Cakrawala

Mewaspadai Sifat Sombong di Dua Dunia

Ditulis oleh Musa Maliki

Problem radikalisme (radikal dalam berkata-kata dan bertindak) mengkhawatirkan bangsa Indonesia, khususnya generasi kekinian. Generasi kekinian terdiri dari generasi tua yang lahir di awal Suharto sampai generasi millennial. Keduanya ada gap dan diskontinuitas realitas, yakni jaman Suharto sampai jaman kapitalisme lanjut. Kapitalisme lanjut sederhananya secara prisipil adalah tingginya intensitas pemakaian teknologi internet.

Dua Dunia

Kondisi kapitalisme lanjut, semua generasi hampir hidup di dunia datar (the world is flat) (Friedman, 2005), yakni hampir jam kesehariannya hidup (berada) di layar datar (HP, komputer, dan sejenisnya) atau dunia virtual. Menurut sosiolog besar Inggris, Anthony Giddens (1999), dunia semacam ini sudah mulai tak terkendali. Dalam konteks ini definisi modern yang dipahami sebagai mengendalikan/mengontrol dunia justru meleset. Ketika Giddens (1990) menggambarkan modernitas itu selalu mempunyai konsekwensi-konsekwensi buruk yang harus ditanggulangi, dia saat itu melihat indikasi bahwa arah dunia memang semakin sulit dikendalikan. Dalam konteks ini, modernitas telah berakhir.

Alam berakhirnya modernitas, dunia nyata pun terhisap oleh dunia virtual. Realitas nyata kini justru bersumber dari realitas virtual atau tumpeng tindih. Katakanlah kasus hoax yang ada di mana mana atau perang cyber. Banyak kasus hoax tentang cara memahami agama seperti istilah kafir dan khilafah yang distortif atau yang lainnya. Hoax-hoax itu seolah-olah sudah menjadi kebenaran sesungguhnya. Hal semacam itu sulit lagi dihapus di dua dunia.

Semua itu tumpeng tindih dua dunia yang menciptakan dunia nyata bergejolak (sosial dan budaya) bahkan menaikkan tensi tindak kekerasan (kriminal). Kini dunia nyata semakin tertantang proses interaksi sosial dan budayanya. Interaksi semacam itu semakin terkooptasi dunia virtual.

Daya serap atas dunia virtual sifatnya searah dan sangat ditentukan algoritma. Jika kita mempunyai preferensi moderat, maka kita semakin moderat. Jika preferensi kita radikal, maka kita akan semakin radikal. Realitas dunia virtual justru melayani apa yang kita mau, bukan apa yang kita butuhkan.

Apa yang ditawarkan dari realitas dunia virtual adalah hasrat kesenangan dan keenakan (sense of desire, pleasure, dan joy). Hal ini berbeda dengan realitas nyata yang tidak hanya itu saja tetapi lebih beragam seperti ada perasaan dan suasana memiliki, sakit baik secara mental maupun secara emosional, tragedi, kesepian, kesendirian, ditinggal oleh, tak berdaya (sense of belonging, sense of pain, sense of tragedy, sense of nobody, sense of hopeless), spiritualisme, perasaan/suasana berkawan secara langsung (fisik), menikmati merasakan suasana dialog dengan ekspresi wajah, dan bahasa tubuh yang jelas, serta energi kehidupannya. Singkatnya, dunia virtual dan dunia nyata banyak perbedaanya dan kini dunia nyata lama kelamaan terhisap dan terkooptasi oleh dunia virtual.

Partisi realitas

Realitas dunia virtual dan dunia nyata yang sudah semakin kompleks tanpa sekat. Pilihan realitas seseorang yang berdasar pada kemauan seseorang demi memuaskan hasrat dirinya menciptakan partisi realitas. Setiap masyarakat Indonesia memiliki partisi realitasnya masing-masing.

Problemnya, dengan hasrat pemuasaan diri yang mudah dilayani oleh dunia virtual dibawa ke dunia nyata, maka yang terjadi adalah pemaksaan kehendak dengan logika benar menurut versinya. Perdebatan agama yang berujung pada pemaksaan kebenaran berawal dari hasrat logis interaksi intensionalnya dengan dunia virtual, khususnya generasi tua yang kurang melek internet (khususnya, Whatsapp).

Benar menurut dirinya memang benar atas keyakinannya, dan hal itu memang suatu kebenaran yang tak bisa dipungkiri karena realitasnya memang terpenuhi atas kebenaran itu. Hanya saja realitasnya cuma pada partisi versinya sehingga interaksi dengan yang lainnya di dunia nyata dan proses berbagi di ruang sosial langsung sulit terjadi. Partisi realitas diri seseorang yang semakin kuat menciptakan kondisi gagap sosial dan budaya seseorang. Hal ini berujung pada kondisi konfliktual antar individu dalam masyarakat.

Misalnya, kasus keributan antar keluarga atau teman gara-gara beda pilihan presiden; atau beda pilihan tentang sholat di jalan atau tidak; atau pilihan demonstrasi atas nama agama atau menunggangi agama; atau munculnya kasus terorisme yang sekarang bersumber bukan dari inetraksi sosial, tetapi karena adanya informasi intensif media sosial dan sejenisnya.

Isu radikalisme pun juga disebabkan oleh bangunan partisi realitas hidupnya. Banyak preferensi hidupnya memang dilayani oleh dunia virtual sehingga terbentuklah partisi realitas dunia kebenarannya. Sayangnya kebenarannya bersumber dari hasrat kebenaran dari dunia virtual dan ketika hadir di dunia nyata dengan realitas yang berbeda dari imajinasinya, maka seorang tersebut justru kaget, stress, dan frustasi. Hal inilah yang membuat orang berkonflik dan bertindak ekstrim atau terlibat terorisme.

Dari dua dunia dan partisi realitas yang terbangun dalam diri seseorang, maka seseorang bisa jadi semakin narsis, yakni bangga terhadap kebenaran yang dimilikinya. Lalu kebenarannya menjadi sesuatu yang harus dipopulerkan di publik tentunya melalui media sosial. Hal itu tentu sah-sah saja, tetapi cara beragama semacam ini perlu disadari bahwa ada hal yang lebih mendasar, yakni proses spiritualisme ke dalam dirinya dan proses keterbukaan yang mau berbagi pengetahuan dengan yang lain.

Perasaan bangga atas bangunan partisi realitasnya bisa jadi membuatnya jumawa (takabur) yang tentunya terjebak pada sifat sombong. Hal-hal semacam inilah yang disebut narsisme sesungguhnya atau terdogma oleh dirinya sendiri. Hal-hal semacam inilah yang dalam Islam merupakan kebalikan dari cara berislam itu sendiri.

Sifat sombong inilah yang membuat setan tidak tunduk kepada manusia. Walaupun bisa jadi sifat setan ini suatu konsistensi dirinya yang hanya mau tunduk pada Allah. Namun konteks ini merupakan hal lain yang perlu perenungan lebih lanjut.

Hikmah utama dari sifat sombong ini adalah, dunia mau berubah seperti apapun juga atau berbentuk apapun juga, tetapi sifat sombong ini selalu harus diwaspadai oleh manusia karena musuh utama manusia adalah dirinya sendiri (yang secara alamiah mempunyai sombong). Hal yang sangat mengkhawatirkan dari adanya partisi realitas seseorang adalah diri seseorang bisa jadi tidak tahu bahwa dirinya sombong sampai kesombongannya menggerogoti kepasrahannya kepada Tuhan. Dalam konteks ini bisa jadi seseorang lalu berkata: “Alhamdulillah sudah banyak orang non-Islam diislamkan di tanganku”.

Musa Maliki adalah Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta; Kandidat Doktoral Ilmu Sosial dan Humaniora, Charles Darwin University Australia; Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan

Tentang Penulis

Musa Maliki

Tinggalkan Komentar Anda