Cakrawala

Watak yang Rapuh dan Mudah Goyah

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kebobrokan yang menimpa negeri kita sekarang  muncul lantaran absennya watak yang kokoh pada bangsa kita. Akibat  pendidikan yang lebih mengutamakan aspek Pengetahuan dan keterampilan?

Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa mencari ilmu (thalabul ‘ilmi) merupakan keharusan bagi setiap Muslim, yang mesti dijalani sepanjang hayat yakni sejak buaian sampai tepi kuburan. Karena itu, kegiatan meningkatkan pengetahuan ini merupakan ibadah permanen. Dengan kata lain, mencari ilmu tidak semata didorong oleh kebutuhan praktis, melainkan juga dilandasi alasan teologis.

Thalabul ‘ilmi atau kegiatan mencari ilmu, tidak syak lagi, merupakan tindakan religius serta bersifat etis dan, karena itu, sangat menyenangkan Tuhan. Oleh karena itu  kegiatan menuntut ilmu menuntut etos tertentu. Al-Juwayni (wafat 478 H./1085 M), misalnya, menyebut kecerdasan, ketekunan, sabar dalam kemelaratan, petunjuk guru, bekal selama berkelana di negeri asing, dan keterikatan pada waktu yang lama, sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang akan menuntut ilmu. Jadi, mencari ilmu itu tidak semudah  orang berangkat ke sekolah. Perlu ditegaskan, bahwa kegiatan mencari ilmu , bukan sekadar memperkaya gudang pengetahuan peserta didik. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana mengembangkan kemampuan bernalar atau keterampilan berpikir.

Kita ketahui, pengetahuanlah terutama yang diajarkan di sekolah-sekolah, dari tingkat dasar sampai tingkat yang paling tingi. Sekolah bahkan sudah identik dengan tempat kegiatan orang untuk mengembangkan pengetahuan. Dalam masyarakat modern, kontribusi  keluarga pada aspek penguasaan pengetahuan dan keterampilan memang semakin mengecil dibandingkan dengan peran sekolah. Padahal di dunia pendidikan, selain pengetahuan atau kognisi terdapat aspek lain yang harus dikembangkan pada peserta didik. Yakni afeksi dan kognisi.

Yang pertama menekankan aspek penerimaan informasi. Dari sini peserta didik diharapkan mampu menjelaskan kembali informasi yang telah diserapnya. Kemampuan kognisi berguna untuk mengombinasikan cara-cara baru dan mensintesikan ide-ide baru. Aspek-aspek yang  dikembangkan pada ranah kognisi adalah kemampuan mengetahui, mengingat, memahami, menganalisis, dan mengevaluasi. Ranah kedua menekankan aspek emosi, sikap, apresiasi, nilai, dan tingkat kemampuan menerima atau menolak sesuatu. Sedangkan ranah ketiga, yang juga disebut aspek psikomotorik, menetikberatkan pada keterampilan teknis, memanipulasi gerak, merangkai berbagai gerak, dan meniru gerak.

Pembagian tujuan pendidikan ke dalam tiga ranah ini lazim disebut taksonomi Bloom. Dikatakan demikian, karena Benjamin S. Bloom-lah yang pertama kali menyusun tujuan pendidikan berdasarkan tiga domain tersebut. Apa pun misi dan visi yang dibuat oleh setiap satuan pendidikan, sebenarnya tetap bertumpu pada upaya mengembangkan sisi kognitif, afektif dan psikomotorik,  atau yang disebut “3 H” (head,  heart, hand). Yakni peningkatan pengetahuan (head), pengembangan sikap (heart), dan penguasaan keterampilan (hand). Ki Hajar Dewantara menyebutnya cipta, rasa, dan karsa. Belakangan ada juga yang merumuskannya dengan istilah “imtak dan iptek” (akronim dari iman dan takwa dan ilmu pengetahuan dan teknologi), selain iman, ilmu, dan amal.  Idealnya pendidikan harus mampu mengembangkan prinsip keseimbangan perkembangan “3 H” tersebut.

Jadi, selain mendidik kepala, yang membuahkan kecerdasan intelektual atau penguasaan pengetahuan, pendidikan juga dimaksudkan untuk mengasah atau memahirkan keterampilan. Dari sini peserta didik diharapkan memiliki keterampilan teknik atau kecakapan hidup (life skills). Di zaman sekarang, salah satu keterampilan pokok yang mesti dikuasai oleh peserta didik adalah kemampuan di bidang teknlologi dan informasi

Bagaimana dengan  mendidik kalbu (heart)?. Pendidikan kalbu ini akan mengantarkan seseorang memasuki kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Jika pendidikan yang diarahkan kepada penguasaan pengetahuan lebih bercorak pengajaran, sedangkan upaya pemahiran keterampilan lebih bersifat pada pelatihan, maka pendidikan kalbu lebih mengarah pada pembimbingan. Melalui pembimbingan itu peserta didik diharapkan memiliki kepribadian yang mantap (jujur, disiplin, bertanggung jawab, mandiri) dan bertingkah laku berdasarkan prinsip-prinsip moral. Sudah saatnya lembaga-lembaga pendidikan di Tanah Air memberi bobot yang tinggi pada aspek mental kepribadian atau pembangunan jiwa. Sering dikatakan bahwa  semua kebobrokan yang menimpa negeri kita sekarang, yang antara lain ditandai praktek korupsi yang berlangsung secara sistemik dan dalam skala massif, muncul lantaran absennya watak yang kokoh pada bangsa kita. Watak bangsa rapuh dan watak manusia Indonesia mudah goyah. Wallahu ‘alam.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda