Tasawuf

Manusia dan Alamnya

Tanahkah yang membuat manusia menjadi suci, atau sebaliknya, manusialah yang membuat tanah menjadi suci?

Ini adalah ucapan Abu Yazid al Busthami, seorang sufi besar. Memang, sejak dulu ada dua arus besar pendapat; yang satu menyebut bahwa manusia dipengaruhi, atau bahkan dibentuk, oleh alam. Yang lain menyebut bahwa manusia mempengaruhi, atau bahkan membentuk, alam.

Yang satu melahirkan peradaban yang bertopang pada kedigdayaan alam; mulai dari primbon kalau di Jawa, astrologi sampai feng shui di Cina misalnya. Yang lain melahirkan peradaban yang bertopang pada kedigdayaan manusia; yang menjadi ciri utama peradaban modern.

Meski demikian, segenap turunan di tingkat praksis ini tidaklah serta merta bisa diklaim sebagai satu-satunya kemungkinan turunan dari dua arus besar pendapat di atas. Primbon dan Feng Shui misalnya, tidaklah bisa di klaim sebagai satu-satunya cara menciptakan ‘harmoni’ dengan alam (bahkan ironi modernitas menunjukkan bagaimana Primbon atau Feng Shui atau budaya lain yang serupa, bisa dimanfaatkan oleh orang-orang modern untuk mengeksploitasi alam misalnya), karena masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa digali dan dikembangkan dari pendapat ini.

Demikian juga dengan modernitas. Modernitas tidaklah bisa diklaim sebagai satu-satunya kemungkinan untuk menunjukkan superioritas manusia, karena hampir semua kitab suci selalu menunjukkan superioritas manusia dibanding alam semesta, termasuk bila dibandingkan dengan malaikat, mahluk yang dianggap paling mulia sekalipun. Artinya, masih banyak juga kemungkinan yang bisa digali untuk menunjukkan kedigdayaan ini di luar model eksploitatif yang ditunjukkan oleh peradaban modern.

Dalam Islam misalnya, kedigdayaan ini ditujukkkan dengan peran manusia sebagai khalifatullah fil ardhi, sebagai wakil Allah di muka bumi. Artinya ia harus mengelola bumi seisinya sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya.

Dalam bahasa kreatif, Muhammad Iqbal, seorang pemikir, penyair dan sufi ‘modern’ dari Pakistan, mengiaskannya sebagai “Kau cipta hutan, aku buat taman.”

Di luar semua pendapat ini, ada sisi lain yang menarik juga untuk dilihat. Yakni sisi hubungan timbal balik secara langsung dan terus menerus antara manusia dan alam. Hubungan timbal balik ini lebih bersifat energi (yang secara satu arah, dari alam ke manusia, menjadi dasar primbon, astrologi, feng shui dan semacamnya). Sisi inilah yang tampaknya juga disasar oleh penyataan Abu Yazid al Busthami diatas.

Pernah ada penelitian yang unik berkait hubungan alam dengan manusia. Setelah mengamati unsur-unsur tanah di banyak daerah yang acap dilanda konflik, penelitian tersebut sampai pada kesimpulan yang cukup mengejutkan: ternyata kandungan dan komposisi tanah tersebut mempunyai kesamaan, dan sangat berbeda dengan komposisi dan kandungan tanah di daerah damai.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak pernah bisa menyimpulkan: apakah kandungan dan komposisi tanah yang tertentu itulah yang menyebabkan manusia di atasnya jadi gampang emosional sehingga cepat melahirkan konflik; atau sebaliknya, manusia yang gampang emosional dan cepat berkonfliklah yang menyebabkan kandungan dan komposisi tanah tersebut berubah.

Meski belum pernah ada penelitian yang lebih mendalam, tapi tampaknya yang kedualah yang lebih bisa diterima.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda