Tasawuf

Manusia dan Alamnya

Fengshui primbon hingga zen menjadi ciri utama kebudayaan modern (ilustrasi foto : Alexandra Koch/Pixabay)
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Tanahkah yang membuat manusia menjadi suci, atau sebaliknya, manusialah yang membuat tanah menjadi suci?

Ini adalah ucapan Abu Yazid al Busthami, seorang sufi besar. Memang, sejak dulu ada dua arus besar pendapat; yang satu menyebut bahwa manusia dipengaruhi, atau bahkan dibentuk, oleh alam. Yang lain menyebut bahwa manusia mempengaruhi, atau bahkan membentuk, alam.

Yang satu melahirkan peradaban yang bertopang pada kedigdayaan alam; mulai dari primbon kalau di Jawa, astrologi sampai feng shui di Cina misalnya. Yang lain melahirkan peradaban yang bertopang pada kedigdayaan manusia; yang menjadi ciri utama peradaban modern.

Meski demikian, segenap turunan di tingkat praksis ini tidaklah serta merta bisa diklaim sebagai satu-satunya kemungkinan turunan dari dua arus besar pendapat di atas. Primbon dan Feng Shui misalnya, tidaklah bisa di klaim sebagai satu-satunya cara menciptakan ‘harmoni’ dengan alam (bahkan ironi modernitas menunjukkan bagaimana Primbon atau Feng Shui atau budaya lain yang serupa, bisa dimanfaatkan oleh orang-orang modern untuk mengeksploitasi alam misalnya), karena masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa digali dan dikembangkan dari pendapat ini.

Demikian juga dengan modernitas. Modernitas tidaklah bisa diklaim sebagai satu-satunya kemungkinan untuk menunjukkan superioritas manusia, karena hampir semua kitab suci selalu menunjukkan superioritas manusia dibanding alam semesta, termasuk bila dibandingkan dengan malaikat, mahluk yang dianggap paling mulia sekalipun. Artinya, masih banyak juga kemungkinan yang bisa digali untuk menunjukkan kedigdayaan ini di luar model eksploitatif yang ditunjukkan oleh peradaban modern.

Dalam Islam misalnya, kedigdayaan ini ditujukkkan dengan peran manusia sebagai khalifatullah fil ardhi, sebagai wakil Allah di muka bumi. Artinya ia harus mengelola bumi seisinya sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya.

Dalam bahasa kreatif, Muhammad Iqbal, seorang pemikir, penyair dan sufi ‘modern’ dari Pakistan, mengiaskannya sebagai “Kau cipta hutan, aku buat taman.”

Di luar semua pendapat ini, ada sisi lain yang menarik juga untuk dilihat. Yakni sisi hubungan timbal balik secara langsung dan terus menerus antara manusia dan alam. Hubungan timbal balik ini lebih bersifat energi (yang secara satu arah, dari alam ke manusia, menjadi dasar primbon, astrologi, feng shui dan semacamnya). Sisi inilah yang tampaknya juga disasar oleh penyataan Abu Yazid al Busthami diatas.

Pernah ada penelitian yang unik berkait hubungan alam dengan manusia. Setelah mengamati unsur-unsur tanah di banyak daerah yang acap dilanda konflik, penelitian tersebut sampai pada kesimpulan yang cukup mengejutkan: ternyata kandungan dan komposisi tanah tersebut mempunyai kesamaan, dan sangat berbeda dengan komposisi dan kandungan tanah di daerah damai.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak pernah bisa menyimpulkan: apakah kandungan dan komposisi tanah yang tertentu itulah yang menyebabkan manusia di atasnya jadi gampang emosional sehingga cepat melahirkan konflik; atau sebaliknya, manusia yang gampang emosional dan cepat berkonfliklah yang menyebabkan kandungan dan komposisi tanah tersebut berubah.

Meski belum pernah ada penelitian yang lebih mendalam, tapi tampaknya yang kedualah yang lebih bisa diterima.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Tinggalkan Komentar Anda