Mutiara

Ketika Sang Jiwa Suci Menagih Janji

Abu Ja'far Al Manshur, Khalifah dinasti Abbasiyah
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Muhammad bin Abdillah, cicit Al-Hasan bin Ali, yang digelari Jiwa Suci dibaiat Bani Hasyim, untuk menggantikan kekuasaan Bani Umaiyah yang tengah goyah. Termasuk Abu Ja’far al-Manshur, yang kelak menjadi khalifah dan mengeksekusi Jiwa Suci.

Pergantian kekuasaan dari dinasti Umaiyah ke dinasti Abbasiyah ternyata melalui proses yang berliku. Pada mulanya adalah dukungan kaum Alawi Kaisaniyah kepada Muhammad bin Ali Hanafiyah,  putra Ali bin Abi Thalib dari ibu selain Fatimah. Sepeninggal Hanafiyah dukungan diberikan kepada Abu Hasyim, putranya. Tapi Abu Hasyim meninggal diracun dalam perjalanan pulang ke Madinah setelah bertemu Khalifah Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan (Bani Umaiyah). Lantaran jauh dari saudara, ia kemudian mewasiatkan hak khilafahnya kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, yang menjadi pemimpin kaum Abbasi di Hamimah, Syam (nama lama untuk wilayah Suriah, Palestina dan Yordania). Tentu tidak semua kaum Alawi, terutama yang di Irak dan Persia, menerima keputusan politik ini. Tapi karena tidak ada pilihan lain, mereka terpaksa menerimanya. Ketika Muhammad wafat, ia menurunkan mandat kepada putranya, Ibrahim yang berjuluk Al-Imam.

Dalam pada itu, para pemuka Bani Hasyim baik yang Alawi maupun yang Abbasi, menggelar pertemuan di Mekah. Mereka  mendiskusikan perkembangan politik seiring menurunnya kekuasaan Bani Umaiyah. Di antara yang hadir adalah Abul Abbas as-Saffah dan saudaranya, Abu Ja’far al-Manshur, yang kelak menjadi khalifah Abbasiyah. Mereka adalah cicit Ibnu Abbas, dan saudara Ibrahim Al-Imam yang mendapat mandat tadi. Mereka  kemudian membaiat Muhammad bin Abdillah, cicit Al-Hasan bin Ali, yang digelari ‘Jiwa Suci’. Termasuk Abu Ja’far al-Manshur.

Tahun 131 H Irak  jatuh, dan pada pada 132 H. secara mengejutkan Abul Abbas as-Saffah  dibaiat sebagai khalifah. Dan pada tahun ini pula Khalifah Marwan berhasil dibunuh. Kekuasaan Bani Umaiyah pun tamat (7 Juli 750). Ketika mengetahui Daulah Umaiyah runtuh dan Abul Abbas dibaiat, kaum Alawi di Madinah, pendukung Jiwa Suci, datang ke As-Saffah di Kufah menagih janji. Termasuk Abdullah bin Hasan, ayah sang Jiwa Suci. Mereka disambut dengan kelimpahan harta oleh As-Saffah. Bahkan Abdullah dipersilakan untuk menuliskan apa yang ia minta. Meskipun diberi harta berlimpah, Abdullah tetap menginginkan putranya untuk menjadi khalifah. Abu Abbas as-Saffah mangkat pada 136 H., tetapi yang menggantikannya adalah Abu Ja’far Al-Manshur, yang tempo hari membaiat Jiwa Suci. Berbeda dengan abangnya yang murah hati, Al-Manshur berpegang pada prinsip “tujuan menghalalkan cara”. Termasuk mencekik kehidupan mereka di Madinah.  

Muhammad bin Abdillah sang Jiwa Suci yang dikhianati Abu Ja’far al-Manshur,  kemudian melakukan perlawanan setalah dibaiat oleh penduduk Madinah. Sebelum itu  mereka meminta fatwa kepada Imam Malik. Menurut Imam Malik, baiat kepada Muhammad bin Abdillah alias Jiwa Suci lebih sah karena dilakukan lebih dulu, sedangkan baiat kepada Abu Ja’far al-Manshur diberikan karena intimidasi. Toh akhirnya Jiwa Suci berhasil ditangkap,  dan dihadapkan kepada Al-Manshur.

Konon, ketika mendengar seorang penyair meratapi Bani Umaiyah, ia menangis. Kata Abu Ja’far Al-Manshur, sang paman,  “Kamu menangisi Bani Umaiyah, sementara kamu menginginkan Bani Abbas seperti yang kamu inginkan?”

“Paman,” jawab sang Jiwa Suci, “kita dulu begitu membenci Bani Umaiyah. Tetapi siapakah Bani Abbasiah, kecuali kaum yang lebih kecil rasa takutnya kepada Allah dibandingkan mereka? Betapapun, pada kaum ini ada akhlak, ada kemuliaan, dan keutamaan, yang tidak ada pada Abu Ja’far.”
Setelah itu Jiwa Suci pun dieksekusi. Hanya, memang sejarah kemudian mencatat bahwa Al-Manshur merupakan khalifah yang paling gemilang dalam memajukan peradaban Islam, setidaknya sebagaimana yang dicatat Marshal Hodgson, penulis The Islamic Venture yang terkenal itu

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda