Cakrawala

Dupak Bujang

Untuk menyelesaikan persoalan yang acap menghadang dalam proses komunikasi, budaya Jawa menggolongkan komunikasi paling tidak dalam tiga model: esem (senyum), semu (kias/isyarat) dan dupak (tendangan) (foto ilustasi : sanint/Pixabay)
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Bicaralah menurut bahasa pendengar. Tentu, kita semua tahu aturan ini. Pesan tak mungkin diterima dengan baik bila pendengar tak memahami bahasa pemberi pesan. Tapi, dalam kenyataannya, orang selalu saja menemui kesulitan untuk serta merta mengaplikasikan aturan komunikasi paling sederhana ini.

Meski tampak sederhana, persoalan ini segera menjadi rumit bila dihubungkan proses transmisi isi pesan itu sendiri. Bahkan apa yang kita sangka telah disampaikan dalam bahasa yang jelaspun, tidak terjamin akan diterima dengan jelas pula oleh penerima pesan.

Isi pesan bukan cuma potensial terdistorsi, tapi bahkan tak jarang disalah-pahami. Hal ini terjadi karena penerima pesan selalu akan membaca pesan dalam kerangka pemahamannya sendiri. Pemahaman yang sebelumnya sudah terbangun di pikirannya.

Ada sebuah contoh unik yang pernah dicatat seorang missionaris di Papua. Suatu waktu dia bercerita tentang proses penyaliban Jesus pada satu suku tempat dia bertugas. Anggota suku ini -begitu pengakuan sang missionaris- sejak awal tampak perhatian menyimak cerita yang disampaikannya.

Celakanya, ini yang membuat sang missionaris terhenyak, bukannya bersimpati pada pengorbanan Jesus seperti yang diharapkannya; anggota suku ini malah bertepuk tangan dan memuji-muji Judas, yang dalam keyakinan sang missionaris justru dikategorikan sebagai pengkhianat.

Selidik punya selidik, ternyata suku ini punya sistem nilai yang unik dan tidak lumrah: menganggap penipuan -lebih-lebih penipuan terhadap orang dekat- sebagai prestasi yang bisa jadi simbol kebanggaan di kalangan suku. Semakin dekat hubungan seseorang dengan pihak yang ditipunya, semakin dianggap hebat posisi orang tersebut.

Jadi tak mengherankan bila mereka justru memberi tepuk tangan pada Judas yang berhasil ‘menipu’ Jesus; dan tak tertarik untuk membaca pesan kasih sayang dan pengorbanan yang justru ingin disampaikan oleh sang missionaris lewat cerita itu.

Kisah sang missionaris ini secara ekstrim mempertunjukkan bagaimana sebuah pesan -betapapun jelasnya- tidak serta merta diterima dalam arah dan pengertian yang sama dengan yang dimaksud oleh pemberi pesan. Hal ini, dalam skala dan level yang berbeda, tampaknya selalu terjadi dalam proses komunikasi dimanapun.

Buku yang sama bisa dipahami secara berbeda oleh pembaca yang berbeda. Kitab suci yang sama bisa menghasilkan sekian aliran, sekte atau sempalan yang tidak jarang saling bertentangan satu sama lain.

Inilah fakta telanjang, betapa yang namanya komunikasi tidak serta merta menghubungkan (seperti yang dimaksud dengan makna komunikasi itu sendiri) satu pihak dengan pihak lain dalam arah dan pemahaman yang sama. Sesuatu yang semakin kesini semakin mudah kita cari contohnya dalam kenyataan.

Fakta ini sekaligus mengandaikan adanya syarat ‘keterhubungan’ lain yang sudah terjalin di luar atau sebelum proses komunikasi itu sendiri berlangsung, ‘keterhubungan’ yang di ujung terjauhnya akan selalu bersifat ‘pra-bahasa’.

Istilah ‘pra-bahasa’ dipakai di sini untuk menunjuk pada kenyataan dan pengalaman yang tak mungkin secara sempurna disimbolkan lewat bahasa. Tanpa ‘keterhubungan’ semacam ini, komunikasi akan gagal merealisasikan makna sejatinya; yakni tersampaikannya pesan.

Untuk tambahan penjelasan, mungkin kita bisa meminjam istilah yang dipakai Al Qur’an: ayat. Salah satu pengertian ayat adalah tanda atau penunjuk; yang berfungsi menandai atau menunjukkan sesuatu. Secara sederhana, ini bermakna bahwa kecuali yang terkandung di dalam dirinya sendiri, ayat juga berfungsi menandai atau menunjukkan kenyataan di luar dirinya.

Padahal, kalau secara bebas kita pinjam penjelasan Imam Ja’far Shodiq bahwa ada tujuh lapis pemaknaan atas ayat-ayatNya, menjadi tak terbayang betapa luas dan kayanya kemungkinan pemahaman atas kenyataan; apalagi angka tujuh dalam ungkapan bahasa Arab acap dipakai untuk menunjukkan ketakterbatasan.

Nah, keragaman kemampuan orang untuk ‘mengalami’ kenyataan yang ditunjuk ayat-ayat inilah yang kadang bisa mengganggu, atau bahkan mungkin mengacaukan, proses komunikasi.

Tentang hal ini, ada pelajaran menarik dari fragmen sejarah pertemuan Ibn Rusyd dengan Ibn ‘Arabi. Ibn Rusyd sang filsuf -yang sudah sangat tua- sengaja memanggil Ibn ‘Arabi sang sufi -yang waktu itu konon belum dua puluh tahun- karena tertarik dengan cerita tentang ‘pencerahan’ yang telah diterimanya.

Ketika bertemu, Ibn Rusyd langsung menyalami dan memeluk Ibn ‘Arabi sambil berkata “Ya”; yang langsung dijawab “Ya” juga oleh Ibn ‘Arabi. Ibn Rusyd tampak senang karena merasa bahwa Ibn ‘Arabi memahami maksudnya. Tapi, melihat Ibn Rusyd begitu gembira, Ibn ‘Arabi tiba-tiba berkata “Tidak”. Ini membuat Ibn Rusyd tampak gusar dan bertanya “Jawaban apa yang kamu peroleh melalui pencerahan dan ilham Tuhan? Sama seperti yang kami candra lewat pemikiran spekulatifkah?”

Ibn ‘Arabi menjawab “Ya dan tidak. Antara ya dan tidak, jiwa meninggalkan jasadnya dan leher terpisah dari badan!” Mendengar jawaban ini, Ibn Rusyd seketika tampak pucat. Karena memahami makna jawaban ini, dengan gemetar ia mengucap “tak ada kekuatan kecuali milik Allah.”

Dalam kasus ini, bisa diandaikan bahwa kedua belah pihak memiliki perbendaharaan ‘pra-bahasa’ yang sama atas realitas yang hendak dikomunikasikan, sehingga pesan secara utuh tersampaikan tanpa butuh terlalu banyak bantuan bahasa. Cerita semacam ini, dalam beragam variasi, sebenarnya masih banyak terjadi. Terutama bila dua orang yang ‘sangat matang’ perbendaharaan ‘pra-bahasa’nya bertemu.

Kembali ke awal pembicaraan kita, untuk menyelesaikan persoalan yang acap menghadang dalam proses komunikasi, budaya Jawa menggolongkan komunikasi paling tidak dalam tiga model: esem (senyum), semu (kias/isyarat) dan dupak (tendangan).

Model esem (senyum) adalah mereka yang dianggap mampu mengungkap atau menangkap secara utuh pesan yang disampaikan hanya lewat bahasa tubuh, tanpa bahasa verbal.

Model kedua adalah semu atau pasemon, yang bisa berarti kias atau isyarat. Model komunikasi ini dianggap lebih rendah dari esem, karena masih butuh lebih banyak bahasa agar pesan yang disampaikan tak terdistorsi.

Yang paling rendah adalah model dupak, tendangan. Model komunikasi ini butuh kejelasan bahasa; karena pengguna model komunikasi ini dianggap tak mampu menangkap pesan kecuali disampaikan secara presisi.

Kalau boleh meminjam, contoh untuk ketiga model komunikasi ini secara agak mirip juga kita temukan dalam proses turunnya larangan minuman keras yang dipakai Al Qur’an. Pertama kali, Al Qur’an cuma memberi gambaran bahwa mudharat yang terkadung dalam minuman keras lebih besar dari manfaatnya.

Orang yang peka, segera menangkap pesan jenis ‘esem’ ini, dan tidak lagi menyentuh minuman keras. Bagi mereka informasi ini sudah cukup jadi pegangan untuk mengharamkan minuman keras bagi diri mereka sendiri.

Pesan kedua turun dalam bentuk ‘semu’, dalam keadaan mabuk orang dilarang sholat. Disini sudah lebih jelas dari pesan pertama karena sudah ada larangan yang tegas, meski terbatas. Orang dengan kepekaan yang cukup, segera menangkap pesan ini sebagai larangan menyentuh minuman keras.

Meski sudah ada pesan ‘esem’ maupun ‘semu’, tidak semua orang memahaminya sebagai larangan sebelum ada kalimat yang secara jelas menegaskan haramnya minuman keras. Bagi golongan ketiga ini pesan ‘dupak’ diturunkan, minuman keras secara tegas dan jelas dilarang.

Ketiga model kepekaan ini muncul dari tiga basis pemahaman yang berbeda terhadap realitas. Untuk mempermudah kita sebut saja kesadaran hakikat, ma’rifat dan syariat.

Apa yang kita elu-elukan sebagai capaian tertinggi peradaban modern ini tampaknya muncul dari lapis kesadaran yang paling bawah, yakni kesadaran dupak. Dalam agama menggejala lewat dominasi syariat, bahkan lebih spesifik lagi lewat kaidah-kaidah fiqh yang berkait dengan hukum; dalam dunia ‘sekular’ menggejala lewat dominasi positivisme.

Jadi, lengkaplah sudah untuk menyebut peradaban ini sebagai peradaban dupak; yang -entah bagaimana sejarahnya- di Jawa selalu dikaitkan dengan bujang, pegawai atau orang rendahan; sehingga menjadi dupak bujang. Ironis.

Padahal, bila merujuk pada kisah sapi betina dalam surat Al Baqarah, keinginan berlebih untuk presisi inilah yang akhirnya acap membelenggu diri sendiri. Ketika Nabi Musa alaihi salam menyuruh bani Israil menyembelih seekor sapi betina, mereka meminta kejelasan: mulai kategori usia, warna sampai ciri-ciri fisik dan lakunya; sehingga akhirnya membuat mereka malah kesulitan mencari dan hampir-hampir tak menemukannya. Mestinya, kalau perintah pertama langsung dilaksanakan tanpa bertanya, sembarang sapi pun sudah cukup memenuhi syarat.

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Tinggalkan Komentar Anda