Bintang Zaman Mahfudz Al Tirmasi

Mahfudz At-Tirmasi Ulama Hadis Terkemuka dari Tremas

Pondok pesantren Tremas Pacitan, asal muasal Syekh Mahfudz At-Tirmasi
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Mahfudz At-Tirmasi, kelahiran Tremas, Jawa Timur, menjalani karier intelektualnya di Tanah Suci. Di Mekah pula, pengarang produktif ini tutup usia. Meskipun tidak pernah mengajar di pesantren yang didirikan kakeknya, Pesantren Tremas justru dikenal luas berkat reputasi keilmuan Syekh Mahfudz. Apa kehebatannya dalam mengarang kitab?

Syekh Muhammad Yasin bin Muhamad Isa Al-Fadani, ulama Mekah asal Padang, Sumatera Barat, yang berpengaruh pada tahun 1970-an, menjulukinya al-alamah, (yang sangat alim atau terpelajar),  al-muhadits (ahli hadis),  al-musnid, (ahli periwayatan hadis atau sanad)  al- faqih (ahli fikih atau hukum Islam), al-ushuli (ahli kaidah-kaidah atau teori hukum/fikih)  dan al-muqri (ahli baca Alquran).

Gelar atau laqab yang demikian banyak itu diberikan kepadaMuhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmasi, yang lebih populer disebut Syekh Mahfudz Tremas. Seorang  ulama Jawi atawa Nusantara yang bermukim di Mekah dan menjadi pengajar di Masjidil Haram, serta memiliki pengaruh yang besar pada zamannya.  

Banyaknya julukan yang diberikan Syekh Yasin Padang kepada Syekh Mahfudz Tremas cukup wajar karena Mahfudz  adalah ulama yang produktif menulis dlam multibidang, mulai dari hadis sampai usul fikih. Lahir tahun 1258 H/1868 M di Tremas, Pacitan, Jawa Timur, ia  menghabiskan sebagian besar hidupnya di Mekah, tempat para kiai Jawa yang paling berpengaruh pada awal abad ke-20 menjadi murid-muridnya. Ia dinilai amat berjasa dalam memperluas cakupan ilmu-ilmu yang dipelajari di pesantren-pesantren di Jawa, termasuk hadis dan usul fikih.

Meskipun tidak pernah mengajar di Pesantren Tremas, Mahfudz ikut mengangkat nama harum pondok yang didirikan kakeknya dari pihak ayah itu. Abdul Manan Dipomenggolo, sang kakek, mendirikan Pesantren Tremas pada 1830. Sampai sekarang pesantren tua yang sering dihubung-hungkan dengan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono ini masih eksis, dan bisa diakses lewat dunia maya. Sebelum mendirikan pesantrennya, Abdul Mannan belajar di Pesantren Tegalsari asuhan Kiai Kasan Besari (Hasan Basri), yang salah satu muridnya adalah pujangga Ronggowarsito. Setelah itu dia berangkat ke Timur Tengah dan belajar pada Sayyid Muhammad al-Shatta’ di Mekah dan pada Ibrahim Al-Bajuri, syeikh Al-Azhar. Setelah Abdul Mannan wafat pada 1862, putranya Abdullah menggantikan kepemimpinannya di Pesantren Tremas.

Muhammad Mahfudz adalah putra tertua Abdullah. Dia memperoleh pelajaran dasar agamanya dari sang ayah. Beranjak remaja, dia dikirim  ke Mekah. Dia belajar pada seorang ulama penganut mazhab Syafi’i yaitu Sayyid Bakri atau Abu Bakr bin Muhammad al-Shatta’ ad-Dimyati, putra guru kakeknya di Mekah. Sepanjang hayatnya, Mahfudz memang dekat dengan keluarga Shatta’. Keluarga terpelajar ini dari Dimyat, Mesir. Mahfudz bahkan diangkat menjadi anak, dan dikubur di tengah-tengah keluarga Shatta’. Mahfudz juga belajar pada kolega dan sekaligus rival Sayyid Bakri, yaitu Muhammad Sa`id Ba-Basil, yang menggantikan Ahmad bin Zaini Dahlan sebagai mufti Mekah dari mazhab Syafi’i. Dia juga belajar pada sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Mekah, seperti Syekh Nawawi Banten (Nawawi bin `Umar al-Jawi al-Bantani), `Abdul Ghani al-Bimawi (asal Bima)  dan Muhammad Zainuddin al-Sumbawi (asal Sumbawa), semuanya mengajar di Masjidil Haram.

Murid-murid Syekh Mahfudz

Mahfudz tidak kembali ke Nusantara, memilih berkarier di Mekah, tempat dia menjadi guru yang ulung. Sewaktu Abdullah wafat pada tahun 1894, adiknya, Dimyati, yang menjadi kiai di Tremas. Anak-anak Abdullah lainnya adalah KH  Dahlan yang juga pernah belajar di Mekah. Sekembali dari Tanah Suci dia diambil menantu oleh Kiai Shaleh Darat Semarang; KH Muhammad Bakri yang ahli qira’ah, dan KH Abdur Razaq, ahli tarekat dan mursyid yang punya murid di mana-mana.

Kiai Dimyati memang punya andil besar dalam memajukan pesantren Tremas. Tapi, berkat reputasi Mahfudz-lah Tremas menjadi dikenal lebih luas, meskipun, itu tadi, ia  tidak pernah mengajar di sana. Di antara murid-muridnya yang berasal dari Indonesia adalah KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri dan KH Abdul Wahhab Hasbullah, yang kelak mendirikan Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita ketahui, ketiga kiai ini merupakan murid Syekh MahfudZ yang paling terkenal dan diakui berkat kegiatan politik mereka di Tanah Air.

Dia juga mengajar sejumlah murid, dan beberapa di antaranya menjadi ulama yang berpengaruh, sebut misalnya `Ali al-Banjari, penduduk Mekah asal Kalimantan Selatan, Muhammad Baqir al-Jugjawi, wong JogJa yang juga bermukim di Mekah, KH  Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri pesantren Lasem, Jawa Tengah, `Abdul Muhit dari Panji Sidarjo, pesantren penting lainnya dekat near Surabaya. Memang banyak di antara murid Syekh Mahfudz yang mendirikan pesantren. Kiai Hasyim sendiri adalah pendiri Pesantren Tebuireng, dan kiai pertama yang mengjarkan kumpulan hadis Bukhari. Sedangkan Kiai Bisri, menantunya, pendiri pesantren Tambakberas, yang juga pernah menjadi Rais ‘Aam PB NU. Kedua kiai besar ini, kita ketahui, adalah engkongnya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, mantan presiden kita itu.

Penngarang Produktif

Muhammad At-Tirmasi boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, dan beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang. Salah satu bukunya yang dicetak ulang dan digunakan di pesantren sampai sekarang adalah Manhaj dhawi al-Nazar, salah satu karya tingkat lanjut mengenai tata bahsa Arab. Tapi yang paling terkenal adalah Mauhibah Dzi al-Fadl . Kitab fikih empat jilid ini merupakan syarah atau komentar atas karya Abdullah Ba Fadhl Al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah. Kitab ini boleh dibilang jarang diajarkan di pesantren, lebih banyak digunakan oleh kiai senior sebagai rujukan dan sering dikutip sebagai salah satu sumber yang otoritatif dalam penyusunan fatwa oleh para ulama di Jawa.

Dua kitabnya di bidang ushul adalah ”Nailul Ma’mul”, syarah atas karya Zakariyya Anshari Lubb al-Ushul  dan syarahnya GhayaH al-Wushul, dan Is’af al Muthali, syarah atas berbagai versi karya Subki Jam’ al-Jawami. Sebuah kitab lainnya mengenai fikih yaitu Takmilat al-Minhaj al-Qawim, berupa catatan tambahan atas karya Ibn Hajar al-Haitami Al-Minhaj al-Qawim.

Mahfudz At-Tirmasi juga menaruh minat pada seni baca Al-Qur’an (qira’ah). Untuk itu pula, dia menulis kitab Al Fawaid at Tarmisiyah fi Asanid al- Qiraat al-Asy’ariyah”, Al- Budur al Munir fi qiraah al-Imam Ibnu Katsir, Tanwir ash Shadr fi Qiraah al Imam Abi ’Amr, Al-Fuad fi Qiraat al Imam Hamzah, Tamim al-Manafi fi Qiraat al-Imam Nafi’, dan Aniyah al- Thalabah bi Syarah Nadzam ath Tayyibah fi Qiraat al Asy’ariyah.

Selain itu, ada dua karya lainnya tentang bibliografi dan riwayat pengarangnya. Yakni Kifayah al-Mustafid,  mengenai jalur transmisi (sanad) dari para pengarang kitab-kitab klasik sampai guru-gurunya, dan  Al-Saqayah al-Mardhiyyah,  kajian atas karya-karya fikih mazhab Syafi’i dan riwayat para pengarangnya.

Diceritakan dalam kitab Kifayah al-Mustafid  bahwa Syekh Mahfudz selain masyhur sebagai seorang alim yang khusyuk  dalam ibadah, tawadlu’ dalam tingkah laku, ridha dan sabar didalam sikap, juga sebagai seorang ahli dalam Hadis Bukhari. Ia  diakui sebagai seorang isnad (mata rantai) yang sah dalam pengajaran Shahih Bukhari. Ijasah ini berasal langsung dari Imam Bukhari itu sendiri yang ditulis sekitar 1000 tahun yang lalu dan diserahkan secara berantai melalui 23 generasi ulama yang telah menguasai karya Shahih Bukhari, dan Syeikh Mahfudz a merupakan mata rantai yang terakhir pada waktu itu.

Dalam menulis, konon Syekh Mahfudz ibarat sungai yang airnya terus mengalir tanpa henti. Gua Hira menjadi tempatnya mencari inspirasi. Dia biasa menghabiskan waktunya di gua tempat Nabi menerima wahyu-Nya yang pertama itu. Kecepatan Mahfudz dalam menulis kitab, juga boleh dibilang istimewa. Kabarnya, kitab  Manhaj Dhawi al-Nazhar  ia  selesaikan dalam 4 bulan 14 hari. Mahfudz mengatakan bahwa kitab ini ditulis ketika berada di Mina dan Arafat.

Yang menarik, kitab-kitab karangan Syeikh Mahfudz tidak hanya dipergunakan oleh hampir semua pondok pesantren di Indonesia, tapi konon banyak pula yang dipakai sebagai literatur wajib pada beberapa perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti di Marokko, Arab Saudi, Iraq dan negara-negara lainnya. Bahkan sampai sekarang di antara kitab-kitabnya masih ada yang dipakai dalam pengajian di Masjidil Haram.  

Muhammad Mahfudz At-Tirmasi wafat pada hari Rabu bulan Rajab tahun 1338 H./1920 M

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda