Mutiara

Pangeran Pemogokan

Perangko Indonesia tahun 1961 bergambar Surjopranoto
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Soeryopranoto menjelma menjadi pemimpin buruh yang radikal. Ia menjadikan Islam sebagai basis organisasi. Bagaimana dengan adiknya, Ki Hadjar Dewantara?

Melihat  latar belakang keluarganya, sebetulnya agak mustahil ia  mencemplungkan diri di lingkungan yang penuh gejolak. Tapi itulah  Soeryopranoto,  tokoh buruh dan pergerakan  kemerdekaan, yang berasal dari trah Pakualaman, Yogyakarta.

Soeryopranoto  mulai serius bergelut di bidang kemasyarakatan setelah mendirikan Adhi Dharma — semacam satuan kerja untuk membantu rakyat mengurus masalah-masalah sosial, politik, dan ekonomi. Himpunan ini mendirikan poliklinik, panti asuhan yatim piatu, rumah jompo, dan bank-bank desa, selain memberikan bantuan hukum dan lain-lain selama proses pengadilan. Soalnya banyak orang Jawa yang bukan saja buta huruf, tapi juga tidak mengerti kesalahan yang ditimpakan. Pada 1915 Adhi Dharma juga mendirikan sekolah pribumi, yang pertama yang mengikuti bentuk HIS (Holandsch Inlandshe School). Ini boleh dikatakan cikal-bakal Taman Siswa yang didirikan Soewardi Soeryaningrat.  

Ketika belajar di Perguruan Tinggi Pertanian di Bogor, Soeryopranoto pernah mengusulkan pembentukan organisasi politik mahasiswa Batavia dan Bogor. Kurang mendapat dukungan. Tapi segera sesudah itu para mahasiswa STOVIA justru aktif memobilisasi dana beasiswa yang diprakasai Dr. Wahidin, yang kelak menjelma menjadi perkumpulan Boedi Oetomo. Soeryo sendiri menjadi sekretaris pertama perhimpunan yang didirikan pada 28 Mei 1908 ini. Tapi kemudian keluar dari BO yang hanya berkhidmat untuk kepentingan priayi Jawa itu.  Lalu bergabung dengan Sarekat Islam. Dan melalui organisasi pimpinan Tjokroaminoto ini mengorganisasikan berbagai pemogakan buruh pada 1920-an.

Dari situ ia dikenal sebagai “Pangeran Pemogokan.” Pemimpin massa ini memang, uniknya tidak pernah  meninggalkan gelar kepangerannya yang asli — sementara adiknya, yang juga cabut dari BO. Soewardi Soeryaningrat, pada usia 40 mengganti nama dan mencopot gelarnya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Tak berarti Ki Hajar merendahkan statusnya. Sebab, hakikatnya pendiri Indische Partij itu mengerek dirinya dengan megah: nama itu berarti “seorang terhormat (ki) yang mengajar, dan perantaraan dewa.”

Pada 1917, Soeryopranoto mereorganisasi Adhi Dharma menjadi serikat buruh gaya Barat dalam wadah bernama Persatuan Buruh Pabrik. Sejak itulah ia menjadi salah seorang pemimpin buruh Indonesia terkemuka di luar gerakan sosialis revolusioner. Ia mengaitkan kegiatan-kegiatannya dalam SI. Sampai-sampai popularitasnya pernah mengancam kepemimpinan Tjokroaminoto pada Kongres SI 1919. Di SI Soeryo termasuk kelompok Yogya, yang dedengkotnya antara lain Haji Agus  Salim dan Abdoel Moeis, yang berlawanan dengan kelompok Semarang di bawah Semaoen dan Alimin yang dikenal sebagai SI Merah. Harap diketahui, Soeryo memang antikomunis. Ia pula yang bersama Salim melakukan “pembersihan” di tubuh SI dari unsur merah (1920).

Lahir pada 1874 di Yogya. Pangeran Soeryopranoto berasal dari keluarga Pakualaman. Ayahnya, Pangeran Soeryaningrat, putra tertua Paku Alam III dari istri utama, tidak mewarisi kekuasaan ayahnya, yang ketika meninggal dalam usia 40 malah digantikan, atas keinginan Belanda, oleh saudara sepupunya. Sepeninggal Paku Alam IV, yang menjadi Paku Alam V juga orang lain: adik kakeknya.

Karena itu Soeryaningrat boleh dikatakan miskin. Kedua putranya, Soeryopranoto dan Soewardi tidak bisa melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School). Ia masuk sekolah pertanian di Bogor, sedangkan adiknya di STOVIA. Kiranya kondisi tak adil itulah yang mendorong mereka berkecimpung dalam pembaruan sosial.

Soeryo menjadi pangeran yang memimpin perjuangan kaum buruh. Sebaliknya, Soewardi pemimpin golongan atas. Ia melibatkan dari dalam usaha mempertahankan budaya Jawa dari gempuran pengaruh Barat. Kata Savitri Scherer, jika aktivitas Ki Hajar, di bidang politik maupun budaya, selamanya berdasarkan sikap-sikap Jawa yang sinkretis dan sekuler. Soeryopranoto memakai Islam sebagai basis organisasinya (yang radikal). Dan itu bisa.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda