bagi anak-anak muda.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat