Mutiara

Kiai, Gus, dan Ilmu Laduni

Suasana di pesantren (foto : Tebuireng online)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Kata Gus Dur, betapapun  demokratisnya susunan kepemimpinan di pesantren,  terdapat jarak tak terjembatani antara kiai dan keluarganya di satu pihak dan para asatiz  serta santri di pihak lain. Kiai bukan yang utama di antara yang setara melainkan pemilik tunggal.  Seperti  bangsawan feodal yang biasa dikenal dengan nama kanjeng di Pulau Jawa?

Di Jawa umumnya keluarga terdekat kiai (istri, anak, cucu, menantu) memiliki prestise yang tinggi dan sering menikmati berbagai keistimewaan. Istri dan putri-putrinya yang sudah menikah disebut Nyai. Sedangkan para putra, cucu dan menantu laki-laki mendapat julukan Gus, yang berasal dari kata “si Bagus”. Demikianlah, misalnya kita mengenal misalnya nama-nama seperti Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Gus Mus (KH Mustofa Bisri), Gus Solah (KH Shalahuddin Wahid) , Gus Miek (KH Hamim Djazuli),  dan seterusnya.

Untuk memperkuat public image bahwa seorang Gus dapat mewarisi beberapa atribut spiritual dari ayahnya, para kiai  cenderung memberikan legitimasi anak-anaknya sebagai para penggantinya yang sah. Seorang kiai memang selalu mengharap gus-gusnya memimpin pesantren kelak. Benar, pesantren adalah lembaga yang banyak bergelut dengan kepentingan publik. Tapi secara tradisi ia dikembangkan dan dimiliki para kiai.

Abdurrahman Wahid, dalam tulisannya “Pesantren sebagai Subkultur” (Pesantren dan Pembaharuan, Dawam Rahardjo, ed), menyatakan, betapa demokratisnya pun susunan kepemimpinan di pesantren,  terdapat jarak tak terjembatani antara kiai dan keluarganya di satu pihak dan para asatiz (guru-guru) dan santri di pihak lain. Kiai bukan primus interpares (“yang utama di antara yang setara”, seperti di lingkungan Muhammadiyah: pen) melainkan pemilik tunggal   (directeur eigenaar). Kedudukannya yang ganda, sebagai pengasuh sekaligus pemilik, kata Gus Dur, secara kulturil sama dengan kedudukan bangsawan feodal yang biasa dikenal dengan nama kanjeng di Pulau Jawa.

Sebagai orang yang dianggap memiliki “keistimewaan”, kebanyakan Gus dipercayai punya ilmu laduni. Yakni kemampuann “dari pihak Tuhan” (arti laduni), untuk mengusai berbagai ilmu tanpa mempelajarinya. Atau pengetehuan yang datang dengan sendirinya dari Yang Maha Benar, atau pengetahuan yang datang langsung dari ketinggian jiwa sebgai buah dari ilham. Kata Zamakhsyari, Tuhan memberkahi para Gus dengan pengetahuan Islam sejak mereka dilahirkan. Mereka memang lahir dengan takdir menjadi para ilmuwan agama dan pemimpin pesantren.

Zamakhsyari Dhofier  (Tradisi Pesantren, 1982) mencontohkan Kiai Zainuddin, pengasuh Pesantren Al-Huda di Tarogong, Garut, Jawa Barat. Ayahnya Kiai Ilyas, menyekolahkannya di SMP Garut (1954-1957). Ketika Kiai Ilyas wafat pada 1958, Zainuddin baru 17 tahun. Tapi sebagai anak tertua ia mengambil alih kepemimpinan Ayah. Ajaib, lulusan SLTP ini mampu mengajarkan kitab-kitab tinggi, katanya. Di kalangan tasawuf, hanya para wali yang punya ilmu yang datang dari “atas” ini. Nah. Berbagai cerita di kalangan nahdiyin juga menyebut Gus Dur dikaruniai ilmu laduni itu tadi. Bahkan secara berkelar,  dulu KH Mustofa Bisri alias Gus Mus pernah mengatakan bahwa Gus Dur dikirim Allah untuk menjadi presiden.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda