Mutiara

Syekh Wali Lanang dan Raja Ulama

Makam Syekh Maulana Ishaq atau Syekh Wali Lanang yang berada di Lamongan Jawa Timur (foto : nu.or.id)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Negeri yang tidak hanya cukup sandang pangan, makmur, dan aman tenteram, tetapi juga dikaruniai iman, menjalankan syariat Nabi, mendaras Quran, dan memakmurkan masjid. Di mana?

Arkian, pada masa terakhir  Majapahit, sekitar abad ke-16, seorang maulana dari Jedah tiba di Ampel Denta, Surabaya, tempat kediaman Sunan Ampel. Dialah  Syekh Wali Lanang. Dari Ampel ia meneruskan perjalanan ke tenggara dan berhenti di sebuah desa Purwasata di daerah Blambangan, Banyuwangi.

Waktu itu Raja Blambangan sedang murung: anak gadis satu-satunya sakit, tak mempan obat. Patih Semboja melapor bahwa di wilayah kerajaan ada seorang asing, mungkin bisa dimintai tolong.  Sang Prabu setuju, dan Syekh Wali Lanang pun tak keberatan. Sembuh. Dan serta merta Syekh Wali Lanang pun diangkat menjadi menantu oleh sang Raja.

Agak lama kemudian, Wali Lanang mengajak mertuanya menjadi muslim. Ditolak. Syekh Wali, yang kecewa, minggat ke Malaka, sementara sang istri hamil. Lalu negeri dirundung malang: penyakit berangkit, banyak rakyat mati. Raja murka dan Patih Semboja dicopot. Lantaran malu, Semboja lari, lalu mengabdi kepada Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit, dan diposkan di Giri.

Dalam pada itu sang putri melahirkan. Tapi Raja yang masih murka menitahkan oroknya dimasukkan ke kandaga dan dilarung ke laut. Di laut, kandaga diambil nakhoda yang sedang berlayar, kemudian diserahkan kepada Nyi Semboja. Janda kaya raya, yang baru ditinggal suaminya ini, kebetulan tidak punya anak. Dialah yang memberi nama bayi itu Santri Giri.

Dalam Serat Centini  (1742),  disebutkan bahwa  Nyi Semboja alias Nyai Randa meminta kepada Santri Giri, 12 tahun, berangkat ke Ampel, Surabaya, belajar agama kepada Sunan Ampel. Bu Nyai mewejang putranya agar ia mengikuti pengajaran sepenuh hati dan berlaku santun. Maka di sana Giri menjadi sahabat Santri Bonang, putra sang guru. Setelah cukup pengetahuan mereka berangkat ke Mekah, dengan mampir di Malaka.

Di tempat itu mereka bertemu dengan Syekh Wali  Lanang, yang mengaku ayah Giri, dan belajar kepadanya setahun. Entah kenapa, Syekh Wali Lanang menyarankan mereka kembali  ke Jawa. Santi Giri diberi sebuah sisir dan jubah serta diberi gelar Prabu Nyakrakusuma.

Setiba di Jawa, mereka berpikir: pastilah Syekh Wali Lanang sahabat Sunan Ampel. Karena itu keduanya pun menceritakan lakon mereka.  Kata Sunan Ampel: “Pulanglah engkau ke Giri anakku. Ketahuilah ibumu sedang sakit menjelang ajal, tinggal menanti kedatanganmu. Makamkanlah ia di Giri, dekat makam ayahmu. Dan kau kuberi izin bertegak di sana sebagai Sunan Giri, bergelar Prabu Satmata. Sepeninggalku, engkaulah yang berkuasa menjadi wali agung, dihormati di seluruh Jawa… Kau akan terkenal sebagai raja ulama. Tapi janganlah salah terima, engkau bukan raja atas suatu negeri. Kiranya kau telah memahami.”

Nyai Randa menyambut Giri dengan suka cita. Lalu dia meninggal setelah disempurnakan (Islamnya). Sebelumnya dia berwasiat agar hartanya disedekahkan kepada fakir miskin dan untuknya dibelikan “amanat haji”.

Dengan modal harta ibunya, Sunan Giri melaksanakan amanat gurunya menyebarkan Islam. Maka Giri pun, yang memang sudah ramai sebagai daerah perdagangan, bukan saja menjadi samya cekap sandang pangan, tentrem ciptane raharja (cukup sandang pangan, makmur, dan aman tenteram), tetapi juga samya keparingan iman, nglampahi sarengat Nabi, ngibadah andarus Quran, kathah kang iyasa masjid (dikaruniai iman, menjalankan syariat Nabi, mendaras Quran, dan memakmurkan masjid).

Bisakah negeri semacam itu kini diwujudkan, bahkan dalam sebuah wilayah administratif seperti sebuah kota kecil? Mungkin jawabannya, antara lain  terpulang pada penguasa negeri dan para ulama atau kaum cerdik cendekianya

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda