Cakrawala

Belajar Menghayati Islam dari Para Kyai Sederhana

Musa Maliki
Written by Musa Maliki

Konon di Bumiayu pada tahun 1980-an ada seorang kyai yang cukup terkenal dan baik hati. Walaupun kadang sangat keras komentarnya, khususnya dalam mengajar anak-anaknya sendiri. Bisa jadi mendidik dengan cara keras sangat efektif. Namun, mendidik dengan cara keras tidak boleh diartikan dengan cara kejam apalagi dengan siksaan. Keras artinya tegas dan disiplin.

Saya mendapat cerita menarik tentang kyai yang sukanya pakai sarung, peci, dan jas ini. Suatu ketika, beliau dimarahi oleh istrinya. Istrinya menyuruh beliau untuk menjaga warung beras miliknya. Namun ketika dicek sore harinya, di dalam lacinya justru ditemukan sejumlah uang yang tidak sebanding dengan jumlah barang dagangannya. Jadi tidak masuk akal jika dagangannya laku, uangnya tak bertambah.

Sang istri bertanya, “Pak, ini kok barang dagangannya hampir habis tapi uangnya sedikit?”

Sang suami menjawab, “Lah, tadi ada yang beli memang. Lumayan banyak”.

Istri menyahut, “Lho, tapi uangnya kok sedikit?”

Suami berusaha menjelaskannya. “Iya, soalnya pas saya ngobrol dengan mereka sepertinya mereka kurang semangat dalam beribadah.”

Istri menyahut lagi, “Lalu? Apa hubungannya ibadah dengan dagangan ini?”

Suami lalu melanjutkan penjelasannya. “Ya saya kasih-kasihkan saja, biar mereka rajin beribadah, begitu. ‘Kan tidak setiap hari.”

Istri dengan kecewa menjawab, “Walah, Pak, kalau tiap hari saya suruh jaga warung bisa-bisa kita bangkrut, Pak. Kita mau makan apa, Pak?”

Istri lalu merepet dan melebar pembahasannya. “Bapak ini kerjanya cuma beli-beli buku dan isi ceramah. Buku dikasih-kasihkan ke pesantren, sementara sendirinya tidak punya pesantren.”

Suami tampak diam dan sabar diceramahi istri.

Kisah di atas cukup relevan sekali dengan banyak kisah para kyai sederhana lainnya. Mereka semua tidak membedakan antara pekerjaan mencari nafkah dan dakwah atau perjuangan Islam. Misalnya kisah Kyai Ahmad Dahlan dalam memperjuangkan Islam dalam wadah Muhamammadiyah sampai pada titik Beliau menjual perlengkapan rumah tangganya seperti lemari bajunya dan lainnya.

Pak AR Fachruddin jualan bensin (bukan pom bensin) dan tak punya kendaraan hingga suatu ketika dibelikan oleh saudagar batik di Yogyakarta. Pak AR bisa saja kaya karena sebagai Ketua PP Muhammadiyah, beliau dapat menerima amplop, tapi Beliau memilih menjadi ‘talang’ rizki bagi yang lebih membutuhkan sesuai dengan ukurannya (tentunya).

Suatu ketika Pak AR memperoleh amplop dari Malik Fajar. Tak lama setelahnya, Malik Fajar mendapatkan kuitansi bukti tanda terima panti asuhan. Di sini, Pak AR hanya memindahkan saja rezeki Pak Fajar kepada anak-anak yatim piatu yang lebih membutuhkan. Pesan Pak AR yang sulit sekali dijalankan oleh para pendakwah dewasa ini yaitu, “dakwah harus ikhlas dan tidak boleh menerima amplop,” kata Pak AR.

Tidak hanya dari Muhammadiyah, ada pula kisah seorang kyai NU. Hanya saja bagi saya sebagai warga Muhammadiyah, saya kurang memperoleh banyak cerita tentang para Kyai NU yang sederhana dan menjadi suri tauladan umat. Saya hanya mendengar beberapa Kyai NU. Misalnya, seorang kyai memberi dana tambahan bagi murid-muridnya yang sudah lulus dari pesantrennya. Ketika itu para santrinya yang memang sangat membutuhkan biaya kuliah, menerima transfer dari Beliau di rekening mereka. Ada pula kyai NU yang menggratiskan pesantrennya. Bisa jadi masih banyak para kyai yang sederhana dan ikhlas dalam memperjuangkan prinsip-prinsip Islam. Namun kisah-kisah yang saya paparkan adalah narasi sejauh pengetahuan saya.

Kisah di atas memberi pesan sosiologis dan praktis-filosofis bahwa prinsip Islam adalah memberi lebih baik daripada meminta, karena hal ini menyangkut martabat keberagamaan seseorang. Pada awalnya, Nabi Muhammad sendiri bekerja kepada istrinya dan menyebarkan Islam sampai pada titik dimana mereka memang habis-habisan demi perjuangan Islam. Oleh sebab itu, berjuang di jalan Islam secara serius memang amat sangat berat, khususnya menjadi pemimpin atau pendakwah. Mereka dituntut bukan pada ucapannya. Apa yang didakwahkannya adalah perbuatannya, bukan ucapannya.

Praktek keislaman seseorang adalah cara dakwah yang sangat efektif, karena aktivitas orang yang memeluk Islam justru refleksi dari nilai-nilai keislaman mereka. Ke-Islam-an yang otentik adalah proses diikutinya keberislaman seseorang tanpa mengatakan bahwa itu Islam. Sama halnya dengan seseorang mengekspresikan cinta kepada sang kekasihnya tanpa berbusa-busa mengatakan sepatah kata cinta pun.

Dewasa ini kita perlu merenungkan apakah Islam lebih baik yang sering dikatakan (diceramhkan) atau yang dihayati sebagai suatu perjalanan seseorang menuju hanif. Seorang yang hanif adalah seorang yang dirinya hanya tergantung pada Allah SWT semata. Dengan kata lain, dirinya tidak menyekutukan Allah. Islam yang diselaminya adalah agama monoteistik yang bersumber dari Nabi Ibrahim. Kurang lebih konteks tersebut sesuai dengan teks Surat An-Nahl: 120.

Pengalaman keberislaman adalah sejauh mana seseorang memegang prinsip monotheisme demi bertemu dengan Allah SWT di hari akhir dengan berbuat baik. Kira-kira hal ini adalah interpretasi dari seorang sarjana Islam terkemuka dunia, Fazlur Rahman (1980: 115) dalam memahami Surat Al Baqarah: 62 & 112, Surat Al Maidah: 69, dan lainnya yang terkait dengannya. Fazlur Rahman yang telah meninggal pada 1988 telah memberi warisan berupa metodologi tematik dalam memahami Al Quran. Konteks keberislaman menurut beliau ini memberi jalan bagi keberagamaan di dunia untuk saling menghormati dan berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan berlomba-lomba memiliki kebaikan dan kebenaran. Manusia itu milik kebenaran, bukan sebaliknya.

Kisah para Kyai di atas memberi tauldan yang aplikatif bagi kita yang sedang berusaha menjadi baik dalam beragama. Pengorbanan dan keikhlasan dalam memperjuangkan kebaikan adalah kunci bagi penyebaran Islam sendiri. Apa yang nampak dari praktek beragama mereka adalah cermin, refleksi dan cahaya iman mereka (monotheisme) yang eksklusif. Segala hal yang dijalani secara eksklusif seperti ritual dalam Islam sendiri ditampilkan oleh para kyiai-kyia tersebut secara inklusif dalam tindakan kebaikan yang sifatnya universalistik.

Begitu banyak orang yang masuk Islam gara-gara kebaikan seseorang, bukan diceramahi atau dihakimi oleh seseorang. Ada pula orang yang masuk Islam karena keindahannya. Misalnya, keindahan Al Quran, keindahan ajaran Islam akan kasih sayang terhadap yang miskin, atau keindahan penghormatan atas yang berbeda dengannya.

Saya kira kita perlu merenungkan narasi kisah di atas dengan perilaku kita dan para pendakwah Islam, ustadz, ulama, atau yang mengaku-ngaku atas semua hal tersebut serta produk polesan media. Hal yang perlu digarisbawahi adalah Islam bukan alat branding seseorang atau alat branding suatu produk tertentu untuk tujuan akumulasi kapital atau sarana mengejar kekuasaan. Jika kita menghayati Islam, maka yang keluar dalam prakteknya adalah Islam inklusif, yakni berbuat baiklah kepada sesamanya demi yang eksklusif, yakni kepercayaannya atas Allah (iman) dan demi pertemuannya di hari akhir.

Penulis adalah Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta; Kandidat Doktoral Ilmu Sosial dan Humaniora, Charles Darwin University Australia; Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan

About the author

Musa Maliki

Musa Maliki

Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta dan Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan; Karyanya (bersama Asrudin Aswar) "Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat" (2019)

1 Comment

Tinggalkan Komentar Anda