Cakrawala

Ziarah Diri

Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Tak ada musuh dari luar, apapun bentuknya, yang mampu merusak diri seseorang melebihi dirinya sendiri. Bahkan, dari sudut pandang tertentu, hampir bisa dikatakan musuh dari luar itu tak pernah ada secara nyata. Iblis sekalipun, tak punya daya rusak terhadap manusia, kecuali dengan memanfaatkan fakultas-fakultas nafsu yang dimiliki manusia itu sendiri.     

Dan penyakit manusia yang pertama, yang paling berbahaya dan merupakan sumber segala penyakit, adalah kegemarannya untuk berbohong pada diri sendiri.  Masalahnya, kebanyakan manusia tidak menyadarinya sebagai kebohongan; bahkan sebaliknya, mereka justru secara sistematis sibuk mengembangkan imajinasi dan argumen untuk secara artifisial melembagakan kebohongan-kebohongan ini sebagai kebenaran; dan celakanya, lantas meyakininya.  

Betapa banyak orang yang merasa yakin bahwa dia sedang membangun padahal kenyataannya menghancurkan.  Merasa memperbaiki padahal merusak. Merasa memberi padahal mencuri. Merasa mengobati padahal meracuni. Merasa menyelamatkan padahal menjerumuskan. Merasa memperjuangkan, padahal memanipulasi. Dan seterusnya.  

Kecuali dirinya sendiri, pada dasarnya memang tak pernah ada sesuatupun yang bisa menghalangi manusia untuk memandang wujud kebenaran. Ibarat orang yang mengurung diri dalam tembok yang rapat, dan kemudian membohongi dirinya sendiri bahwa matahari tak pernah ada. Manusia memenjarakan dirinya dalam kapsul-kapsul; bukan untuk menutupi wujud kebenaran tapi menutupi dirinya sendiri dari wujud kebenaran. Wujud kebenaran, yang merupakan penampakan wajah ilahi, begitu nyata dan telanjang; mustahil ada sesuatupun yang bisa menutupi.

Di sisi lain, wujud kebenaran ini bukan hanya menggejala sebagai wajah di luar diri, tapi juga merupakan wajah di dalam diri. Sehingga, dengan bersembunyi di dalam kapsul penjara ciptaannya, manusia tidak saja melarikan diri dari wujud kebenaran di luar dirinya, tapi sekaligus justru sedang melarikan diri dari wujud kebenaran di dalam dirinya sendiri. Akhirnya ia hanya hidup dalam kenyataan semu.

Inilah penjara pertama yang dibangun manusia, penjara yang mengurung dan mencegah mereka bersentuhan dengan wujud kebenaran. Dan, penjara semacam inilah yang oleh peradaban modern justru dipelihara, dikembangkan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk meneguhkan kepentingan-kepentingannya sendiri.

Kenyataan-kenyataan palsu, artifisial; dikemas, disuguhkan dan menjadi konsumsi kita setiap saat. Kita pun akhirnya hidup dalam apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai hiper-realitas, dan mulai kehilangan kontak langsung dengan realitas.

Kita kesulitan membaca, apalagi memahami realitas, karena rujukan yang tersedia selalu realitas yang sudah direduksi, diedit, diformat untuk mewadahi, meminjam istilah Derrida, ‘metafisika kehadiran’ kepentingan-kepentingan ekonomi-politik besar yang mengungkung kita.

Disini kita berbicara tentang pentingnya kejujuran. Tanpa kejujuran mustahil manusia mampu membongkar penjara ciptaannya; untuk bersentuhan dengan wujud kebenaran, baik yang ada didalam maupun diluar diri.

Dengan kejujuranlah orang bisa melihat kerapuhan-kelemahan-kekurangan yang niscaya dimilikinya.  Masalahnya, tak ada yang bisa menyentuh wujud kebenaran, kecuali orang yang oleh Qur’an disebut muthaharun.

Muthaharun adalah orang yang terus-menerus mensucikan diri. Orang tak mungkin mencapai kualitas ini, kecuali dengan mengandaikan adanya kekotoran yang juga niscaya secara terus-menerus menempel pada dirinya. Selama orang melihat dirinya bersih dan benar, tak mungkin ia merasa perlu mensucikan diri. Hanya orang yang dengan kualifikasi inilah yang tidak melarikan diri dari wujud kebenaran dan bersembunyi di dalam kapsul penjaranya sendiri.

Ini semua rasanya menjadi penting untuk direnungkan kembali, lebih-lebih di tengah situasi bangsa kita yang serba compang-camping seperti sekarang ini. Ada banyak masalah bangsa ini yang harus diselesaikan dengan kembali pada nurani dan kejujuran. Kalau tidak, kita akan berputar-putar hidup dalam realitas palsu yang selalu kita bayangkan sebagai kesempurnaan, dan hasilnya cuma membuat kita terkaget-kaget bila sesekali harus kembali bersinggungan dengan realitas yang membuat kita kesakitan. Tapi bisakah kita menziarahi diri sendiri untuk menengok nurani, sementara segenap arah yang dipelihara dan dikembangkan peradaban sepertinya selalu menjegal langkah dan merampok mata kita untuk melihatnya?

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda